Pengobatan Covid-19, WHO Dorong Penggunaan Obat Herbal
Sabtu, 09 Mei 2020 - 06:48 WIB
loading...
A
A
A
Ketua Tim Riset Korona dan Formulasi Vaksin dari Profesor Nidom Foundation (PNF) Prof Chairul A Nidom mengatakan, sitokin adalah protein yang dihasilkan sistem kekebalan tubuh. “Apabila tubuh terpapar virus terus-menerus maka dapat terjadi badai sitokin yang membuat paru- paru padat dan kaku sehingga terjadi sesak napas, bahkan gagal napas dan bisa berlanjut kepada kematian,” katanya.
Dalam penelitiannya pada 2008, curcumin pada temulawak mampu mengendalikan sitokin inflamatori sehingga tidak terjadi badai sitokin. Hasil penelitian Prof Nidom ini sejalan dan memperkuat penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa temulawak memiliki efek terhadap daya tahan tubuh, yaitu sebagai imunomodulator. Melalui penelitian ini juga dinyatakan bahwa curcumin dapat memodulasi sistem daya tahan tubuh dengan cara meningkatkan kemampuan proliferasi sel T.
Penelitian bioinformatika yang dipublikasikan pada Maret 2020 dan kepustakaan terbaru telah menyebut bahwa curcumin merupakan satu di antara kandidat antivirus SARS-CoV-2. Curcumin yang terkandung pada temulawak diharapkan mampu meningkatkan ekspresi ACE2 bentuk soluble yang dapat menghambat terjadi ikatan antara protein virus dengan ACE2 bentuk fixed pada permukaan sel inang. ACE 2 merupakan sel inang bagi Covid-19.
Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) Dr Inggrid Tania mendukung hasil penelitian tersebut. Dia menjelaskan, secara fungsional ada dua bentuk ACE2, yaitu fixed (menempel pada permukaan sel) dan soluble (bentuk bebas dalam darah). “Temulawak sudah dikonsumsi masyarakat Indonesia selama berabad-abad. Berdasarkan empirical experiental evidence, scientific evidence, danclinical evidence,temulawak terbukti aman dan memberikan manfaat daya tahan tubuh,” jelasnya.
Dr Raphael Aswin Susilowidodo, VP Research and Development SOHO Global Health, menganjurkan masyarakat untuk menggunakan temulawak yang telah diekstrak karena kadar curcumin-nya lebih terukur sehingga sesuai dengan kebutuhan tubuh.
Selain temulawak, bahan alami yang bisa menangkal virus korona adalah kulit jeruk. Ini merupakan hasil riset dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), Farmasi UI, Pusat Studi Biofarmaka Tropika (TropBRC), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University, dan Departemen Ilmu Komputer, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University. Penelitian memfokuskan bioinformatika untuk menemukan senyawa yang berpotensi untuk melawan Covid-19. Senyawa tersebut adalah golongan flavonoid, yaitu satu di antaranya hesperidin yang bisa memberikan perlindungan terhadap mikroba dan virus.
Senyawa ini banyak ditemukan di kulit buah jeruk. Dengan demikian, selama berdiam di rumah, masyarakat dapat membuat jus jeruk sendiri dengan lupa menambahkan sedikit kulit jeruk yang sudah dicuci bersih. “Memang akan terasa sedikit pahit. Tapi, itu menunjukkan hesperidin ada di dalamnya,” ujar Guru Besar IPB University yang juga Kepala Pusat Trop BRC Prof Irmanida Batubara. (Andika H Mustaqim/Sri Noviarni)
Dalam penelitiannya pada 2008, curcumin pada temulawak mampu mengendalikan sitokin inflamatori sehingga tidak terjadi badai sitokin. Hasil penelitian Prof Nidom ini sejalan dan memperkuat penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa temulawak memiliki efek terhadap daya tahan tubuh, yaitu sebagai imunomodulator. Melalui penelitian ini juga dinyatakan bahwa curcumin dapat memodulasi sistem daya tahan tubuh dengan cara meningkatkan kemampuan proliferasi sel T.
Penelitian bioinformatika yang dipublikasikan pada Maret 2020 dan kepustakaan terbaru telah menyebut bahwa curcumin merupakan satu di antara kandidat antivirus SARS-CoV-2. Curcumin yang terkandung pada temulawak diharapkan mampu meningkatkan ekspresi ACE2 bentuk soluble yang dapat menghambat terjadi ikatan antara protein virus dengan ACE2 bentuk fixed pada permukaan sel inang. ACE 2 merupakan sel inang bagi Covid-19.
Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) Dr Inggrid Tania mendukung hasil penelitian tersebut. Dia menjelaskan, secara fungsional ada dua bentuk ACE2, yaitu fixed (menempel pada permukaan sel) dan soluble (bentuk bebas dalam darah). “Temulawak sudah dikonsumsi masyarakat Indonesia selama berabad-abad. Berdasarkan empirical experiental evidence, scientific evidence, danclinical evidence,temulawak terbukti aman dan memberikan manfaat daya tahan tubuh,” jelasnya.
Dr Raphael Aswin Susilowidodo, VP Research and Development SOHO Global Health, menganjurkan masyarakat untuk menggunakan temulawak yang telah diekstrak karena kadar curcumin-nya lebih terukur sehingga sesuai dengan kebutuhan tubuh.
Selain temulawak, bahan alami yang bisa menangkal virus korona adalah kulit jeruk. Ini merupakan hasil riset dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), Farmasi UI, Pusat Studi Biofarmaka Tropika (TropBRC), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University, dan Departemen Ilmu Komputer, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University. Penelitian memfokuskan bioinformatika untuk menemukan senyawa yang berpotensi untuk melawan Covid-19. Senyawa tersebut adalah golongan flavonoid, yaitu satu di antaranya hesperidin yang bisa memberikan perlindungan terhadap mikroba dan virus.
Senyawa ini banyak ditemukan di kulit buah jeruk. Dengan demikian, selama berdiam di rumah, masyarakat dapat membuat jus jeruk sendiri dengan lupa menambahkan sedikit kulit jeruk yang sudah dicuci bersih. “Memang akan terasa sedikit pahit. Tapi, itu menunjukkan hesperidin ada di dalamnya,” ujar Guru Besar IPB University yang juga Kepala Pusat Trop BRC Prof Irmanida Batubara. (Andika H Mustaqim/Sri Noviarni)
(ysw)
Lihat Juga :