AS Kini Bolehkan Eksekusi Mati dengan Tembak, Setrum hingga Gas Beracun

Sabtu, 28 November 2020 - 14:27 WIB
loading...
AS Kini Bolehkan Eksekusi...
Aturan baru Departemen Kehakiman AS kini membolehkan eksekusi mati terhadap narapidana dengan motode setrum, gantung, tembakan hingga gas beracun. Foto/SINDOnews.com
A A A
WASHINGTON - Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) diam-diam mengubah protokol pelaksanaan eksekusi bagi terpidana mati yang tidak lagi mengharuskan dengan suntikan mematikan. Aturan baru kini membolehkan metode lain seperti eksekusi dengan regu tembak, sengatan listrik, gantung dan menghirup gas beracun.

Aturan yang diamandemen, yang diterbitkan pada Jumat (27/11/2020) di Federal Register, memungkinkan pemerintah AS untuk melakukan eksekusi dengan berbagai cara tersebut.

Aturan—yang mulai berlaku pada 24 Desember 2020—muncul datang ketika Departemen Kehakiman telah menjadwalkan lima eksekusi mati selama periode yang sangat buruk, termasuk tiga hari sebelum presiden terpilih Joe Biden menjabat. (Baca: AS Kerahkan Kapal Induk Nuklir setelah Ilmuwan Nuklir Iran Dibunuh )

Seorang pejabat Departemen Kehakiman mengatakan perubahan aturan itu dilakukan untuk menjelaskan fakta bahwa Undang-Undang Hukuman Mati Federal mengharuskan hukuman dilakukan dengan dengan cara yang ditentukan oleh hukum negara bagian tempat hukuman dijatuhkan, dan beberapa di antaranya negara bagian menggunakan metode selain suntikan mematikan.

"Pemerintah federal tidak akan pernah mengeksekusi seorang narapidana dengan regu tembak atau sengatan listrik kecuali jika negara bagian yang bersangkutan telah mengesahkan metode eksekusi itu," kata pejabat tersebut kepada AP yang dilansir Sabtu (28/11/2020).

Pejabat itu mengatakan dua eksekusi yang dijadwalkan pada bulan Desember akan dilakukan dengan suntikan mematikan tetapi tidak memberikan informasi tentang tiga eksekusi lainnya yang dijadwalkan pada bulan Januari. Pejabat itu berbicara kepada AP dengan syarat anonim untuk membahas protokol internal departemen.

Perubahan itu kemungkinan akan memicu kritik keras dari Partai Demokrat dan pendukung anti-hukuman mati, karena pemerintahan Donald Trump mencoba mendorong sejumlah perubahan aturan sebelum presiden Trump meninggalkan jabatannya. (Baca juga: Kapal Coast Guard China dan Kapal Militer Malaysia Berseteru di Laut China Selatan )

Seorang juru bicara Biden mengatakan kepada AP awal bulan ini bahwa presiden terpilih "menentang hukuman mati sekarang dan di masa depan" dan akan berusaha untuk menghentikan penggunaannya. Namun dia tidak mengatakan apakah eksekusi akan segera dihentikan begitu Biden menjabat.

Jaksa Agung William Barr memulai kembali eksekusi mati federal terhadap terpidana mati tahun ini setelah absen selama 17 tahun. Tahun ini, Departemen Kehakiman telah mengeksekusi lebih banyak orang daripada selama setengah abad sebelumnya, meskipun dukungan publik memudar dari Partai Demokrat dan Partai Republik untuk penggunaannya.

Menurut data yang dikumpulkan Death Penalty Information Center, semua negara bagian yang memiliki hukuman mati mengizinkan suntikan mematikan—dan itu adalah metode utama meski metode lain diperbolehkan.

Namun, karena obat suntik mematikan menjadi sulit diperoleh, beberapa negara bagian mulai mencari metode alternatif untuk melaksanakan hukuman mati. Alabama bergabung dengan Oklahoma dan Mississippi pada tahun 2018 menyetujui penggunaan gas nitrogen untuk mengeksekusi tahanan, yang memungkinkan terpidana mati di beberapa negara bagian tersebut mati sesak napas.

Di beberapa negara bagian, narapidana dapat memilih metode eksekusi mereka. Di Florida, misalnya, seorang narapidana dapat secara khusus meminta untuk dihukum mati dengan disetrum dan di negara bagian Washington, narapidana dapat meminta untuk dihukum mati dengan digantung.

Di Utah, narapidana yang dihukum sebelum Mei 2004 dapat memilih untuk dibunuh oleh regu tembak. Hukum negara bagian di sana juga mengizinkan penggunaan regu tembak jika obat suntik mematikan tidak tersedia.

Pada tahun 2014, setelah eksekusi negara bagian yang gagal di Oklahoma, Presiden Barack Obama mengarahkan Departemen Kehakiman untuk melakukan peninjauan luas terhadap hukuman mati dan masalah seputar obat suntikan yang mematikan.

Barr mengatakan pada Juli 2019 bahwa peninjauan telah selesai, yang memungkinkan eksekusi dilanjutkan dan menyetujui prosedur baru untuk suntikan mematikan yang menggantikan kombinasi tiga obat yang sebelumnya digunakan dalam eksekusi federal dengan satu obat, pentobarbital. Protokol satu obat serupa dengan prosedur yang digunakan di beberapa negara bagian, termasuk Georgia, Missouri dan Texas.

Sebelum pemerintahan Trump melanjutkan eksekusi tahun ini, pemerintah federal telah menghukum mati tiga narapidana sejak 1988. Meskipun belum ada eksekusi federal sejak 2003, hingga Juli, Departemen Kehakiman terus menyetujui tuntutan hukuman mati, dan pengadilan federal terus menghukum mati terdakwa.

Trump sering berbicara tentang hukuman mati dan keyakinannya bahwa eksekusi berfungsi sebagai pencegah yang efektif dan hukuman yang sesuai untuk beberapa kejahatan, termasuk penembakan massal dan pembunuhan petugas polisi.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menhan Negara NATO Salahkan...
Menhan Negara NATO Salahkan Trump atas Penutupan Selat Hormuz
AS Kerahkan Sistem Rudal...
AS Kerahkan Sistem Rudal Canggih Typhon ke Jepang, Dapat Menargetkan China
Gunakan Mode Autopilot,...
Gunakan Mode Autopilot, Mobil Tesla Ini Malah Tabrak Rumah dan Tewaskan Penghuninya
Mengejutkan, 92% Warga...
Mengejutkan, 92% Warga Israel Yakin Iran Telah Menang Perang
Perundingan Iran-AS...
Perundingan Iran-AS Hasilkan 4 Kesepakatan Utama, Negosiator Teheran Sempat Walkout
Jenderal Iran Peringatkan...
Jenderal Iran Peringatkan Pasukan Israel: Tinggalkan Lebanon atau Diusir Secara Memalukan!
Timnas Iran Tinggalkan...
Timnas Iran Tinggalkan Surat Tulisan Tangan di Ruang Ganti Piala Dunia 2026
Israel Bombardir Lebanon...
Israel Bombardir Lebanon Selatan Tewaskan 16 Orang
PM Inggris Keir Starmer...
PM Inggris Keir Starmer Diisukan Akan Mundur, Ini Kata Trump
Rekomendasi
Timnas Amerika Serikat...
Timnas Amerika Serikat Dapat Jalur Relatif Mudah ke Semifinal Piala Dunia 2026
APHI Dorong Pemegang...
APHI Dorong Pemegang PBPH Manfaatkan Permenhut untuk Kembangkan Proyek Karbon
Dorong Ekonomi Desa...
Dorong Ekonomi Desa Binaan, Program Genera-Z Berbakti BCA Siap Masuki Fase Implementasi
Berita Terkini
Siapa Ahmed Wishah?...
Siapa Ahmed Wishah? Jurnalis Al Jazeera yang Dibunuh Israel
Rusia Tembak Jatuh 80...
Rusia Tembak Jatuh 80 Drone Ukraina, Kremlin Luncurkan Rudal Balistik Iskander
6 PM dalam 10 Tahun...
6 PM dalam 10 Tahun 44 Hari, Seperti Apa Politik Antrean di Inggris?
Jepang Naikkan Biaya...
Jepang Naikkan Biaya Visa sebanyak Lima Kali Lipat, Apa Pemicunya?
Tuntut Menteri Pendidikan...
Tuntut Menteri Pendidikan Mundur, Pendukung Partai Kecoa Berkemah di Jalanan
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Keir Starmer Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Infografis
6 Strategi Iran Memperpanjang...
6 Strategi Iran Memperpanjang Durasi Perang dengan AS dan Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved