Perketat Regulasi Big Tech, China Ingin Jadi Superpower Teknologi

loading...
Perketat Regulasi Big Tech, China Ingin Jadi Superpower Teknologi
Warga mengenakan masker melintas dekat logo Tencent pada ajang World Internet Conference (WIC) di Wuzhen, Zhejiang, China, pada 23 November 2020 lalu. REUTERS/Aly Song
BEIJING - Ambisi dan mimpi China menjadi superpower di bidang sains dan teknologi menuai pro dan kontra selama beberapa tahun terakhir. Kendati sukses menujukkan bukti sebagai negara paling depan dalam hal teknologi, namun kekhawatiran tetap dirasakan Negeri Panda.

China memang sudah membuktikan diri dalam hal teknologi antariksa . Mereka sukses mengirim satelit komunikasi kuantum pertama di dunia ke antariksa dan memimpin perkembangan 5G di dunia. Namun demikian, bukan berarti langkan China mulus begitu saja.

Mereka kini justru menghadapi ancaman dan tantangan dari negara maju lainnya seperti Amerika Serikat (AS). Ambisi menjadi superpower diwujudkan oleh Presiden China Xi Jinping dalam serangkaian kebijakan dan inisiatif. Pendanaan besar-besaran bagi sains dan teknologi diberlakukan sejak 2014 silam.

Kala itu China juga membuat program Made in China 2025 dengan memprioritaskan 10 sektor teknologi tinggi. Pada 2017, China mengumumkan China menjadi pusat inovasi kecerdasan buatan (artificial intelligence) pada 2030.



(Baca juga: Pemerintah China Janjikan Vaksin Covid-19 Gratis untuk Myanmar )

Investasi di bidang teknologi di China juga menunjukkan tren peningkatan. Investasi di bidang penelitian dan pengembangan China meningkat 22%, sedangkan Amerika Serikat (AS) mencapai 25%. Pada 2025, China akan melampaui kekuatan AS. Tiga perempat investasi pada riset dan pengembangan di China berasal dari kalangan bisnis.

Namun, pejabat pemerintah masih terlibat dalam alokasi modal, bukan hanya bank milik negara, tetapi juga lembaga investasi yang dikendalikan negara. Performa investasi China dalam sektor teknologi juga bukan hanya didominasi perusahaan besar. Tapi, China juga mengandalkan perusahaan rintisan karena 24% unicorn (perusahaan rintisan bernilai lebih dari USD1 miliar) .



"Hanya saja, Presiden Xi lebih memprioritaskan perusahaan milik negara, meskipun perusahaan swasta justru lebih inovatif dan dinamis," kata Andrew Kennedy, pakar kebijakan dan pemerintah dari Universitas Nasional Australia, dilansir Channel News Asia. "Ambisi China menghadapi tantangan karena banyak ilmuwan China mengeluh tentang kontrol internet yang terlalu kuat dari pemerintah," katanya.
halaman ke-1 dari 3
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top