Para Orang Tua di Timur Tengah Tak Sabar Joe Biden Dilantik
Selasa, 19 Januari 2021 - 15:02 WIB
loading...
A
A
A
Dia lahir di Amerika Serikat setelah orang tuanya pergi ke sana untuk belajar dengan beasiswa dari pemerintah Libya ketika mereka masih muda.
Baca juga: AS Terancam Perang Saudara Jelang Pelantikan Joe Biden
"Saya merindukan Amerika," kata Mariam di Tripoli. "Kami memiliki kenangan yang sangat indah dan teman-teman lama dari tahun-tahun kuliah kami yang kami lihat setiap kali kami kembali," tuturnya.
Di Iran, seorang pensiunan bidan Mahnaz (62) menceritakan bagaimana dia tidak diizinkan pada 2018 berada di samping tempat tidur putrinya, Neda, ketika dia melahirkan anak pertamanya di Los Angeles.
"Itu adalah cucu pertama saya. Saya telah menunggu untuk menjalani momen ini bersama putri saya. Betapa saya telah memimpikannya, dan membuat rencana," ungkapnya.
Dengan tidak adanya kedutaan besar AS di Teheran setelah kedua negara memutuskan hubungan diplomatik pada 1979, dia melakukan perjalanan ke negara tetangga Armenia, berharap bisa mendapatkan pengecualian dari larangan tersebut.
"Saya bahkan memberikan sepucuk surat yang ditulis oleh seorang psikolog Amerika yang mengatakan bahwa putri saya membutuhkan dukungan emosional," katanya.
Baca juga: Jelang Pelantikan Biden, Toko Senjata Seluruh AS Kewalahan Penuhi Permintaan
Namun meski ada janji dari seorang pegawai kedutaan yang mengerti akan keadaannya, permintaannya tetap ditolak.
Dia tidak bertemu cucunya, Kian, sampai sembilan bulan kemudian ketika putrinya kembali ke Teheran untuk berkunjung.
"Larangan ini telah mencabik-cabik begitu banyak keluarga," ujar Mahnaz.
"Orang yang memerintahkan ini bukanlah orang normal dan sama sekali tidak menghargai konsekuensi kemanusiaan dari keputusannya," katanya.
"Saya tidak sabar menunggu Biden datang dan membatalkan undang-undang ini," pungkasnya dengan antusias.
Baca juga: AS Terancam Perang Saudara Jelang Pelantikan Joe Biden
"Saya merindukan Amerika," kata Mariam di Tripoli. "Kami memiliki kenangan yang sangat indah dan teman-teman lama dari tahun-tahun kuliah kami yang kami lihat setiap kali kami kembali," tuturnya.
Di Iran, seorang pensiunan bidan Mahnaz (62) menceritakan bagaimana dia tidak diizinkan pada 2018 berada di samping tempat tidur putrinya, Neda, ketika dia melahirkan anak pertamanya di Los Angeles.
"Itu adalah cucu pertama saya. Saya telah menunggu untuk menjalani momen ini bersama putri saya. Betapa saya telah memimpikannya, dan membuat rencana," ungkapnya.
Dengan tidak adanya kedutaan besar AS di Teheran setelah kedua negara memutuskan hubungan diplomatik pada 1979, dia melakukan perjalanan ke negara tetangga Armenia, berharap bisa mendapatkan pengecualian dari larangan tersebut.
"Saya bahkan memberikan sepucuk surat yang ditulis oleh seorang psikolog Amerika yang mengatakan bahwa putri saya membutuhkan dukungan emosional," katanya.
Baca juga: Jelang Pelantikan Biden, Toko Senjata Seluruh AS Kewalahan Penuhi Permintaan
Namun meski ada janji dari seorang pegawai kedutaan yang mengerti akan keadaannya, permintaannya tetap ditolak.
Dia tidak bertemu cucunya, Kian, sampai sembilan bulan kemudian ketika putrinya kembali ke Teheran untuk berkunjung.
"Larangan ini telah mencabik-cabik begitu banyak keluarga," ujar Mahnaz.
"Orang yang memerintahkan ini bukanlah orang normal dan sama sekali tidak menghargai konsekuensi kemanusiaan dari keputusannya," katanya.
"Saya tidak sabar menunggu Biden datang dan membatalkan undang-undang ini," pungkasnya dengan antusias.
(ber)
Lihat Juga :