Para Orang Tua di Timur Tengah Tak Sabar Joe Biden Dilantik
Selasa, 19 Januari 2021 - 15:02 WIB
loading...
A
A
A
"Saya akan pergi ke negara mana pun untuk menyerahkan dokumen saya segera setelah mereka mulai menerima aplikasi," ujarnya.
Di bagian lain Damaskus, Lamees Jadeed yang berusia 79 tahun mengatakan dia juga berharap Biden akan menepati janjinya.
Baca juga: Pejabat Militer AS Takut Akan Serangan Orang Dalam saat Pelantikan Biden
"Sudah lebih dari empat tahun sejak terakhir kali saya melihat putri saya," katanya. "Aku takut mati sendiri tanpa melihatnya," imbuhnya.
"Saya mungkin lebih tidak sabar untuk Biden menjadi presiden daripada dirinya sendiri," cetusnya.
Putrinya Jadeed, Nawwar (38), melakukan perjalanan ke Amerika Serikat dengan beasiswa pada akhir 2015. Sejak saat itu, dia mengajukan permohonan suaka dan karenanya tidak dapat meninggalkan negara itu.
Jadeed mengatakan dia melakukan perjalanan sekali ke Lebanon pada 2018 untuk meminta visa di kedutaan AS di sana, tetapi ditolak.
Di tempat lain di Timur Tengah , orang tua lain juga menunggu dengan "napas tertahan".
Baca juga: Sinyal Perdamaian dari Biden, Tunjuk Arsitek Perjanjian Nuklir Jadi Wamenlu
Di ibu kota Libya, Tripoli, Mariam dan Abdelhadi Reda, keduanya berusia akhir tujuh puluhan, mengatakan mereka tidak sabar untuk melihat ketiga cucu mereka lagi.
Sejak pelarangan diberlakukan pada 2017, mereka berhasil bersatu kembali di Turki, dengan biaya besar karena tiket penerbangan ekstra dan tagihan hotel.
"Larangan bepergian ini sangat tidak adil dan sama sekali tidak dapat dibenarkan," kata Mariam, seorang pensiunan guru bahasa Inggris.
Putri mereka Elham (49), yang bekerja sebagai perawat, tinggal bersama keluarganya di Detroit, Michigan.
Di bagian lain Damaskus, Lamees Jadeed yang berusia 79 tahun mengatakan dia juga berharap Biden akan menepati janjinya.
Baca juga: Pejabat Militer AS Takut Akan Serangan Orang Dalam saat Pelantikan Biden
"Sudah lebih dari empat tahun sejak terakhir kali saya melihat putri saya," katanya. "Aku takut mati sendiri tanpa melihatnya," imbuhnya.
"Saya mungkin lebih tidak sabar untuk Biden menjadi presiden daripada dirinya sendiri," cetusnya.
Putrinya Jadeed, Nawwar (38), melakukan perjalanan ke Amerika Serikat dengan beasiswa pada akhir 2015. Sejak saat itu, dia mengajukan permohonan suaka dan karenanya tidak dapat meninggalkan negara itu.
Jadeed mengatakan dia melakukan perjalanan sekali ke Lebanon pada 2018 untuk meminta visa di kedutaan AS di sana, tetapi ditolak.
Di tempat lain di Timur Tengah , orang tua lain juga menunggu dengan "napas tertahan".
Baca juga: Sinyal Perdamaian dari Biden, Tunjuk Arsitek Perjanjian Nuklir Jadi Wamenlu
Di ibu kota Libya, Tripoli, Mariam dan Abdelhadi Reda, keduanya berusia akhir tujuh puluhan, mengatakan mereka tidak sabar untuk melihat ketiga cucu mereka lagi.
Sejak pelarangan diberlakukan pada 2017, mereka berhasil bersatu kembali di Turki, dengan biaya besar karena tiket penerbangan ekstra dan tagihan hotel.
"Larangan bepergian ini sangat tidak adil dan sama sekali tidak dapat dibenarkan," kata Mariam, seorang pensiunan guru bahasa Inggris.
Putri mereka Elham (49), yang bekerja sebagai perawat, tinggal bersama keluarganya di Detroit, Michigan.
Lihat Juga :