Ini Rudal Kheibar Shekan Iran yang Obrak-abrik Pangkalan AS: Misil Murah tapi Lebih Akurat
Senin, 27 Juli 2026 - 10:37 WIB
loading...
Iran dilaporkan menggunakan rudal Kheibar Shekan dalam serangan baru-baru ini terhadap pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah. Foto/IranPress
A
A
A
TEHERAN - Iran telah menggunakan rudal Kheibar Shekan dalam serangan baru-baru ini yang menghancurkan aset-aset militer Amerika Serikat (AS) di berbagai pangkalan di Timur Tengah. Senjata itu merupakan rudal murah, mudah dipindahkan, dan lebih akurat, yang memiliki jangkauan setidaknya 1.400 kilometer.
Penggunaan misil itu diungkap The Wall Street Journal dalam laporannya yang mengutip para pejabat AS.
Baca Juga: AS Pertimbangkan Operasi Paling Canggih untuk Curi Uranium Iran, Libatkan Ribuan Tentara
Serangan Iran paling merusak adalah di Yordania, di mana rudal dan drone Teheran menewaskan tiga tentara AS. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengeklaim serangan terhadap pangkalan AS di Yordania menghancurkan 11 pesawat militer dan helikopter di darat serta beberapa sistem pertahanan canggih seperti Patriot dan THAAD.
Rudal Kheibar Shekan jarak menengah berbahan bakar padat berbeda dari rudal Iran yang lebih tua yang memerlukan pengisian bahan bakar sebelum peluncuran—sebuah proses panjang yang dapat dilewati oleh Kheibar Shekan dengan menjaga bahan bakar tetap penuh dan mampu dimuat dengan cepat ke dalam truk atau kendaraan lain untuk diluncurkan.
Menurut para pakar militer, kepraktisan inilah yang membuat misil tersebut lebih mudah untuk menghindari pesawat tempur AS dan Israel yang berupaya menghancurkan situs peluncuran rudal Iran.
Meskipun AS dan sekutunya telah menembak jatuh sebagian besar Kheibar Shekan selama perang, salah satu pejabat AS mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa beberapa di antaranya berhasil lolos. Menurut para pejabat tersebut, Iran telah menggunakan jalur penerbangan, manuver, dan kecepatan yang berbeda untuk membingungkan pertahanan AS.
Kheibar Shekan juga lebih sulit dihancurkan daripada rudal lain, karena memiliki kemampuan manuver yang lebih tinggi. Beberapa varian memiliki mesin kecil di bagian depan yang membawa hulu ledak eksplosif dan terlepas selama fase akhir penerbangan. Menurut laporan The Wall Street Journal, hal itu membuatnya mampu menyesuaikan arah saat mendekati targetnya dengan kecepatan sekitar 10.000 kilometer per jam.
Iran menggabungkan peluncuran rudal Kheibar Shekan dengan peluncuran drone serang berkecepatan tinggi dan rudal yang kurang canggih, menargetkan, antara lain, radar yang mendukung pertahanan udara di seluruh wilayah dan area perumahan untuk pasukan AS di pangkalan-pangkalan di seluruh Timur Tengah, imbuh para pejabat AS.
“Saya pikir ini menunjukkan bahwa Iran memperhatikan, dan mereka belajar, dan mereka mencari cara untuk menyerang kita,” kata Jenderal Angkatan Darat Joseph Votel, yang pernah memimpin Komando Pusat AS, seperti dikutip dari The Wall Street Journal, Senin (27/7/2026).
“Ini adalah militer yang memiliki kemampuan drone yang berkembang dengan baik; mereka memiliki program rudal, program roket untuk jangka waktu yang lama. Mereka memiliki banyak keahlian di bidang ini,” imbuh dia.
Meskipun Iran diyakini memiliki 2.500 rudal Keibar Shekan dan rudal jarak menengah lainnya sebelum perang dimulai, menurut perkiraan AS dan Israel, mereka mungkin sedang merakit lebih banyak lagi dari komponen di pangkalan bawah tanah.
Namun, fasilitas produksi tempat mesin rudal dibangun telah dihancurkan, kata Fabian Hinz, seorang pakar rudal independen, kepada The Wall Street Journal.
Iran, menurut Hinz, kemungkinan mempelajari peluncuran sebelumnya untuk memaksimalkan peluang rudal mereka mencapai target.
"Iran telah melihat jenis manuver apa yang paling efektif untuk mengatasi pertahanan rudal. Setiap penggunaan tempur memberikan Anda semacam data, jadi itu sangat berguna bagi Iran," kata Hinz.
Iran belum mengungkapkan biaya produksi Khebar Shekan, tetapi analis mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa rudal tersebut jauh lebih murah daripada misil pencegat AS dan Israel yang digunakan untuk menghentikannya, dengan biaya antara USD2 juta hingga USD15 juta, tergantung pada sistemnya.
Israel mengatakan telah menembak sebagian besar rudal Kheibar Shekan yang ditembakkan ke arahnya oleh Iran, yang mengeklaim pernah menargetkan kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu serta target lain dengan rudal tersebut.
Penggunaan misil itu diungkap The Wall Street Journal dalam laporannya yang mengutip para pejabat AS.
Baca Juga: AS Pertimbangkan Operasi Paling Canggih untuk Curi Uranium Iran, Libatkan Ribuan Tentara
Serangan Iran paling merusak adalah di Yordania, di mana rudal dan drone Teheran menewaskan tiga tentara AS. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengeklaim serangan terhadap pangkalan AS di Yordania menghancurkan 11 pesawat militer dan helikopter di darat serta beberapa sistem pertahanan canggih seperti Patriot dan THAAD.
Rudal Kheibar Shekan jarak menengah berbahan bakar padat berbeda dari rudal Iran yang lebih tua yang memerlukan pengisian bahan bakar sebelum peluncuran—sebuah proses panjang yang dapat dilewati oleh Kheibar Shekan dengan menjaga bahan bakar tetap penuh dan mampu dimuat dengan cepat ke dalam truk atau kendaraan lain untuk diluncurkan.
Menurut para pakar militer, kepraktisan inilah yang membuat misil tersebut lebih mudah untuk menghindari pesawat tempur AS dan Israel yang berupaya menghancurkan situs peluncuran rudal Iran.
Meskipun AS dan sekutunya telah menembak jatuh sebagian besar Kheibar Shekan selama perang, salah satu pejabat AS mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa beberapa di antaranya berhasil lolos. Menurut para pejabat tersebut, Iran telah menggunakan jalur penerbangan, manuver, dan kecepatan yang berbeda untuk membingungkan pertahanan AS.
Kheibar Shekan juga lebih sulit dihancurkan daripada rudal lain, karena memiliki kemampuan manuver yang lebih tinggi. Beberapa varian memiliki mesin kecil di bagian depan yang membawa hulu ledak eksplosif dan terlepas selama fase akhir penerbangan. Menurut laporan The Wall Street Journal, hal itu membuatnya mampu menyesuaikan arah saat mendekati targetnya dengan kecepatan sekitar 10.000 kilometer per jam.
Iran menggabungkan peluncuran rudal Kheibar Shekan dengan peluncuran drone serang berkecepatan tinggi dan rudal yang kurang canggih, menargetkan, antara lain, radar yang mendukung pertahanan udara di seluruh wilayah dan area perumahan untuk pasukan AS di pangkalan-pangkalan di seluruh Timur Tengah, imbuh para pejabat AS.
“Saya pikir ini menunjukkan bahwa Iran memperhatikan, dan mereka belajar, dan mereka mencari cara untuk menyerang kita,” kata Jenderal Angkatan Darat Joseph Votel, yang pernah memimpin Komando Pusat AS, seperti dikutip dari The Wall Street Journal, Senin (27/7/2026).
“Ini adalah militer yang memiliki kemampuan drone yang berkembang dengan baik; mereka memiliki program rudal, program roket untuk jangka waktu yang lama. Mereka memiliki banyak keahlian di bidang ini,” imbuh dia.
Meskipun Iran diyakini memiliki 2.500 rudal Keibar Shekan dan rudal jarak menengah lainnya sebelum perang dimulai, menurut perkiraan AS dan Israel, mereka mungkin sedang merakit lebih banyak lagi dari komponen di pangkalan bawah tanah.
Namun, fasilitas produksi tempat mesin rudal dibangun telah dihancurkan, kata Fabian Hinz, seorang pakar rudal independen, kepada The Wall Street Journal.
Iran, menurut Hinz, kemungkinan mempelajari peluncuran sebelumnya untuk memaksimalkan peluang rudal mereka mencapai target.
"Iran telah melihat jenis manuver apa yang paling efektif untuk mengatasi pertahanan rudal. Setiap penggunaan tempur memberikan Anda semacam data, jadi itu sangat berguna bagi Iran," kata Hinz.
Iran belum mengungkapkan biaya produksi Khebar Shekan, tetapi analis mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa rudal tersebut jauh lebih murah daripada misil pencegat AS dan Israel yang digunakan untuk menghentikannya, dengan biaya antara USD2 juta hingga USD15 juta, tergantung pada sistemnya.
Israel mengatakan telah menembak sebagian besar rudal Kheibar Shekan yang ditembakkan ke arahnya oleh Iran, yang mengeklaim pernah menargetkan kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu serta target lain dengan rudal tersebut.
(mas)
Lihat Juga :