Protes Raja Tak Berhenti, Thailand Larang Demonstrasi
Jum'at, 16 Oktober 2020 - 10:15 WIB
loading...
A
A
A
“Kita belum bisa memulihkan demokrasi sejati saat ini,” kata Sun Pathong, aktivis veteran yang dikenal dengan gerakan antikemapanan dan menentang aksi kudeta Prayuth pada 2014. “Saya akan kembali. Kita akan melanjutkan perlawanan meskipun kita berisiko mengorbankan nyawa,” ujarnya.
Pemimpin mahasiswa Panusaya “Rung” Sithijirawattanakul mengatakan, para demonstran akan melanjutkan aksi demonstrasi. Ajakan demonstrasi itu juga disebarkan melalui media sosial. Namun, beberapa media melaporkan Panusaya kemarin ditangkap polisi di mana beredar foto yang menunjukkan dia ditangkap dengan menggunakan kursi roda dan melambaikan salam tiga sebagai simbol kampanye prodemokrasi. (Baca juga: Pendidikan Guru Penggerak Diikuti 2.800 Guru)
Polisi berkomentar mengenai penangkapan Panusaya. Namun, mereka mengonfirmasi penangkapan pemimpin demonstrasi Parit "Penguin" Chirawat dan pengacara hak asasi manusia Arnon Nampa. Juru bicara kepolisian Thailand , Kissana Phathanacharoen, mengatakan, rencana aksi demonstrasi para anak muda tetap dilarang dengan adanya dekrit terbaru.
Dekrit terbaru juga melarang publikasi berita dan informasi online yang bisa menciptakan ketakutan atau berdampak pada keamanan nasional. Dekrit juga melarang informasi elektronik yang berisi pesan yang dapat menimbulkan ketakutan atau sengaja memutarbalikkan informasi sehingga menimbulkan kesalahpahaman yang akan memengaruhi keamanan atau perdamaian nasional dan ketertiban.
Hal yang itu juga memungkinkan pihak berwenang untuk menghentikan orang-orang memasuki "daerah mana pun yang mereka tunjuk”. Dekrit juga bisa menjadi dasar bagi aparat kepolisian menangkap orang yang dianggap merugikan keamanan. (Baca juga: Jaga Kesehatan Mata, Batasi Anak Main Gadget)
Gerakan protes yang dipimpin oleh mahasiswa, yang dimulai pada Juli dan terus berkembang, telah menjadi tantangan terbesar dalam beberapa tahun terakhir bagi penguasa Thailand. Serangkaian protes selama akhir pekan di ibu kota adalah beberapa yang terbesar dalam beberapa tahun, dengan ribuan menentang pihak berwenang untuk berkumpul dan menuntut perubahan.
Pemimpin mahasiswa Panusaya “Rung” Sithijirawattanakul mengatakan, para demonstran akan melanjutkan aksi demonstrasi. Ajakan demonstrasi itu juga disebarkan melalui media sosial. Namun, beberapa media melaporkan Panusaya kemarin ditangkap polisi di mana beredar foto yang menunjukkan dia ditangkap dengan menggunakan kursi roda dan melambaikan salam tiga sebagai simbol kampanye prodemokrasi. (Baca juga: Pendidikan Guru Penggerak Diikuti 2.800 Guru)
Polisi berkomentar mengenai penangkapan Panusaya. Namun, mereka mengonfirmasi penangkapan pemimpin demonstrasi Parit "Penguin" Chirawat dan pengacara hak asasi manusia Arnon Nampa. Juru bicara kepolisian Thailand , Kissana Phathanacharoen, mengatakan, rencana aksi demonstrasi para anak muda tetap dilarang dengan adanya dekrit terbaru.
Dekrit terbaru juga melarang publikasi berita dan informasi online yang bisa menciptakan ketakutan atau berdampak pada keamanan nasional. Dekrit juga melarang informasi elektronik yang berisi pesan yang dapat menimbulkan ketakutan atau sengaja memutarbalikkan informasi sehingga menimbulkan kesalahpahaman yang akan memengaruhi keamanan atau perdamaian nasional dan ketertiban.
Hal yang itu juga memungkinkan pihak berwenang untuk menghentikan orang-orang memasuki "daerah mana pun yang mereka tunjuk”. Dekrit juga bisa menjadi dasar bagi aparat kepolisian menangkap orang yang dianggap merugikan keamanan. (Baca juga: Jaga Kesehatan Mata, Batasi Anak Main Gadget)
Gerakan protes yang dipimpin oleh mahasiswa, yang dimulai pada Juli dan terus berkembang, telah menjadi tantangan terbesar dalam beberapa tahun terakhir bagi penguasa Thailand. Serangkaian protes selama akhir pekan di ibu kota adalah beberapa yang terbesar dalam beberapa tahun, dengan ribuan menentang pihak berwenang untuk berkumpul dan menuntut perubahan.
Lihat Juga :