Putin Desak AS Setujui Pakta Tak Saling Ikut Campur Pemilu
Sabtu, 26 September 2020 - 06:08 WIB
loading...
Presiden Rusia Vladimir Putin. Foto/REUTERS/Maxim Zmeyev
A
A
A
MOSKOW - Presiden Rusia Vladimir Putin telah mendesak Amerika Serikat (AS) untuk menyetujui pakta yang mengamanatkan kedua negara tidak saling ikut campur dalam pemilihan umum (pemilu) masing-masing.
Desakan itu muncul ketika kedua negara sama-sama menuduh satu sama lain melakukan kampanye disinformasi dan campur tangan pemilu via media sosial.
Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov membacakan pernyataan dari Putin, ketika presiden Rusia itu mengunjungi latihan militer yang melibatkan China dan Iran di Rusia selatan. (Baca: Pencipta Novichok Sebut Racun Novichok Sebanding dengan Bom Nuklir )
"Putin meminta kedua negara untuk terlibat dalam dialog ahli profesional yang akan menciptakan jaminan tidak adanya campur tangan dalam urusan internal satu sama lain, terutama penggunaan teknologi informasi dan komunikasi," bunyi pernyataan Putin, seperti dikutip kantor berita TASS, Sabtu (26/9/2020).
Putin mengusulkan agar kedua negara mencapai kesepakatan untuk mencegah insiden besar dunia maya, membandingkan kesepakatan tersebut dengan kesepakatan Soviet-Amerika 1972 untuk mengurangi kemungkinan insiden di laut atau di udara.
"Salah satu tantangan strategis utama saat ini adalah risiko konfrontasi skala besar di bidang digital," kata pemimpin Rusia itu. "Tanggung jawab khusus untuk pencegahannya terletak pada pemain kunci di bidang memastikan keamanan informasi internasional.” (Baca: FBI Bongkar Cara Rusia Rusak Kampanye Joe Biden )
Badan intelijen AS telah menyimpulkan bahwa Rusia ikut campur dalam pemilihan presiden AS 2016, termasuk meretas kampanye Hillary Clinton, meskipun Moskow membantah tuduhan tersebut.
Desakan itu muncul ketika kedua negara sama-sama menuduh satu sama lain melakukan kampanye disinformasi dan campur tangan pemilu via media sosial.
Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov membacakan pernyataan dari Putin, ketika presiden Rusia itu mengunjungi latihan militer yang melibatkan China dan Iran di Rusia selatan. (Baca: Pencipta Novichok Sebut Racun Novichok Sebanding dengan Bom Nuklir )
"Putin meminta kedua negara untuk terlibat dalam dialog ahli profesional yang akan menciptakan jaminan tidak adanya campur tangan dalam urusan internal satu sama lain, terutama penggunaan teknologi informasi dan komunikasi," bunyi pernyataan Putin, seperti dikutip kantor berita TASS, Sabtu (26/9/2020).
Putin mengusulkan agar kedua negara mencapai kesepakatan untuk mencegah insiden besar dunia maya, membandingkan kesepakatan tersebut dengan kesepakatan Soviet-Amerika 1972 untuk mengurangi kemungkinan insiden di laut atau di udara.
"Salah satu tantangan strategis utama saat ini adalah risiko konfrontasi skala besar di bidang digital," kata pemimpin Rusia itu. "Tanggung jawab khusus untuk pencegahannya terletak pada pemain kunci di bidang memastikan keamanan informasi internasional.” (Baca: FBI Bongkar Cara Rusia Rusak Kampanye Joe Biden )
Badan intelijen AS telah menyimpulkan bahwa Rusia ikut campur dalam pemilihan presiden AS 2016, termasuk meretas kampanye Hillary Clinton, meskipun Moskow membantah tuduhan tersebut.
Lihat Juga :