'Kepergian' Trump Bisa Ganggu Pembicaraan Damai Afghanistan

Selasa, 19 Januari 2021 - 02:30 WIB
loading...
Kepergian Trump Bisa...
Ilustrasi
A A A
KABUL - Sudah terguncang oleh gejolak baru kekerasan, proses perdamaian Afghanistan yang rapuh mungkin menghadapi "masalah", menyusul kepergian Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump . Masa jabatan Trump berakhir pada 20 Januari, atau saat pelantikan Joe Biden .

Sejumah analis berpendapat bahwa Biden mungkin mencari "peninjauan" atas perjanjian perdamaian Doha antara Washington dan Taliban, yang bertujuan untuk mengakhiri konflik 19 tahun di Afghanistan.

Baca: Pasukan Afghanistan Gagalkan Rencana ISIS Habisi Kuasa Usaha AS

“Pelaksanaan perjanjian perdamaian Doha dapat menghadapi masalah, terutama batas waktu penarikan pasukan AS dari Afghanistan, karena dialog intra-Afghanistan tidak benar-benar membuat kemajuan dan kekerasan telah meningkat,” Rahimullah Yusufzai, seorang ahli yang berbasis di Peshawar, Pakistan.

Mengutip tuduhan baru dan tuduhan balasan oleh Washington dan Taliban sehubungan dengan lonjakan kekerasan baru-baru ini, meskipun ada komitmen untuk perdamaian dari kedua belah pihak, Yusufzai mengatakan perkembangan baru dapat mendorong pemerintahan Biden untuk meninjau kembali rencana penarikan militer lengkap dari Afganistan.

Yusufzai mengamati bahwa Biden mungkin menunda penarikan penuh atau bersikeras mempertahankan sejumlah kecil pasukan di tanah Afghanistan, bahkan setelah Mei dengan dalih "memastikan keamanan AS dan perang melawan terorisme."

November lalu, Biden, menurut media AS, telah mengatakan bahwa dia benar-benar lelah dengan perang terpanjang AS di Afghanistan. Tetapi, menurutnya, ada kebutuhan untuk mengakhiri perang secara bertanggung jawab, dengan cara untuk memastikan tidak ada lagi ancaman terhadap keamanan dalam negeri AS.

"Lingkaran di dalam Demokrat tidak menginginkan penarikan sepenuhnya. Mereka mungkin memaksa Biden untuk mempertahankan setidaknya satu atau dua pangkalan di Afghanistan, bahkan setelah Mei, ”kata Yusufzai, merujuk pada penarikan pasukan AS, sebagai bagian dari kesepakatan Doha.

"Kekerasan yang meningkat di Afghanistan mungkin memberikan alasan bagi Biden untuk meminta peninjauan kembali perjanjian Doha," sambungnya, seperti dilansir Anadolu Agency.

Baca: Trump Klaim China Ingin Bayar Teroris untuk Serang Pasukan AS di Afghanistan

Sementara itu, analis dan komentator politik yang berbasis di Kabul, Syed Eqbal, juga melihat prospek pergeseran, meski tidak terlalu drastis, dalam kebijakan AS menuju proses perdamaian Afghanistan.

“Tidak ada keraguan bahwa dorongan terakhir di Washington telah bergeser selama bertahun-tahun dari mengalahkan Taliban di medan perang, menjadi apa yang disebut jalan keluar 'bermartabat' dari Afghanistan, tetapi keluarnya pasukan dari Afghanistan] akan berbeda di bawah presiden baru," katanya.

Namun, menurut Salman Bashir, mantan Menteri Luar Negeri Pakistan, tidak melihat pembalikan proses perdamaian, meskipun ada perubahan pemerintahan di Washington dan tantangan yang membayangi.

“Saya pikir, baik Demokrat maupun Republik ingin keluar dari Afghanistan. Biden harus merangkul pandangan geo-ekonomi Afghanistan dan wilayah ini karena tidak ada pilihan lain yang layak," jelas Bashir.

Baca: Jurnalis Afghanistan Ditembak Mati dalam Penyergapan Mobil

“Jalan alternatif akan mengungkap prospek perdamaian dan menjerumuskan negara ke dalam perang saudara dan divisi de facto,” dia memperingatkan.

AS sendiri, kata Bashir, tidak dapat menyelesaikan keruwetan Afghanistan dan perlu bekerja sama dengan Rusia, China, dan negara-negara kawasan lainnya untuk penyelesaian yang tahan lama dari konflik yang sudah lama membara.

Berbagi pandangan yang sama, Yusufzai mengatakan, dia tidak melihat pembalikan total rencana penarikan pasukan AS oleh presiden yang akan datang meskipun ada lonjakan kekerasan.

"Dia tidak dapat melakukan itu, bahkan jika dia mau karena itu (perjanjian Doha) adalah langkah yang populer, dan kepemimpinan politik dan militer AS pada umumnya mendukung itu. Taliban juga ingin mengakhiri perang," tukasnya.
(esn)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Demi Wujudkan Perdamaian...
Demi Wujudkan Perdamaian dengan Iran, AS Terus Tekan Israel
Wabah Flu Serang Pangkalan...
Wabah Flu Serang Pangkalan AS, 159 Tentara Jatuh Sakit
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG Indonesia
Marahnya Warga Israel...
Marahnya Warga Israel atas Kesepakatan AS-Iran: Kami Dikhianati Trump, Ini Kesalahan Besar
Menkeu AS Sebut Zelensky...
Menkeu AS Sebut Zelensky Bajingan Kecil Bertingkah seperti Mr Bean yang Sakau
Iran Tutup Lagi Selat...
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, Militer AS Waspada
Trump Klaim Kesepakatan...
Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Selamatkan Dunia dari Bencana Ekonomi
Suami Divonis 4 Tahun...
Suami Divonis 4 Tahun Penjara karena Paksa Istri Berhubungan Seks dengan 120 Pria
Perwira Militer Israel...
Perwira Militer Israel yang Tewas Dibom di Lebanon Ternyata Pembunuh Bocah Gaza Hind Rajab
Rekomendasi
Profil Eloy Room, Kiper...
Profil Eloy Room, Kiper Moncer Timnas Curacao yang Cetak Sejarah di Piala Dunia 2026
Prabowo Panggil Rosan...
Prabowo Panggil Rosan Roeslani ke Kertanegara Minggu Malam, Ada Apa?
Piala Dunia 2026: Spanyol...
Piala Dunia 2026: Spanyol Hancurkan Arab Saudi 4-0
Berita Terkini
4 Prasyarat Iran untuk...
4 Prasyarat Iran untuk Negosiasi di Swiss, Dapat Dana Segar Rp106 Triliun
5 Fakta Iran Mampu Memecah...
5 Fakta Iran Mampu Memecah Aliansi Abadi AS dan Israel, Lebanon Jadi Alat Utamanya
3 Alasan PM Inggris...
3 Alasan PM Inggris Starmer Akan Mundur, Popularitasnya Terus Menurun
Iran dan AS Berdamai,...
Iran dan AS Berdamai, Negara-negara Arab Bisa Bernapas Lega
Gelar Serangan Balasan,...
Gelar Serangan Balasan, Rusia Hancurkan Fasilitas Energi di Seluruh Ukraina
JD Vance: Iran dan AS...
JD Vance: Iran dan AS Bekerja Sama Mewujudkan Perdamaian dan Kemakmuran di Timur Tengah
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved