Misi Teknik Pertanian Taiwan Melakukan Kegiatan Pertanian Mengakar di Indonesia Selama 44 Tahun
Rabu, 25 November 2020 - 20:14 WIB
loading...
A
A
A
( Baca juga: Mentan Ajak Penyuluh Pertanian Paham Agroklimat Antisipasi La Nina )
Oleh karena itu, tim teknis harus mencari jenis tanaman lokal yang cocok dengan kondisi seperti itu. Kondisi tanah Karawang yang lengket dan berat ini, apabila terjadi kekeringan akan menjadi sekeras batu, hal ini akan menyebabkan akar tanaman tidak dapat bernapas dan daya serap menjadi tidak baik.
Menghadapi tantangan tersebut, tim teknis perlu upaya untuk memperbaiki tekstur tanah dengan menggunakan pupuk organik dan kapur dalam jumlah besar, diaduk di tanah untuk memperbaiki tekstur tanah agar bisa mendekati standar umum untuk budidaya tanaman hortikultura, kemudian baru bisa mulai membudidayakan tanaman.
Setelah Misi Teknik Pertanian Taiwan menyelesaikan masalah varietas dan tanah, tantangan selanjutnya adalah petani Indonesia di daerah ini tidak memiliki pengalaman berkebun, sehingga harus memulai dari awal. Mulai dari penyiapan tanaman, pembibitan, penanaman, penyiraman, pemupukan, obat-obatan, panen, dll semuanya diajarkan TTM secara bergandengan tangan.
Oleh karena pengelolaan tanaman hortikultura membutuhkan lebih banyak waktu dan tenaga dibandingkan dengan menanam padi, pertama kali para petani diminta untuk mengelola lahan secara mandiri. Butuh banyak waktu untuk berdiskusi. Awalnya petani selalu memiliki konsep bahwa harus dilakukan secara bersama-sama (model padi), mereka tidak terbiasa melakukan pengecekan dan mengelola sawah sendiri, bahkan saat awal panen juga harus menunggu bantuan dari tim teknis.
Setelah komunikasi terus menerus dan pertemuan rutin dengan petani, para petani akhirnya baru bisa mulai mandiri secara aktif melaporkan kondisi ladangnya, misalnya mengapa daunnya menguning, ada serangga di lapangan, obat apa yang harus disemprotkan, dll juga telah sanggup panen secara mandiri dan mengirim hasil panennya ke tempat pengumpulan sementara di tim teknis, dan bersama-sama melakukan pemrosesan pasca panen seperti pemotongan daun, pembersihan, pengemasan, selangkah demi selangkah dan akhirnya menunjukkan hasil panennya.
"Berkat bimbingan yang penuh kesabaran dari tim teknis, pemandangan di desa Karawang sekarang telah berbeda, dan Anda dapat melihat sepetak demi sepetak lahan hasil kerja sama dengan tim teknis tersebut," ucap Abudulrohim, etani yang mendapat bimbingan dari TTM, yang juga merupakan ketua tim produksi dan pemasaran.
Oleh karena itu, tim teknis harus mencari jenis tanaman lokal yang cocok dengan kondisi seperti itu. Kondisi tanah Karawang yang lengket dan berat ini, apabila terjadi kekeringan akan menjadi sekeras batu, hal ini akan menyebabkan akar tanaman tidak dapat bernapas dan daya serap menjadi tidak baik.
Menghadapi tantangan tersebut, tim teknis perlu upaya untuk memperbaiki tekstur tanah dengan menggunakan pupuk organik dan kapur dalam jumlah besar, diaduk di tanah untuk memperbaiki tekstur tanah agar bisa mendekati standar umum untuk budidaya tanaman hortikultura, kemudian baru bisa mulai membudidayakan tanaman.
Setelah Misi Teknik Pertanian Taiwan menyelesaikan masalah varietas dan tanah, tantangan selanjutnya adalah petani Indonesia di daerah ini tidak memiliki pengalaman berkebun, sehingga harus memulai dari awal. Mulai dari penyiapan tanaman, pembibitan, penanaman, penyiraman, pemupukan, obat-obatan, panen, dll semuanya diajarkan TTM secara bergandengan tangan.
Oleh karena pengelolaan tanaman hortikultura membutuhkan lebih banyak waktu dan tenaga dibandingkan dengan menanam padi, pertama kali para petani diminta untuk mengelola lahan secara mandiri. Butuh banyak waktu untuk berdiskusi. Awalnya petani selalu memiliki konsep bahwa harus dilakukan secara bersama-sama (model padi), mereka tidak terbiasa melakukan pengecekan dan mengelola sawah sendiri, bahkan saat awal panen juga harus menunggu bantuan dari tim teknis.
Setelah komunikasi terus menerus dan pertemuan rutin dengan petani, para petani akhirnya baru bisa mulai mandiri secara aktif melaporkan kondisi ladangnya, misalnya mengapa daunnya menguning, ada serangga di lapangan, obat apa yang harus disemprotkan, dll juga telah sanggup panen secara mandiri dan mengirim hasil panennya ke tempat pengumpulan sementara di tim teknis, dan bersama-sama melakukan pemrosesan pasca panen seperti pemotongan daun, pembersihan, pengemasan, selangkah demi selangkah dan akhirnya menunjukkan hasil panennya.
"Berkat bimbingan yang penuh kesabaran dari tim teknis, pemandangan di desa Karawang sekarang telah berbeda, dan Anda dapat melihat sepetak demi sepetak lahan hasil kerja sama dengan tim teknis tersebut," ucap Abudulrohim, etani yang mendapat bimbingan dari TTM, yang juga merupakan ketua tim produksi dan pemasaran.
Lihat Juga :