Korban Jiwa Akibat Covid-19 di Inggris Capai 38.000

Selasa, 12 Mei 2020 - 20:26 WIB
loading...
Korban Jiwa Akibat Covid-19...
Korban meninggal akibat virus Covid-19 di Inggris tembus 38 ribu jiwa. Foto/Ilustrasi
A A A
LONDON - Angka kematian akibat COVID-19 di Inggris mencapai 38.000 pada awal Mei, menjadi yang terburuk di Eropa. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan tentang penanganan krisis virus Corona Perdana Menteri Boris Johnson.

Kantor Statistik Nasional untuk Inggris dan Wales merilis jumlah kematian resmi di Inggris menjadi 38.289 pada 3 Mei. Menurut penghitungan Reuters dari daftar kematian yang juga mencakup Skotlandia dan Irlandia Utara angka ini naik hampir 6.000 dalam waktu seminggu, seperti dinukil dari kantor berita yang berbasis di London itu, Selasa (12/5/2020).

Sementara berbagai cara penghitungan membuat perbandingan dengan negara-negara lain menjadi sulit, angka tersebut menegaskan bahwa Inggris termasuk di antara yang paling parah terkena pandemi yang telah menewaskan lebih dari 285.000 di seluruh dunia itu.

Data ini datang sehari setelah Johnson menetapkan rencana bertahap untuk membuat Inggris kembali bekerja, termasuk menyarankan untuk memakai masker buatan rumah - meskipun upayanya untuk mengangkat lockdown memicu kebingungan.

Angka kematian yang tinggi di Inggris meningkatkan tekanan pada Johnson. Partai-partai oposisi mengatakan dia terlalu lambat untuk memaksakan lockdown, terlambat melakukan pengujian massal dan terlambat mendapatkan peralatan pelindung yang cukup untuk rumah sakit.

Data menunjukkan gambaran suram di panti jompo yang telah sangat terpukul oleh pandemi.

“Panti jompi menunjukkan penurunan paling lambat, sayangnya,” kata statistik ONS, Nick Stripe kepada BBC TV.

“Untuk pertama kalinya yang saya ingat, ada lebih banyak kematian total di panti jompo daripada di rumah sakit pada minggu itu,” imbuhnya.

Rumah jompo sekarang merupakan sepertiga dari semua kematian COVID-19 di Inggris dan Wales.

Sebuah Laporan Khusus Reuters yang diterbitkan pekan lalu menunjukkan panti jompo menanggung beban kebijakan yang dirancang untuk melindungi rumah sakit dari COVID-19, membuat banyak rumah jompo terserang virus.

Berbeda dengan angka kematian harian yang diumumkan oleh pemerintah, angka-angka yang dirilis pada Selasa termasuk dugaan kematian akibat COVID-19, penyakit pernapasan yang disebabkan oleh virus Corona baru.

Pada bulan Maret, kepala penasihat ilmiah Inggris mengatakan menjaga kematian di bawah 20.000 akan menjadi "hasil yang baik". Pada bulan April, Reuters melaporkan bahwa skenario terburuk korban jiwa pemerintah mencapai angka 50.000.

Bahkan setelah menyesuaikan populasi, Inggris masih berada di peringkat di antara negara-negara yang paling parah terkena pandemi, daftar yang mencakup Belgia, Spanyol dan Italia.

Di Italia, negara terparah berikutnya di Eropa dan yang populasinya sekitar 90% dari Inggris, jumlah kematian mencapai 30.739 pada hari Senin, menurut ukuran berdasarkan semata-mata pada kasus yang dikonfirmasi daripada kasus yang diduga.

Data Inggris yang dapat dibandingkan secara luas pada hari Senin menunjukkan 32.065 kematian.

Para menteri di Inggris tidak menyukai perbandingan angka kematian karena kinerja Inggris sebagian mencerminkan fakta bahwa lebih cepat untuk mempublikasikan data komprehensif tentang kematian COVID-19 dibandingkan negara-negara Eropa lainnya.

Mereka mengatakan kematian yang berlebihan - jumlah kematian dari semua penyebab yang melebihi rata-rata untuk tahun ini - lebih bermakna karena dapat dibandingkan secara internasional.

Namun, bukti awal menunjukkan bahwa Inggris juga mengalami kesulitan dalam hal itu.

Sejauh tahun ini, ada lebih dari 50.000 kematian berlebih dibandingkan dengan rata-rata lima tahun, kata ONS ahli statistik Stripe.

ONS mengatakan kematian dari semua penyebab menurun selama minggu kedua berjalan pada 1 Mei, tetapi 8.012 lebih banyak orang daripada rata-rata meninggal pada minggu ke-18 tahun 2020.
(ber)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Starmer Didesak Mundur...
Starmer Didesak Mundur dari Jabatan Perdana Menteri Inggris
Fregat Rusia Tembaki...
Fregat Rusia Tembaki Kapal Pesiar Inggris, Starmer: Tindakan Sembrono
Kapal Fregat Rusia Lepaskan...
Kapal Fregat Rusia Lepaskan Tembakan Peringatan di Selat Inggris
Inggris, Prancis, Jerman,...
Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia Siap Cabut Sanksi Teheran setelah Kesepakatan Damai AS-Iran
Inggris Akan Pasok Uranium...
Inggris Akan Pasok Uranium ke Ukraina dan Jatuhkan Sanksi Baru terhadap Rusia
Inggris Cegat dan Rebut...
Inggris Cegat dan Rebut Kapal Tanker Armada Bayangan Rusia, Ini Respons Kremlin
Belajar dari Inggris,...
Belajar dari Inggris, Tembakau Alternatif Bisa Hentikan Kebiasaan Merokok
MoU Ditandatangani,...
MoU Ditandatangani, Iran Nyatakan Kemenangan Atas AS
Siap-Siap, Apple bakal...
Siap-Siap, Apple bakal Naikkan Harga iPhone Dkk Imbas Biaya Chip Melonjak
Rekomendasi
Roy Suryo dan Dokter...
Roy Suryo dan Dokter Tifa Ditahan, Din Syamsuddin Siap Jadi Penjamin
Boni Hargens Minta Hilangkan...
Boni Hargens Minta Hilangkan Prasangka Buruk terhadap Polri
Bidik Pasar Indonesia...
Bidik Pasar Indonesia Timur, Jafran Indonesia Kenalkan JR 737 di PENAS XVII
Berita Terkini
Tanpa Bantuan AS, Trump:...
Tanpa Bantuan AS, Trump: Israel Akan Hancur
PM Meloni Kecam Trump...
PM Meloni Kecam Trump soal Minta Foto: Italia Tidak Pernah Mengemis
Bagaimana Industri Farmasi...
Bagaimana Industri Farmasi Besar AS Raup Untung dari Pandemi dengan Perlakukan Warga Seperti Kelinci Percobaan?
Starmer Didesak Mundur...
Starmer Didesak Mundur dari Jabatan Perdana Menteri Inggris
PM Australia Ungkap...
PM Australia Ungkap Pengiriman BBM Baru, Ancaman di Selat Hormuz Masih Moderat
Pasukan Israel Gagal...
Pasukan Israel Gagal Ambil Tank Komandan yang Gugur di Lebanon Selatan
Infografis
13 Orang Meninggal Akibat...
13 Orang Meninggal Akibat Insiden Pemusnahan Amunisi di Garut
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved