WHO: Ketika Sains 'Ditelan' Teori Konspirasi, Virus Menang

Minggu, 06 Desember 2020 - 13:57 WIB
loading...
WHO: Ketika Sains Ditelan...
Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Ghebreyesus mengatakan bahwa ketika sains ditelan oleh teori konspirasi, maka virus akan menang. Foto/REUTERS
A A A
JENEWA - Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) , Tedros Ghebreyesus mengatakan bahwa ketika sains "ditelan" oleh teori konspirasi , maka virus akan menang. Tedros menyebut, semakin subur teori konspirasi tumbuh, semakin luas virus akan menyebar.

Tedros mengatakan, pandemi telah menunjukkan apa yang mampu dilakukan dengan cara terbaik dan lebih buruk, tindakan welas asih dan pengorbanan diri yang menginspirasi. ( Baca juga: WHO: Penemuan Vaksin Seharusnya Tidak Membuat Kewaspadaan Menurun )

"Ini mengambil prestasi sains dan inovasi, dan demonstrasi solidaritas yang menghangatkan hati, tetapi juga mengganggu tanda-tanda kepentingan pribadi, pengalihan kesalahan, dan perpecahan," ucap Tedros, seperti dilansir Anadolu Agency pada Minggu (6/12/2020).

Dia mengatakan, ini bukan kebetulan geografi atau demografi. Negara-negara ini, jelasnya, telah membuktikan bahwa dengan ilmu pengetahuan, solidaritas dan pengorbanan, virus ini bisa dijinakkan virus dan bisa dihentikan.

"Tetapi ketika sains tenggelam oleh teori konspirasi, di mana solidaritas dirusak oleh perpecahan ketika pengorbanan diganti dengan kepentingan pribadi, virus tumbuh subur, virus menyebar. Dunia membutuhkan kepemimpinan bangsa-bangsa di Perserikatan Bangsa-Bangsa. untuk mengakhiri pandemi dan membangun dunia pasca pandemi," ungkapnya. ( Baca juga: WHO Sebut Covid-19 Dapat Dikendalikan dengan Vaksin )

Dia mencatat bahwa lebih dari 60 juta kasus Covid-19 telah dilaporkan ke WHO dan 1,5 juta orang telah tewas. “Meski ini adalah krisis kesehatan global, penting untuk diingat bahwa tidak semua negara memberikan respon yang sama. Dan tidak semua negara terkena dampak yang sama,” ujarnya.

Dia mengatakan, meski telah diperingatkan selama bertahun-tahun, banyak negara belum siap untuk Covid-19. Dia menyebut, banyak negara yang salah mengira sistem kesehatan mereka yang kuat akan melindungi mereka.

“Banyak negara yang telah melakukan yang terbaik memiliki pengalaman baru-baru ini dalam menanggapi wabah seperti SARS, MERS, H1N1 dan penyakit menular lainnya. Sekarang, semua negara harus mengembangkan memori otot yang sama dan berinvestasi dalam tindakan yang akan memprediksi pengendalian umum dan mengurangi krisis berikutnya," ungkapnya.

"Jelas juga bahwa sistem global untuk kesiapsiagaan perlu diperhatikan. Peraturan Kesehatan Internasional adalah alat hukum yang kuat, tetapi negara harus menggunakannya dengan lebih efektif," tukas Tedros.
(esn)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kepala WHO Kunjungi...
Kepala WHO Kunjungi Pusat Wabah Ebola
Disebut Calon Kuat Jadi...
Disebut Calon Kuat Jadi Direktur Jenderal WHO, Menkes Budi: Saya akan Konfirmasi
Kepala WHO Peringatkan...
Kepala WHO Peringatkan Lebih Banyak Kasus Hantavirus akan Muncul
WHO: Wabah Hantavirus...
WHO: Wabah Hantavirus Bukan Awal Pandemi Covid-19 Berikutnya
WHO Peringatkan Skenario...
WHO Peringatkan Skenario Nuklir Terburuk di Iran, Rusia Kutuk Serangan Israel
Epstein Files Singgung...
Epstein Files Singgung Bill Gates dan Simulasi Pandemi, Benarkah Covid-19 Sengaja Dibuat?
BPOM dan WHO Perkuat...
BPOM dan WHO Perkuat Kolaborasi Pengawasan Obat dan Makanan
CDC: Wabah Ebola di...
CDC: Wabah Ebola di RD Kongo Bisa Menjadi yang Terburuk dalam Sejarah
Perwira Militer Israel...
Perwira Militer Israel yang Tewas Dibom di Lebanon Ternyata Pembunuh Bocah Gaza Hind Rajab
Rekomendasi
Roy Suryo-Dokter Tifa...
Roy Suryo-Dokter Tifa Ditangkap, Pakar Hukum: Tak Ada Tekanan dari Kubu Jokowi
Haul Akbar Ulama Betawi,...
Haul Akbar Ulama Betawi, Gus Muhaimin Urai Peran Besar Ulama Bangun Bangsa
Ketika Kebaikan Menjadi...
Ketika Kebaikan Menjadi Strategi: Akhir Dominasi Reward dan Punishment?
Berita Terkini
3 Penyebab Batalnya...
3 Penyebab Batalnya Penandatanganan Perjanjian Damai AS dan Iran
Wapres Vance Batalkan...
Wapres Vance Batalkan Kunjungan ke Jenewa, Swiss: Perundingan AS-Iran Ditunda
Demo Anti-Pemerintah...
Demo Anti-Pemerintah Digelar selama 50 Hari, Bolivia Deklarasikan Status Darurat
Tanpa Bantuan AS, Trump:...
Tanpa Bantuan AS, Trump: Israel Akan Hancur
PM Meloni Kecam Trump...
PM Meloni Kecam Trump soal Minta Foto: Italia Tidak Pernah Mengemis
Bagaimana Industri Farmasi...
Bagaimana Industri Farmasi Besar AS Raup Untung dari Pandemi dengan Perlakukan Warga Seperti Kelinci Percobaan?
Infografis
Kemenkes Imbau Masyarakat...
Kemenkes Imbau Masyarakat Waspada, Virus HMPV Merebak di China
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved