FBI Yakin Hacker China Coba Curi Penelitian Vaksin Covid-19 AS
Selasa, 12 Mei 2020 - 11:26 WIB
loading...
Ilustrasi vaksin virus corona baru (COVID-19). Foto/REUTERS/Dado Ruvic
A
A
A
WASHINGTON - FBI dan ahli keamanan siber percaya para hacker (peretas) China berusaha mencuri penelitian Amerika Serikat (AS) tentang pengembangan vaksin untuk melawan virus corona baru penyebab penyakit Covid-19 .
Tudingan Biro Investigasi Federal (FBI) itu muncul dalam laporan dua surat kabar Amerika, Wall Street Journal dan The New York Times.
Laporan itu mengatakan FBI dan Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika berencana untuk mengeluarkan peringatan tentang peretasan China ketika pemerintah dan perusahaan swasta berlomba untuk mengembangkan vaksin untuk Covid-19.
Para peretas juga menargetkan informasi dan kekayaan intelektual tentang perawatan dan tes untuk Covid-19. Para pejabat AS, lanjut laporan tersebut, menuduh para peretas terkait dengan pemerintah China. (Baca: Demi Uji Vaksin, 14.000 Orang Akan Diinfeksi Virus Corona )
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian menolak tuduhan itu. Dia mengatakan China dengan tegas menentang semua serangan dunia maya.
"Kami memimpin dunia dalam pengobatan Covid-19 dan penelitian vaksin. Adalah tidak bermoral menargetkan China dengan rumor dan fitnah tanpa adanya bukti," kata Zhao, seperti dikutip AFP, Selasa (12/5/2020).
Ditanya tentang laporan tersebut, Presiden AS Donald Trump menolak mengonfirmasi. "Apa lagi yang baru dengan China? Apa lagi yang baru? Ceritakan kepada saya. Saya tidak senang dengan China," kata Trump.
Tudingan Biro Investigasi Federal (FBI) itu muncul dalam laporan dua surat kabar Amerika, Wall Street Journal dan The New York Times.
Laporan itu mengatakan FBI dan Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika berencana untuk mengeluarkan peringatan tentang peretasan China ketika pemerintah dan perusahaan swasta berlomba untuk mengembangkan vaksin untuk Covid-19.
Para peretas juga menargetkan informasi dan kekayaan intelektual tentang perawatan dan tes untuk Covid-19. Para pejabat AS, lanjut laporan tersebut, menuduh para peretas terkait dengan pemerintah China. (Baca: Demi Uji Vaksin, 14.000 Orang Akan Diinfeksi Virus Corona )
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian menolak tuduhan itu. Dia mengatakan China dengan tegas menentang semua serangan dunia maya.
"Kami memimpin dunia dalam pengobatan Covid-19 dan penelitian vaksin. Adalah tidak bermoral menargetkan China dengan rumor dan fitnah tanpa adanya bukti," kata Zhao, seperti dikutip AFP, Selasa (12/5/2020).
Ditanya tentang laporan tersebut, Presiden AS Donald Trump menolak mengonfirmasi. "Apa lagi yang baru dengan China? Apa lagi yang baru? Ceritakan kepada saya. Saya tidak senang dengan China," kata Trump.
Lihat Juga :