Studi: Surplus Ekspor China Kian Tekan Peluang Industri Negara Berkembang
Minggu, 21 Juni 2026 - 16:22 WIB
loading...
A
A
A
Produktivitas atau Distorsi?
Meski mengkritik dominasi China, kedua ekonom tersebut tidak serta-merta menyimpulkan bahwa semua keberhasilan China berasal dari praktik yang tidak adil.
Mereka mengakui bahwa sektor manufaktur China memiliki berbagai keunggulan nyata.
China memiliki jaringan pemasok yang sangat luas, klaster industri yang terintegrasi, infrastruktur logistik kelas dunia, tingkat otomatisasi yang tinggi, serta kemampuan meningkatkan kapasitas produksi dalam waktu singkat.
Faktor-faktor tersebut membuat perusahaan-perusahaan China tetap kompetitif meskipun biaya tenaga kerja mereka jauh lebih tinggi dibandingkan banyak negara berkembang lainnya.
Data dari United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) menunjukkan bahwa upah pekerja manufaktur China kini jauh melampaui negara-negara pesaing.
Di sektor garmen, misalnya, upah tahunan pekerja China mencapai sekitar USD10.000, atau sekitar lima kali lebih tinggi dibandingkan Bangladesh dan empat kali lebih tinggi dibandingkan India.
Secara teori, perbedaan biaya tenaga kerja sebesar itu seharusnya menciptakan peluang besar bagi negara-negara berupah murah untuk mengambil alih sebagian pasar ekspor.
Namun hal tersebut belum terjadi dalam skala yang signifikan. Karena itu, muncul pertanyaan apakah dominasi China semata-mata berasal dari produktivitas yang lebih tinggi atau justru dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah.
Chatterjee dan Subramanian menyoroti kemungkinan peran subsidi industri, kredit murah, dukungan pemerintah daerah, hingga kebijakan nilai tukar.
Sejumlah analis internasional memperkirakan nilai tukar yuan masih berada di bawah nilai wajarnya sebesar 15 hingga 25 persen.
Jika benar demikian, kondisi tersebut pada dasarnya berfungsi sebagai subsidi tidak langsung bagi eksportir China karena membuat harga produk mereka lebih murah di pasar global.
Pilihan bagi Beijing
Dalam analisisnya, kedua ekonom menilai solusi atas fenomena ini tidak mudah.
Negara-negara berkembang memiliki daya tawar yang terbatas terhadap China. Bahkan Amerika Serikat sendiri dalam beberapa kesempatan mengalami kesulitan mendorong Beijing membuka pasarnya lebih luas.
Karena itu, mereka berpendapat bahwa perubahan paling signifikan justru harus datang dari China sendiri.
Menurut mereka, Beijing dapat memperluas akses bebas tarif bagi produk-produk padat karya dari negara berkembang, mendorong investasi manufaktur China di negara-negara miskin, serta mempercepat internasionalisasi yuan yang berpotensi mengurangi tekanan terhadap perdagangan global.
China juga dinilai dapat memainkan peran yang lebih besar dalam membantu transfer teknologi dan keahlian manufaktur ke negara-negara berkembang.
Pada akhirnya, Chatterjee dan Subramanian berargumen bahwa kepemimpinan global tidak hanya diukur dari kemampuan mendominasi pasar dunia.
"Kepemimpinan tidak hanya berfungsi melalui dominasi, tetapi juga dengan memfasilitasi kebangkitan orang lain," ucap mereka.
Bagi kedua ekonom tersebut, jika China ingin mengambil peran lebih besar dalam tatanan ekonomi global di tengah memudarnya dominasi Amerika Serikat, maka negara itu perlu menunjukkan bahwa kebangkitannya juga dapat membuka peluang bagi negara lain untuk berkembang.
Sebab, sebagaimana yang pernah dinikmati China selama beberapa dekade terakhir, jalur menuju industrialisasi dan kemakmuran tidak akan berkelanjutan jika hanya tersedia bagi satu negara saja.
(mas)
Lihat Juga :