Studi: Surplus Ekspor China Kian Tekan Peluang Industri Negara Berkembang

Minggu, 21 Juni 2026 - 16:22 WIB
loading...
A A A
Melalui ekspor manufaktur, negara itu berhasil menciptakan jutaan lapangan kerja dan mempercepat pertumbuhan ekonomi selama beberapa dekade.

Ironisnya, menurut kedua penulis, keberhasilan China kini berpotensi menutup jalur yang sama bagi negara-negara yang lebih miskin.

Dominasi yang Tak Kunjung Surut


Salah satu temuan utama dalam analisis tersebut adalah besarnya surplus perdagangan manufaktur China.

Saat ini surplus manufaktur China diperkirakan mencapai sekitar USD2,2 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar USD700 miliar hingga USD1,4 triliun berasal dari sektor-sektor yang padat karya dan berintensitas keterampilan rendah.

Sektor-sektor tersebut mencakup pakaian jadi, tekstil, alas kaki, mainan, furnitur, hingga perakitan elektronik.

Secara teori, ketika sebuah negara menjadi semakin kaya dan upah pekerjanya meningkat, industri-industri padat karya biasanya berpindah ke negara yang biaya tenaga kerjanya lebih murah.

Pola tersebut pernah terjadi di Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan sejumlah negara maju lainnya.

Namun menurut Chatterjee dan Subramanian, pola serupa tidak terlihat di China.

Meskipun upah manufaktur China telah meningkat tajam selama dua dekade terakhir, negara tersebut tetap mempertahankan pangsa ekspor yang sangat besar pada sektor-sektor padat karya.

Untuk memahami fenomena tersebut, kedua ekonom tidak hanya melihat nilai ekspor akhir, tetapi juga menghitung apa yang disebut sebagai value-added exports atau nilai tambah yang tercipta di sepanjang rantai produksi.

Pendekatan ini dianggap lebih akurat karena mampu menangkap seluruh aktivitas ekonomi yang terlibat dalam proses produksi, mulai dari bahan baku, komponen, logistik, hingga perakitan.

Hasilnya menunjukkan bahwa dominasi China pada sektor manufaktur padat karya tidak mengalami penurunan berarti. Bahkan dalam beberapa indikator, dominasinya justru terus meningkat.

Ratusan Miliar Dolar Peluang yang Hilang


Para penulis kemudian mencoba mengukur seberapa besar ruang pasar global yang saat ini dikuasai China. Mereka membandingkan pangsa ekspor China dengan proporsi tenaga kerja berkeahlian rendah yang dimiliki negara tersebut.

Pada awal 2000-an, kedua indikator itu relatif seimbang.

Namun dalam satu dekade terakhir, pangsa ekspor manufaktur padat karya China tetap sangat tinggi meskipun proporsi tenaga kerja berupah rendahnya terus menurun.

Berdasarkan perhitungan mereka, "kelebihan" ekspor China pada sektor-sektor padat karya mencapai lebih dari USD355 miliar pada 2022.

Angka tersebut bukan berarti China melakukan pelanggaran perdagangan. Namun menurut mereka, angka itu menunjukkan besarnya ruang pasar yang secara teoritis dapat diisi oleh negara-negara berkembang lainnya.

Dalam sektor tekstil, pakaian jadi, kulit, dan alas kaki saja, nilai ekspor yang dikategorikan sebagai "berlebih" mencapai sekitar USD110 miliar.

Menurut Chatterjee dan Subramanian, nilai sebesar itu berpotensi mendukung puluhan juta lapangan kerja manufaktur di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah.

Manfaat terbesar diperkirakan akan dirasakan negara-negara Afrika Sub-Sahara yang saat ini masih memiliki kapasitas ekspor manufaktur relatif kecil.

Negara-negara Asia Selatan dan Asia Tenggara juga dinilai berpotensi memperoleh keuntungan besar apabila ruang pasar global menjadi lebih terbuka.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS Serang Jembatan Kereta...
AS Serang Jembatan Kereta Api Strategis yang Hubungkan Iran ke China dan Rusia
Akademisi Beijing: Negara...
Akademisi Beijing: Negara Mana Pun yang Berani Perang Nuklir Melawan China Akan Musnah
Uni Eropa Perketat Impor...
Uni Eropa Perketat Impor E-Commerce, Era Paket Murah dari China Mulai Berakhir
China Tembakkan Rudal...
China Tembakkan Rudal Balistik Antarbenua Berkemampuan Nuklir, 6 Negara Protes
China Hukum Mati Mantan...
China Hukum Mati Mantan Pejabat karena Terima Suap Rp5,8 Triliun
AS Ketar-ketir dengan...
AS Ketar-ketir dengan Senjata Nuklir China usai Kapal Selam Beijing Tembakkan Rudal Antarbenua
UMKM Nasional Miliki...
UMKM Nasional Miliki Ketangguhan Hadapi Serbuan Produk China
Koordinator Rekonstruksi...
Koordinator Rekonstruksi Gaza Asal Mesir Tewas dalam Serangan Drone di Kawasan Sabra
Israel Tangkap Mufti...
Israel Tangkap Mufti Agung Yerusalem Sheikh Hussein, Larang Masuk Masjid Al Aqsa
Rekomendasi
Goal Aksis dan Cipta...
Goal Aksis dan Cipta Cendikia FA Berebut Gelar Juara HYDROPLUS Soccer League All-Stars U-15
Besok, Luis Figo Siap...
Besok, Luis Figo Siap Meriahkan Pesta Bola Dunia 2026
Dirut PTPN I Beberkan...
Dirut PTPN I Beberkan Lima Pilar Industri Perkebunan
Berita Terkini
Deretan 66 Negara yang...
Deretan 66 Negara yang Memiliki UU Melarang LGBT
Mojtaba Janji Balas...
Mojtaba Janji Balas Dendam atas Darah Tak Bersalah Ayahnya
Pecahkan Rekor! 10 Juta...
Pecahkan Rekor! 10 Juta Orang Hadiri Upacara Pemakaman Khamenei
Mengapa Turki Jual Sistem...
Mengapa Turki Jual Sistem Pertahanan Udara S-400 ke UEA? Ini Alasan Utamanya
Iran Akui Melakukan...
Iran Akui Melakukan Kesalahan Menembaki Kapal Tanker di Selat Hormuz
Ini Reaksi 9 Pemimpin...
Ini Reaksi 9 Pemimpin Negara NATO setelah Menerima Hadiah Pistol dari Erdogan
Infografis
Tegaskan Status Negara...
Tegaskan Status Negara Berdaulat, Taiwan Lawan China di PBB
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved