Pemimpin Dunia Desak Armenia-Azerbaijan Menahan Diri
Selasa, 29 September 2020 - 11:35 WIB
loading...
A
A
A
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengaku cemas dan meminta Azerbaijan serta Armenia berhenti berseteru dan kembali berdamai. Uni Eropa, Organisasi untuk Kerja Sama dan Keamanan Eropa, dan Paus Fransiskus juga mendesak kedua negara menahan diri dan tidak melakukan aksi militer.
Sementara itu, Menteri pertahanan Armenia mengatakan, sebuah serangan pada permukiman warga di Nagorno-Karabakh, termasuk di ibu kota daerah Stepanakert, terjadi pukul 08.10 waktu setempat, Minggu (27/09). Seorang perempuan dan anak dibunuh, kata para pejabat. Otoritas separatis di Nagorno-Karabakh mengatakan 16 prajurit mereka tewas dan 100 lainnya mengalami luka. (Baca juga: Pengamat: Jika Pancasila Berhasil Dibuka, Kebangkitan PKI Nyata)
Armenia mengatakan, telah menembak jatuh dua helikopter dan tiga pesawat tanpa awak, serta menghancurkan tiga tank. Pemerintah Armenia menetapkan darurat militer dan mobilisasi militer secara total sesaat setelah pengumuman yang sama dari otoritas di Nagorno-Karabakh. Darurat militer adalah sebuah langkah darurat yang memberi kewenangan pada militer untuk mengambil alih fungsi pemerintahan sipil.
Azerbaijan mengeluarkan gambar yang mereka sebut sebagai kehancuran kendaraan baja Armenia. “Bersiap untuk mempertahankan tanah air kami yang suci,” ungkap PM Armenia, Nikol Pashinyan. Dia menuding Azerbaijan melakukan agresi yang telah dirancang sebelumnya.
Seraya memberi peringatan bahwa wilayah itu berada di ambang “perang berskala besar” dan menuduh Turki “berperilaku agresif”, dia mendesak komunitas internasional bersatu mencegah ketidakstabilan lebih lanjut.
Menurut jaksa Azerbaijan, lima orang dari satu keluarga dibunuh oleh orang-orang Armenia di salah satu desa di Azerbaijan. Menteri pertahanan Azerbaijan mengonfirmasi telah kehilangan satu helikopter, tapi mengatakan krunya selamat. (Lihat videonya: Sepeda Kayu dari Limbah Kayu Pinus)
Kemudian melaporkan bahwa 12 sistem pertahanan udara milik Armenia telah dihancurkan, tapi hal ini dibantah Armenia. Presiden Aliyev mengatakan telah memerintahkan operasi kontra-ofensif berskala besar sebagai respons dari serangan pasukan Armenia. (Muh Shamil)
Sementara itu, Menteri pertahanan Armenia mengatakan, sebuah serangan pada permukiman warga di Nagorno-Karabakh, termasuk di ibu kota daerah Stepanakert, terjadi pukul 08.10 waktu setempat, Minggu (27/09). Seorang perempuan dan anak dibunuh, kata para pejabat. Otoritas separatis di Nagorno-Karabakh mengatakan 16 prajurit mereka tewas dan 100 lainnya mengalami luka. (Baca juga: Pengamat: Jika Pancasila Berhasil Dibuka, Kebangkitan PKI Nyata)
Armenia mengatakan, telah menembak jatuh dua helikopter dan tiga pesawat tanpa awak, serta menghancurkan tiga tank. Pemerintah Armenia menetapkan darurat militer dan mobilisasi militer secara total sesaat setelah pengumuman yang sama dari otoritas di Nagorno-Karabakh. Darurat militer adalah sebuah langkah darurat yang memberi kewenangan pada militer untuk mengambil alih fungsi pemerintahan sipil.
Azerbaijan mengeluarkan gambar yang mereka sebut sebagai kehancuran kendaraan baja Armenia. “Bersiap untuk mempertahankan tanah air kami yang suci,” ungkap PM Armenia, Nikol Pashinyan. Dia menuding Azerbaijan melakukan agresi yang telah dirancang sebelumnya.
Seraya memberi peringatan bahwa wilayah itu berada di ambang “perang berskala besar” dan menuduh Turki “berperilaku agresif”, dia mendesak komunitas internasional bersatu mencegah ketidakstabilan lebih lanjut.
Menurut jaksa Azerbaijan, lima orang dari satu keluarga dibunuh oleh orang-orang Armenia di salah satu desa di Azerbaijan. Menteri pertahanan Azerbaijan mengonfirmasi telah kehilangan satu helikopter, tapi mengatakan krunya selamat. (Lihat videonya: Sepeda Kayu dari Limbah Kayu Pinus)
Kemudian melaporkan bahwa 12 sistem pertahanan udara milik Armenia telah dihancurkan, tapi hal ini dibantah Armenia. Presiden Aliyev mengatakan telah memerintahkan operasi kontra-ofensif berskala besar sebagai respons dari serangan pasukan Armenia. (Muh Shamil)
(ysw)
Lihat Juga :