Pakar: Kebijakan AS Terhadap Kurdi Ditujukan untuk Memecah Irak dan Suriah
Senin, 05 Oktober 2020 - 05:29 WIB
loading...
A
A
A
Pernyataan yang dibuat oleh Jeffrey dapat diartikan sebagai seruan untuk pembentukan negara Kurdi dan tidak mungkin telah disepakati sebelumnya dengan Ankara, kata Abdullah Agar, seorang ahli keamanan dan pensiunan perwira perang khusus dan komando.
"Turki telah memerangi terorisme selama beberapa dekade. Perjuangan jangka panjang ini tidak bisa diakhiri dengan pembentukan negara Partai Pekerja Kurdistan (PKK)," kata pakar keamanan Turki, Abdullah Agar, seperti dilansir Sputnik.
"Dulu, sesuai dengan kenyataan saat itu, sejumlah kesepakatan bisa saja tercapai, tapi saya kira tidak ada dari mereka mengizinkan pembentukan negara teroris atau akan memberikan, meskipun secara tidak langsung, persetujuan untuk ini. Dalam hal ini, Turki akan mencoret semua pencapaiannya dalam perang melawan terorisme," sambungnya.
Agar mengatakan, kebijakan AS membahayakan integritas teritorial Suriah dan Irak dengan memberikan pasukan Kurdi "jaminan" tersebut. Washington, jelasnya, mencoba untuk memberikan keseimbangan yang menguntungkannya dan berusaha untuk mengintegrasikan struktur dan formasi Kurdi oposisi dengan PKK dan penuh dengan risiko memicu perpecahan di Suriah, dan juga di Irak.
Dia mengingatkan bahwa referendum kemerdekaan yang diselenggarakan oleh Pemerintahan Regional Kurdi Irak pada 25 September 2017 tidak mendapat dukungan dari AS. "Kemudian Barzani tergesa-gesa dan akibat tergesa-gesa ini dia kehilangan Kirkuk. Namun, sekarang ketika waktu dan kondisi berubah, situasi destabilisasi menjadi jelas," ungkapnya.
"Turki telah memerangi terorisme selama beberapa dekade. Perjuangan jangka panjang ini tidak bisa diakhiri dengan pembentukan negara Partai Pekerja Kurdistan (PKK)," kata pakar keamanan Turki, Abdullah Agar, seperti dilansir Sputnik.
"Dulu, sesuai dengan kenyataan saat itu, sejumlah kesepakatan bisa saja tercapai, tapi saya kira tidak ada dari mereka mengizinkan pembentukan negara teroris atau akan memberikan, meskipun secara tidak langsung, persetujuan untuk ini. Dalam hal ini, Turki akan mencoret semua pencapaiannya dalam perang melawan terorisme," sambungnya.
Agar mengatakan, kebijakan AS membahayakan integritas teritorial Suriah dan Irak dengan memberikan pasukan Kurdi "jaminan" tersebut. Washington, jelasnya, mencoba untuk memberikan keseimbangan yang menguntungkannya dan berusaha untuk mengintegrasikan struktur dan formasi Kurdi oposisi dengan PKK dan penuh dengan risiko memicu perpecahan di Suriah, dan juga di Irak.
Dia mengingatkan bahwa referendum kemerdekaan yang diselenggarakan oleh Pemerintahan Regional Kurdi Irak pada 25 September 2017 tidak mendapat dukungan dari AS. "Kemudian Barzani tergesa-gesa dan akibat tergesa-gesa ini dia kehilangan Kirkuk. Namun, sekarang ketika waktu dan kondisi berubah, situasi destabilisasi menjadi jelas," ungkapnya.
Lihat Juga :