China Terbuka Perbaiki Hubungan dengan AS

Selasa, 08 Desember 2020 - 16:28 WIB
loading...
China Terbuka Perbaiki...
China terbuka untuk memperbaiki hubungan dengan AS. Foto/Ilustrasi
A A A
BEIJING - Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, mengatakan Beijing terbuka untuk memulai kembali hubungannya dengan Amerika Serikat (AS). Wang Yi menyatakan kedua negara berada pada "titik kritis sejarah" setelah satu tahun ketegangan yang meningkat.

Wang Yi mengatakan kebijakan AS tentang China perlu kembali ke objektivitas dan rasionalitas. Hal itu diungkapkannya dalam pidato video di Dewan Bisnis AS-China menurut transkrip yang dipublikasikan di situs web Kementerian Luar Negeri China.

"(Kita harus) berusaha untuk memulai kembali dialog, kembali ke jalur yang benar, dan membangun kembali rasa saling percaya dalam fase berikutnya dalam hubungan China-AS," kata Wang Yi seperti dikutip dari CNN, Selasa (8/12/2020).



Dia menyalahkan perpecahan yang tumbuh antara AS dan China pada beberapa orang Amerika dengan mentalitas Perang Dingin yang ketinggalan jaman dan prasangka ideologis.

"Kuncinya adalah menghormati satu sama lain. Hormati warisan sejarah dan budaya satu sama lain, saling menghormati kepentingan inti dan perhatian utama satu sama lain, dan menghormati pilihan satu sama lain," ujar Wang.(Baca juga: Soal Perbaikan Hubungan, China: Semua Terserah kepada AS )

China dan AS terjebak dalam ketegangan dalam beberapa tahun terakhir. Di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, AS melancarkan perang dagang dengan Beijing, telah menantang ambisi teritorial Beijing di perairan Asia yang disengketakan, mengkritik tindakan kerasnya terhadap kebebasan di Hong Kong dan menyalahkan penanganan China atas wabah pandemi Covid-19.

Pernyataan Wang Yi ini bahkan terlontar ketika pemerintahan Trump terus mendorong serangkaian tindakan hukuman terhadap pemerintah China. Dalam langkah terbarunya pada hari Senin, Departemen Luar Negeri AS mengumumkan sanksi baru terhadap 14 pejabat di badan legislatif tertinggi China, Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional (NPCSC), atas undang-undang keamanan nasional yang diberlakukan di pusat keuangan Hong Kong.

Sejak undang-undang - yang melarang pemisahan diri, subversi, kegiatan teroris dan kolusi dengan kekuatan asing - mulai berlaku pada bulan Juni, kota itu telah menyaksikan penangkapan massal dan pembatasan kebebasan berbicara, sementara beberapa aktivis telah melarikan diri.

Departemen Luar Negeri mengatakan akan memberikan sanksi kepada 14 pejabat China atas keterlibatan mereka dalam "mengembangkan, mengadopsi, dan menerapkan" hukum keamanan nasional. Semuanya akan dilarang bepergian ke AS, bersama dengan keluarga mereka, sementara aset apa pun yang dimiliki di AS atau dalam kendali orang AS akan diblokir.(Baca juga: Gertak China, AS-Jepang-Prancis Bersiap Manuver Militer Gabungan )

Namun ketua NPCSC, Li Zhanshu - sekutu dekat pemimpin China Xi Jinping dan anggota komite tetap Partai Komunis yang kuat - tidak termasuk di antara mereka yang terdaftar.

"Tindakan kami hari ini menggarisbawahi bahwa Amerika Serikat akan terus bekerja dengan sekutu dan mitra kami untuk meminta pertanggungjawaban Beijing karena merusak otonomi yang dijanjikan Hong Kong," bunyi pernyataan Departemen Luar Negeri AS.

AS juga di ambang memberlakukan Undang-Undang Akuntabilitas Holding Perusahaan Asing, yang akan mencegah bisnis yang menolak untuk membuka pembukuan mereka kepada regulator akuntansi Amerika dari perdagangan di bursa saham AS - sebuah langkah yang ditujukan untuk perusahaan-perusahaan besar China yang terdaftar di Amerika.(Baca juga: Jadi Alat Propaganda, AS Akhiri Pertukaran Budaya dengan China )
(ber)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
12,9 Juta Siswa Ikuti...
12,9 Juta Siswa Ikuti Ujian Gaokao untuk Masuk Universitas di China
Hamas Ungkap Pertemuan...
Hamas Ungkap Pertemuan di Kairo Bahas Penerapan Gencatan Senjata Gaza
AS Pertimbangkan Gunakan...
AS Pertimbangkan Gunakan Aset Iran untuk Biaya Rekonstruksi Negara-negara Teluk
AS Curigai Zionis, Pentagon...
AS Curigai Zionis, Pentagon Naikkan Tingkat Ancaman Spionase Israel Jadi Kritis
Paus Leo Tegaskan Kriteria...
Paus Leo Tegaskan Kriteria untuk Perang yang Adil Tidak Ada dalam Serangan AS-Israel di Iran
Iran Peringatkan Serangan...
Iran Peringatkan Serangan AS Berisiko Seret Timur Tengah Kembali ke Konflik
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
Tanggapi Surat Terbuka,...
Tanggapi Surat Terbuka, Putin Tolak Bertemu Empat Mata dengan Zelensky
Mobil Dibom Israel,...
Mobil Dibom Israel, Jenderal Angkatan Darat Lebanon Tewas
Rekomendasi
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
Prihatin Kasus Korupsi...
Prihatin Kasus Korupsi di BGN, Hasto PDIP: Suara Kritis Masyarakat Sudah Mengungkapkan Hal Itu
15.080 Peserta Siap...
15.080 Peserta Siap Ikuti Riau Bhayangkara Run 2026
Berita Terkini
12,9 Juta Siswa Ikuti...
12,9 Juta Siswa Ikuti Ujian Gaokao untuk Masuk Universitas di China
Israel Bombardir Markas...
Israel Bombardir Markas Besar Hizbullah di Beirut
9 Tempat Paling Suci...
9 Tempat Paling Suci di Dunia, Nomor 5 Paling Populer bagi Orang Indonesia
6 Tradisi Teraneh di...
6 Tradisi Teraneh di Dunia, Salah Satunya Makan Abu Orang Mati
Mendagri Pakistan Sampaikan...
Mendagri Pakistan Sampaikan Surat Khusus untuk Mojtaba Khamenei
Partai Janta Kecoa Jadi...
Partai Janta Kecoa Jadi Inspirasi bagi Gen Z di Seluruh Dunia
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved