Pemimpin Dunia Desak Armenia-Azerbaijan Menahan Diri
Selasa, 29 September 2020 - 11:35 WIB
loading...
A
A
A
Presiden Amerika Serikat (AS) mengatakan AS akan berupaya mencegah terjadinya perang. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) AS juga mendesak Azerbaijan dan Armenia menghentikan aksi kekerasan dan retorika yang dapat mempertajam permusuhan dan akan memperburuk situasi. Kemlu AS juga mengutuk kerusuhan pekan lalu.
Calon Presiden AS dari Partai Demokrat, Joe Biden, yang juga mantan Wakil Presiden AS, mendesak Trump agar segera membantu Azerbaijan dan Armenia melancarkan gencatan senjata serta memastikan pihak asing, terutama Rusia, tidak memasok senjata kepada dua belah pihak. Dia khawatir ketegangan antara Azerbaijan dan Armenia tidak akan terbendung.
Nagorno-Karabakh memisahkan diri dari Azerbaijan setelah Uni Soviet runtuh pada 1991 hingga terjadi pertempuran hebat yang menewaskan 30.000 orang dan ribuan orang terusir dari kampung halamannya. Meski gencatan senjata sudah dicapai pada 1994, Azerbaijan dan Armenia sering terlibat ketegangan diplomatik serta kekerasan senjata api. (Baca juga: Pneumonia Butuh Pertolongan Serius)
Armenia menyatakan pasukan Azerbaijan telah menyerang warga sipil, termasuk warga ibu kota Nagorno-Karabakh, Stepanakert, dan siap melancarkan operasi militer. “Kami akan berdiri tegap bersama pasukan militer untuk menjaga kedaulatan ibu pertiwi dari serangan Azeri,” kata Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan di Twitter.
Azerbaijan membantah pernyataan Kementerian Pertahanan (Kemhan) Armenia sebelumnya yang mengklaim telah menghancurkan tank dan helikopter milik Azerbaijan. Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev, menuduh pasukan Armenia meluncurkan serangan terorganisasi dengan dilengkapi target untuk mengguncang stabilitas kawasan.
“Kami akan mempertahankan wilayah kami karena kami memiliki hak untuk itu. Alasan kami juga memiliki dasar. Karabakh merupakan wilayah Azerbaijan,” ujar Aliyev. Azerbaijan kini memberlakukan jam malam dan menerapkan aturan militer agar bisa cepat merespons situasi di lapangan, sedangkan Armenia mendeklarasikan darurat militer dan mobilisasi armada tempur. (Baca juga: Era Teknologi KTP Biometrik Dimulai)
Turki menyatakan berkomunikasi dengan kelompok Minsk untuk memediasi ketegangan Azerbaijan dan Armenia. Sejauh ini Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan baru berkomunikasi dengan Aliyev, sedangkan Presiden Rusia Vladimir Putin dengan Pashinyan. Erdogan mendukung Azerbaijan dan menyatakan separatis sebagai ancaman nasional.
Calon Presiden AS dari Partai Demokrat, Joe Biden, yang juga mantan Wakil Presiden AS, mendesak Trump agar segera membantu Azerbaijan dan Armenia melancarkan gencatan senjata serta memastikan pihak asing, terutama Rusia, tidak memasok senjata kepada dua belah pihak. Dia khawatir ketegangan antara Azerbaijan dan Armenia tidak akan terbendung.
Nagorno-Karabakh memisahkan diri dari Azerbaijan setelah Uni Soviet runtuh pada 1991 hingga terjadi pertempuran hebat yang menewaskan 30.000 orang dan ribuan orang terusir dari kampung halamannya. Meski gencatan senjata sudah dicapai pada 1994, Azerbaijan dan Armenia sering terlibat ketegangan diplomatik serta kekerasan senjata api. (Baca juga: Pneumonia Butuh Pertolongan Serius)
Armenia menyatakan pasukan Azerbaijan telah menyerang warga sipil, termasuk warga ibu kota Nagorno-Karabakh, Stepanakert, dan siap melancarkan operasi militer. “Kami akan berdiri tegap bersama pasukan militer untuk menjaga kedaulatan ibu pertiwi dari serangan Azeri,” kata Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan di Twitter.
Azerbaijan membantah pernyataan Kementerian Pertahanan (Kemhan) Armenia sebelumnya yang mengklaim telah menghancurkan tank dan helikopter milik Azerbaijan. Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev, menuduh pasukan Armenia meluncurkan serangan terorganisasi dengan dilengkapi target untuk mengguncang stabilitas kawasan.
“Kami akan mempertahankan wilayah kami karena kami memiliki hak untuk itu. Alasan kami juga memiliki dasar. Karabakh merupakan wilayah Azerbaijan,” ujar Aliyev. Azerbaijan kini memberlakukan jam malam dan menerapkan aturan militer agar bisa cepat merespons situasi di lapangan, sedangkan Armenia mendeklarasikan darurat militer dan mobilisasi armada tempur. (Baca juga: Era Teknologi KTP Biometrik Dimulai)
Turki menyatakan berkomunikasi dengan kelompok Minsk untuk memediasi ketegangan Azerbaijan dan Armenia. Sejauh ini Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan baru berkomunikasi dengan Aliyev, sedangkan Presiden Rusia Vladimir Putin dengan Pashinyan. Erdogan mendukung Azerbaijan dan menyatakan separatis sebagai ancaman nasional.
Lihat Juga :