Inggris Pisah dari UE, Antara Optimisme dan Pesimisme
Sabtu, 02 Januari 2021 - 06:44 WIB
loading...
A
A
A
Namun demikian, para penentang Brexit dan pendukung UE di Inggris melihat Inggris justru akan semakin melemah. Panggung global Inggris semakin tergerus, masyarakat makin miskin, serta tren kosmopolitanme pun berkurang. Selepas meninggal Single Market UE, maka kekacauan dan disrupsi akan terjadi di perbatasan. Inggris harus mengeluarkan biaya besar untuk mengekspor atau pun mengimpor produk pada lintas perbatasan UE dan Inggris. Inggris pun mengeluarkan kajian bagi perusahaan mengenai aturan baru yang harus diikuti. Pelabuhan Dover memperkirakan volume ekspor akan menurun pada awal Januari. Namun, banyak pihak yakni ekspor akan kembali naik pada akhir Januari.
Para pendukung kemerdekaan Skotlandia juga mulai melirik peluang melepaskan diri dari Inggris. Pemimpin Skotlandia Nicola Sturgeon mengatakan, Skotlandia akan kembali bersama UE. "Skotlandia akan segera kembali, Eropa," katanya.
Menteri Luar Negeri Irlandia, Simon Coveney mengatakan ketetapan Brexit itu bukanlah sesuatu untuk dirayakan. Dia menegaskan, hubungan Inggris dengan Irlandia akan berbeda mulai saat ini. "Kami berharap mereka baik-baik saja," ujarnya.
Masa depan Inggris pun dianggap tidak jelas selepas Brexit. Itu tidak lepas karena Brexit berangkat dari populisme dan politik ketidakjujuran. Apalagi, populisme Inggris adalah metode politik, bukan sebagai ideologi yang mengakar di negara tersebut. "Bagi kita, Inggris selalu diidentikkan dengan ekonomi yang progresif, politik yang stabil, penegakan hukum, dan benih dari demokrasi liberal," kata Rem Korteweg, peneliti dari think tank Clingendael Institute di Belanda.
Pandangan serupa juga diungkapkan Nicolai von Ondarza, analis dari German Institute for International and Security Affairs. Dia menganggap Inggris akan berada di dalam rollercoaster Brexit terus. "Boris John memang penjudi yang menampilkan kepastian dan fleksibel dengan kebenaran. Dia adalah PM yang telah melakukan kesalahan terburuk," katanya kepada The Guardian.
Ke depan diyakini akan banyak yang berubah dengan Brexit. Pergerakan bebas warga Inggris dan negara-negara UE telah berakhir. Itu akan telah digantikan dengan sistem imigrasi berbasis sejumlah kesepakatan di Inggris. Misalnya, siapa pun penduduk Inggris yang ingin tinggal di sebagian besar wilayah UE selama lebih dari 90 hari dalam jangka waktu 180 hari harus memiliki visa.
Para pendukung kemerdekaan Skotlandia juga mulai melirik peluang melepaskan diri dari Inggris. Pemimpin Skotlandia Nicola Sturgeon mengatakan, Skotlandia akan kembali bersama UE. "Skotlandia akan segera kembali, Eropa," katanya.
Menteri Luar Negeri Irlandia, Simon Coveney mengatakan ketetapan Brexit itu bukanlah sesuatu untuk dirayakan. Dia menegaskan, hubungan Inggris dengan Irlandia akan berbeda mulai saat ini. "Kami berharap mereka baik-baik saja," ujarnya.
Masa depan Inggris pun dianggap tidak jelas selepas Brexit. Itu tidak lepas karena Brexit berangkat dari populisme dan politik ketidakjujuran. Apalagi, populisme Inggris adalah metode politik, bukan sebagai ideologi yang mengakar di negara tersebut. "Bagi kita, Inggris selalu diidentikkan dengan ekonomi yang progresif, politik yang stabil, penegakan hukum, dan benih dari demokrasi liberal," kata Rem Korteweg, peneliti dari think tank Clingendael Institute di Belanda.
Pandangan serupa juga diungkapkan Nicolai von Ondarza, analis dari German Institute for International and Security Affairs. Dia menganggap Inggris akan berada di dalam rollercoaster Brexit terus. "Boris John memang penjudi yang menampilkan kepastian dan fleksibel dengan kebenaran. Dia adalah PM yang telah melakukan kesalahan terburuk," katanya kepada The Guardian.
Ke depan diyakini akan banyak yang berubah dengan Brexit. Pergerakan bebas warga Inggris dan negara-negara UE telah berakhir. Itu akan telah digantikan dengan sistem imigrasi berbasis sejumlah kesepakatan di Inggris. Misalnya, siapa pun penduduk Inggris yang ingin tinggal di sebagian besar wilayah UE selama lebih dari 90 hari dalam jangka waktu 180 hari harus memiliki visa.
Lihat Juga :