Risiko Perang Nuklir AS-China Meningkat, Pakar Sarankan Dipantau dengan Hati-hati
Selasa, 29 September 2020 - 12:33 WIB
loading...
A
A
A
Laporan baru olehfellow non-residentdi Pusat Studi AS, Fiona Cunningham, menyerukan Australia dan negara-negara lain untuk mendesak AS dan China kembali ke pembicaraan pengendalian senjata.
Beijing telah menolak untuk bergabung dalam pembicaraan antara AS dan Rusia tentang kontrol senjata nuklir, dengan mengatakan pihaknya hanya akan melakukannya jika Washington mengurangi persenjataannya ke level yang sama.(Baca: Pentagon: China Lirik Indonesia untuk Dijadikan Pangkalan Militernya )
Cunningham mengatakan kemampuan baru Beijing tidak selalu menunjukkan bahwa mereka mengejar strategi pengguna pertama senjata nuklir, tetapi hal itu merusak kredibilitas argumennya bahwa mereka hanya memiliki strategi "retaliatory-only(hanya pembalasan)".
"Pasukan nuklir China perlu dipantau secara hati-hati untuk melihat tanda-tanda perubahan strategi, mengingat keadaan geopolitik saat ini," kata pakar kebijakan luar negeri tersebut kepadaThe Sydney Morning HeralddanThe Age, Selasa (29/9/2020).
"Strategi nuklir China masih terlihat sangat berbeda dari negara-negara yang secara eksplisit mengancam pengguna pertama seperti Pakistan, atau tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan senjata nuklir terlebih dahulu, seperti Amerika Serikat."
Menurut laporan itu, persenjataan nuklir China telah tumbuh dan beragam dengan cara yang konsisten dengan pengekangan yang berkelanjutan, tetapi juga meletakkan dasar bagi Beijing untuk mengadopsi postur nuklir yang lebih ofensif di masa depan.(Baca: China Tembakkan Rudal Pembunuh Kapal Induk, Peringatan untuk AS )
Beijing telah menolak untuk bergabung dalam pembicaraan antara AS dan Rusia tentang kontrol senjata nuklir, dengan mengatakan pihaknya hanya akan melakukannya jika Washington mengurangi persenjataannya ke level yang sama.(Baca: Pentagon: China Lirik Indonesia untuk Dijadikan Pangkalan Militernya )
Cunningham mengatakan kemampuan baru Beijing tidak selalu menunjukkan bahwa mereka mengejar strategi pengguna pertama senjata nuklir, tetapi hal itu merusak kredibilitas argumennya bahwa mereka hanya memiliki strategi "retaliatory-only(hanya pembalasan)".
"Pasukan nuklir China perlu dipantau secara hati-hati untuk melihat tanda-tanda perubahan strategi, mengingat keadaan geopolitik saat ini," kata pakar kebijakan luar negeri tersebut kepadaThe Sydney Morning HeralddanThe Age, Selasa (29/9/2020).
"Strategi nuklir China masih terlihat sangat berbeda dari negara-negara yang secara eksplisit mengancam pengguna pertama seperti Pakistan, atau tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan senjata nuklir terlebih dahulu, seperti Amerika Serikat."
Menurut laporan itu, persenjataan nuklir China telah tumbuh dan beragam dengan cara yang konsisten dengan pengekangan yang berkelanjutan, tetapi juga meletakkan dasar bagi Beijing untuk mengadopsi postur nuklir yang lebih ofensif di masa depan.(Baca: China Tembakkan Rudal Pembunuh Kapal Induk, Peringatan untuk AS )
Lihat Juga :