Xi Jinping dan Akhir dari Narasi Kebangkitan Damai China

Minggu, 28 Juni 2026 - 09:41 WIB
loading...
A A A
Dia menilai janji bahwa China tidak akan mencari hegemoni kini berbenturan dengan perluasan kemampuan strategis Beijing.

"Janji Jiang untuk 'tidak ada hegemoni' adalah jaminan diplomatik. Peningkatan kekuatan nuklir Xi menunjukkan bahwa Beijing sekarang memandang perluasan kekuatan strategis sebagai hal yang diperlukan untuk bertahan hidup dan berpengaruh," ungkapnya.

Menurut Thondup, kondisi tersebut berpotensi mengurangi kredibilitas komitmen China di mata negara-negara lain, mendorong perlombaan senjata di kawasan, serta memperdalam ketidakpercayaan terhadap kebijakan luar negeri Beijing.

Dia juga berpendapat bahwa kebijakan militer China saat ini tidak dapat dipisahkan dari dinamika keamanan di Asia Timur, terutama di sekitar Taiwan dan Laut China Selatan, yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi titik gesekan antara Beijing dan sejumlah negara tetangga maupun Amerika Serikat.

Pergeseran Arah


Di akhir analisisnya, Thondup menyimpulkan bahwa perubahan dari era Jiang ke Xi bukan sekadar penyesuaian kebijakan, melainkan perubahan paradigma.

Menurutnya, narasi "peaceful rise" yang pernah menjadi fondasi diplomasi China telah bergeser menjadi strategi yang lebih menekankan kemampuan deterensi dan dominasi strategis.

"Perjalanan China dari retorika perdamaian Jiang menuju sikap agresif nuklir Xi bukanlah sekadar perubahan kebijakan. Ini adalah penolakan terhadap prinsip-prinsip yang diungkapkan Jiang di Tokyo," tuturnya.

Meski demikian, pandangan tersebut merupakan interpretasi Thondup terhadap perkembangan kebijakan China. Pemerintah Beijing secara konsisten menyatakan bahwa modernisasi militernya bertujuan melindungi kedaulatan nasional, menjaga stabilitas kawasan, serta tidak mengubah komitmen China terhadap pembangunan yang damai.

Namun bagi Thondup, masyarakat internasional perlu lebih memperhatikan tindakan konkret Beijing dibandingkan pernyataan resminya.

"Janji 'kebangkitan damai' telah digantikan oleh strategi pencegahan dan dominasi," kata Thondup.

Dia menutup analisisnya dengan menyatakan bahwa pengalaman dalam dua dekade terakhir menunjukkan pentingnya menilai kebijakan China berdasarkan perkembangan di lapangan.

"Bagi Asia dan dunia, pelajarannya jelas: kata-kata Beijing tidak dapat diterima begitu saja ketika tindakannya terus mengarah kepada hegemoni," pungkas Thondup.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
7 Pekerjaan Pertama...
7 Pekerjaan Pertama Para Pemimpin Dunia yang Tak Banyak Diketahui, Ada yang Jual Teh hingga Jadi Tukang Kayu
Pembangkang China Ini...
Pembangkang China Ini Kabur ke Korea Selatan dengan Perahu Karet, Sekarang Muncul di Kanada
6 Pesawat Pengebom Nuklir...
6 Pesawat Pengebom Nuklir China dan Rusia Manuver Gabungan Dekati Jepang
China Selidiki Insiden...
China Selidiki Insiden Pesawat Tabrak Gedung Tertinggi, Pilot Tewas, 13 Orang Luka
Finlandia Izinkan Wilayahnya...
Finlandia Izinkan Wilayahnya Jadi Lokasi Pengerahan Senjata Nuklir NATO, Rusia Terancam
Pesawat Tabrak Gedung...
Pesawat Tabrak Gedung Tertinggi di China, 1 Jam Setelahnya Tampak Normal
Panda Bond Akan Manfaatkan...
Panda Bond Akan Manfaatkan Skema LCT, Bisa Tambah Cadev USD50 Miliar
Gelombang Panas Dahsyat...
Gelombang Panas Dahsyat Landa Eropa, Picu Lebih dari 200 Kematian di Spanyol dan Prancis
Venezuela Masih Mencekam...
Venezuela Masih Mencekam Diguncang Gempa Susulan, Korban Tewas dan Hilang Terus Bertambah
Rekomendasi
Rencana Batasan Tar-Nikotin...
Rencana Batasan Tar-Nikotin dan Penyeragaman Kemasan Dinilai Ancam Industri Kretek Nasional
Ancaman PHK Masih Mengintai,...
Ancaman PHK Masih Mengintai, Said Iqbal: Dipicu Kenaikan Harga BBM dan Relokasi Pabrik
Mahasiswa Doktoral UNJ...
Mahasiswa Doktoral UNJ Perkuat Literasi Keuangan bagi Calon Guru Malaysia di UTHM
Berita Terkini
7 Pekerjaan Pertama...
7 Pekerjaan Pertama Para Pemimpin Dunia yang Tak Banyak Diketahui, Ada yang Jual Teh hingga Jadi Tukang Kayu
8 Pangkalan Militer...
8 Pangkalan Militer AS Diserang Iran, IRGC: Selat Hormuz Milik Kita
AS dan Iran Saling Serang...
AS dan Iran Saling Serang Lagi, Apakah Masih Ada Harapan Perdamaian di Timur Tengah?
Pembangkang China Ini...
Pembangkang China Ini Kabur ke Korea Selatan dengan Perahu Karet, Sekarang Muncul di Kanada
Iran Tuduh AS Khianati...
Iran Tuduh AS Khianati Perjanjian Damai saat Kedua Pihak Saling Serang
AS Serang 10 Target...
AS Serang 10 Target di Iran, IRGC Balas Bombardir Pangkalan Amerika di Kuwait dan Bahrain
Infografis
5 Alasan Perdamaian...
5 Alasan Perdamaian Amerika Serikat dan Iran Sulit Terwujud
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved