Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera dalam Serangan Udara di Gaza, Menuduhnya Milisi Hamas
Minggu, 21 Juni 2026 - 11:09 WIB
loading...
Serangan udara Israel di Gaza pada hari Sabtu (20/6/2026) menewaskan 6 orang, termasuk jurnalis Al Jazeera Ahmed Wishah. Foto/Moshe Shai/Flash90 via The Jerusalem Post
A
A
A
GAZA - Serangan udara Israel di Gaza, Palestina, pada hari Sabtu menewaskan sedikitnya enam orang, termasuk dua anak dan seorang jurnalis dari stasiun televisi Al Jazeera. Militer Israel mengakui serangan tersebut dan menuduh jurnalis yang tewas adalah milisi Hamas.
Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan meskipun ada gencatan senjata pada bulan Oktober antara Israel dan Hamas, wilayah tersebut telah mengalami serangan udara Zionis Israel hampir setiap hari yang hingga kini telah menewaskan lebih dari 1.000 warga Palestina.
Baca Juga: Marahnya Warga Israel atas Kesepakatan AS-Iran: Kami Dikhianati Trump, Ini Kesalahan Besar
Serangan udara pertama pada hari Sabtu menghantam sebuah apartemen di Kota Gaza sekitar pukul 02.00 pagi, menurut kementerian tersebut. Di lokasi kejadian, seorang jurnalis Associated Press (AP) melihat puing-puing dan potongan beton yang berlumuran darah.
Jenazah dua perempuan bersaudara; Zina (4) dan Lana (14) dikirim ke kamar mayat Rumah Sakit Shifa, di mana mereka terbaring di dalam kantong jenazah rumah sakit berwarna putih, dikelilingi oleh anggota keluarga.
"Saya sedang duduk di rumah. Roket itu jatuh menimpa kami tanpa peringatan," kata sepupu mereka, Mohammad Safadi, yang dahinya terluka. Dia mengatakan istrinya juga terluka.
"Gencatan senjata yang dibicarakan oleh pendudukan dan tim negosiasi...apakah ini benar-benar gencatan senjata? Kami adalah warga sipil. Saya tidak pernah memegang senjata," kata Safadi, yang dikutip AP, Minggu (21/6/2026).
Militer Israel mengatakan sedang menyelidiki insiden tersebut. Pada Sabtu malam, tiga serangan Israel menewaskan empat orang dan melukai setidaknya selusin lainnya.
Serangan pertama menghantam sebuah rumah di kamp pengungsi Bureij di Gaza tengah tanpa peringatan, menewaskan tiga orang, termasuk juru kamera Al Jazeera, Ahmed Wishah. Demikian disampaikan pihak Rumah Sakit Al-Aqsa. Pihak Al Jazeera juga mengonfirmasi kematian Wishah.
Saudara laki-laki Wishah, Mohamed, yang merupakan koresponden untuk Al Jazeera, telah tewas dalam serangan Israel pada bulan April.
Serangan lain pada hari Sabtu menargetkan sekelompok orang di kamp tenda Muwasi yang luas di Gaza selatan, menewaskan satu orang dan melukai delapan lainnya, menurut Rumah Sakit Nasser, tempat para korban dirawat.
Serangan ketiga di Kota Gaza menargetkan sekelompok orang dan melukai setidaknya empat orang, menurut Rumah Sakit Shifa.
Militer Israel dalam sebuah pernyataan mengatakan telah membunuh juru kamera Al Jazeera dalam "serangan presisi". Mereka menuduh jurnalis tersebut adalah bagian dari sayap militer Hamas dan telah menimbulkan ancaman bagi pasukan Israel di Gaza.
Israel mengatakan mereka menargetkan Hamas dan militan kelompok lain yang menimbulkan ancaman bagi pasukan Zionis. Lima tentara Israel telah tewas sejak gencatan senjata disepakati.
Perang dimulai ketika para milisi pimpinan Hamas menyerbu Israel selatan pada 7 Oktober 2023, yang menurut rezim Zionis, menewaskan 1.200 orang dan 251 lainnya disandera. Serangan militer balasan Israel di Gaza telah menewaskan 73.018 warga Palestina, termasuk mereka yang tewas sejak gencatan senjata, kata Kementerian Kesehatan Gaza.
Kementerian tersebut, yang merupakan bagian dari pemerintahan pimpinan Hamas, memiliki staf profesional medis dan menyimpan catatan rinci yang umumnya dianggap dapat diandalkan oleh badan-badan PBB dan para pakar independen.
Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan meskipun ada gencatan senjata pada bulan Oktober antara Israel dan Hamas, wilayah tersebut telah mengalami serangan udara Zionis Israel hampir setiap hari yang hingga kini telah menewaskan lebih dari 1.000 warga Palestina.
Baca Juga: Marahnya Warga Israel atas Kesepakatan AS-Iran: Kami Dikhianati Trump, Ini Kesalahan Besar
Serangan udara pertama pada hari Sabtu menghantam sebuah apartemen di Kota Gaza sekitar pukul 02.00 pagi, menurut kementerian tersebut. Di lokasi kejadian, seorang jurnalis Associated Press (AP) melihat puing-puing dan potongan beton yang berlumuran darah.
Jenazah dua perempuan bersaudara; Zina (4) dan Lana (14) dikirim ke kamar mayat Rumah Sakit Shifa, di mana mereka terbaring di dalam kantong jenazah rumah sakit berwarna putih, dikelilingi oleh anggota keluarga.
"Saya sedang duduk di rumah. Roket itu jatuh menimpa kami tanpa peringatan," kata sepupu mereka, Mohammad Safadi, yang dahinya terluka. Dia mengatakan istrinya juga terluka.
"Gencatan senjata yang dibicarakan oleh pendudukan dan tim negosiasi...apakah ini benar-benar gencatan senjata? Kami adalah warga sipil. Saya tidak pernah memegang senjata," kata Safadi, yang dikutip AP, Minggu (21/6/2026).
Militer Israel mengatakan sedang menyelidiki insiden tersebut. Pada Sabtu malam, tiga serangan Israel menewaskan empat orang dan melukai setidaknya selusin lainnya.
Serangan pertama menghantam sebuah rumah di kamp pengungsi Bureij di Gaza tengah tanpa peringatan, menewaskan tiga orang, termasuk juru kamera Al Jazeera, Ahmed Wishah. Demikian disampaikan pihak Rumah Sakit Al-Aqsa. Pihak Al Jazeera juga mengonfirmasi kematian Wishah.
Saudara laki-laki Wishah, Mohamed, yang merupakan koresponden untuk Al Jazeera, telah tewas dalam serangan Israel pada bulan April.
Serangan lain pada hari Sabtu menargetkan sekelompok orang di kamp tenda Muwasi yang luas di Gaza selatan, menewaskan satu orang dan melukai delapan lainnya, menurut Rumah Sakit Nasser, tempat para korban dirawat.
Serangan ketiga di Kota Gaza menargetkan sekelompok orang dan melukai setidaknya empat orang, menurut Rumah Sakit Shifa.
Militer Israel dalam sebuah pernyataan mengatakan telah membunuh juru kamera Al Jazeera dalam "serangan presisi". Mereka menuduh jurnalis tersebut adalah bagian dari sayap militer Hamas dan telah menimbulkan ancaman bagi pasukan Israel di Gaza.
Israel mengatakan mereka menargetkan Hamas dan militan kelompok lain yang menimbulkan ancaman bagi pasukan Zionis. Lima tentara Israel telah tewas sejak gencatan senjata disepakati.
Perang dimulai ketika para milisi pimpinan Hamas menyerbu Israel selatan pada 7 Oktober 2023, yang menurut rezim Zionis, menewaskan 1.200 orang dan 251 lainnya disandera. Serangan militer balasan Israel di Gaza telah menewaskan 73.018 warga Palestina, termasuk mereka yang tewas sejak gencatan senjata, kata Kementerian Kesehatan Gaza.
Kementerian tersebut, yang merupakan bagian dari pemerintahan pimpinan Hamas, memiliki staf profesional medis dan menyimpan catatan rinci yang umumnya dianggap dapat diandalkan oleh badan-badan PBB dan para pakar independen.
(mas)
Lihat Juga :