Militer AS Telah Cabut Blokade Iran atas Perintah Trump
Jum'at, 19 Juni 2026 - 08:29 WIB
loading...
Militer AS umumkan telah mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di sekitar Selat Hormuz atas perintah Presiden Donald Trump. Foto/US Marine Corps
A
A
A
TEHERAN - Militer Amerika Serikat (AS) telah mencabut blokade terhadap semua lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan dan wilayah pesisir Iran sejak hari Kamis. Blokade Angkatan Laut Amerika ini dicabut atas perintah Presiden Donald Trump.
“Pasukan Amerika tidak menghalangi transit kapal ke atau dari pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman,” kata Komando Pusat AS (CENTCOM).
Baca Juga: AS dan Iran Berdamai, Wapres Amerika Berbalik Kecam Israel
“Hari ini, pasukan AS mencabut blokade terhadap semua lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, sesuai dengan arahan Presiden,” lanjut CENTCOM dalam sebuah unggahan di X.
“Semua upaya penegakan blokade militer AS telah dihentikan. Kapal-kapal Angkatan Laut kami yang hebat akan tetap berada di wilayah tersebut untuk memastikan bahwa semua aspek perjanjian dipatuhi, ditaati, dan berlaku sepenuhnya,” imbuh CENTCOM.
Militer Amerika mencabut blokade setelah Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani nota kesepahaman (MoU) kesepakatan mengakhiri perang Timur Tengah. Upacara peresmian kesepakatan akan digelar di Jenewa, Swiss, Jumat (19/6/2026), sekaligus menjadi awal perundingan untuk membawa kesepakatan tersebut lebih jauh.
Tiga kapal tanker minyak Arab Saudi telah meninggalkan Teluk melalui Selat Hormuz pada hari Kamis, menurut situs pelacak maritim. Sedangkan kapal gas alam cair (LNG) Mraikh yang bermuatan penuh menjadi kapal Prancis pertama yang melakukan transit sejak awal konflik.
Wakil Presiden AS J.D. Vance mengatakan militer AS, yang telah memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran setelah Iran menutup Selat Hormuz pada awal perang, telah mengizinkan setidaknya 12 kapal untuk melewati selat tersebut.
Sebelum perang AS-Israel melawan Iran pecah 28 Februari, selat tersebut menyaksikan sekitar 120 transit per hari, menurut jurnal pelayaran Lloyd's List.
Vance mengatakan dia berencana pergi ke Swiss untuk "negosiasi teknis" dengan Iran akhir pekan ini, alih-alih hari Jumat, tetapi menekankan bahwa rencana tersebut dapat berubah.
Di Iran, Tasnim News Agency melaporkan bahwa belum ada yang dikonfirmasi tentang perjalanan delegasi Iran ke Swiss.
Beberapa orang di Teheran menyatakan suasana hati yang pesimistis terhadap prospek perdamaian.
"Saya tidak berharap ini adalah kesepakatan yang langgeng. Mungkin setelah 60 hari mereka akan mulai berperang lagi," kata Mina (54), seorang psikolog dari Teheran.
Berdasarkan teks MoU, Washington berkomitmen untuk segera mencabut sanksi minyak yang melumpuhkan ekonomi Iran.
Setelah kesepakatan akhir tercapai mengenai program nuklir Iran, Amerika Serikat akan memfasilitasi pencairan dana rekonstruksi sebesar USD300 miliar yang didukung oleh negara-negara regional, imbuh teks tersebut.
Para pejabat AS juga mengatakan Iran akan mengurangi stok uranium yang diperkaya, mungkin dengan "pencampuran di tempat" di bawah pengawasan badan pengawas nuklir PBB atau IAEA.
Program rudal balistik Iran tidak disebutkan dalam perjanjian tersebut, meskipun Israel telah lama mendorong pembongkarannya.
Keputusan Trump untuk mengakhiri perang, di mana 13 anggota militer AS tewas dan sebagian besar persediaan amunisi AS telah digunakan, telah membuat beberapa sekutunya di dalam negeri gelisah.
Senator AS Bill Cassidy dari Partai Republik menggambarkannya sebagai "keputusan asing terburuk"."Kesalahan kebijakan terbesar dalam beberapa dekade," katanya.
"Ambisi nuklir Iran tidak dibatasi, dan mereka telah belajar bahwa mengancam Selat Hormuz berhasil," katanya.
Tampaknya mengantisipasi kritik tersebut, Trump mengatakan pada KTT G7 bahwa dia siap untuk mengebom habis-habisan Iran jika Teheran melanggar perjanjian tersebut.
"Orang-orang bodoh ini, yang berpikir saya belum cukup keras terhadap Iran, padahal pasar saham baru saja mencapai rekor tertinggi, dan harga minyak 'jatuh', entah mereka iri, orang jahat, atau bodoh," tulis Trump di media sosial pada hari Kamis.
Ada juga beberapa kritik dari kelompok garis keras di Iran, di mana konflik tersebut digambarkan sebagai "perang yang dipaksakan" dan dibandingkan dengan konflik tahun 1980-1988 dengan Irak pimpinan Saddam Hussein.
Namun, ketua parlemen dan kepala negosiator Iran; Mohammad Bagher Ghalibaf, bersikeras bahwa kesepakatan itu merupakan "kegagalan" AS, sementara Pezeshkian menyebutnya "bersejarah".
“Pasukan Amerika tidak menghalangi transit kapal ke atau dari pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman,” kata Komando Pusat AS (CENTCOM).
Baca Juga: AS dan Iran Berdamai, Wapres Amerika Berbalik Kecam Israel
“Hari ini, pasukan AS mencabut blokade terhadap semua lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, sesuai dengan arahan Presiden,” lanjut CENTCOM dalam sebuah unggahan di X.
“Semua upaya penegakan blokade militer AS telah dihentikan. Kapal-kapal Angkatan Laut kami yang hebat akan tetap berada di wilayah tersebut untuk memastikan bahwa semua aspek perjanjian dipatuhi, ditaati, dan berlaku sepenuhnya,” imbuh CENTCOM.
Militer Amerika mencabut blokade setelah Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani nota kesepahaman (MoU) kesepakatan mengakhiri perang Timur Tengah. Upacara peresmian kesepakatan akan digelar di Jenewa, Swiss, Jumat (19/6/2026), sekaligus menjadi awal perundingan untuk membawa kesepakatan tersebut lebih jauh.
Tiga kapal tanker minyak Arab Saudi telah meninggalkan Teluk melalui Selat Hormuz pada hari Kamis, menurut situs pelacak maritim. Sedangkan kapal gas alam cair (LNG) Mraikh yang bermuatan penuh menjadi kapal Prancis pertama yang melakukan transit sejak awal konflik.
Wakil Presiden AS J.D. Vance mengatakan militer AS, yang telah memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran setelah Iran menutup Selat Hormuz pada awal perang, telah mengizinkan setidaknya 12 kapal untuk melewati selat tersebut.
Sebelum perang AS-Israel melawan Iran pecah 28 Februari, selat tersebut menyaksikan sekitar 120 transit per hari, menurut jurnal pelayaran Lloyd's List.
Vance mengatakan dia berencana pergi ke Swiss untuk "negosiasi teknis" dengan Iran akhir pekan ini, alih-alih hari Jumat, tetapi menekankan bahwa rencana tersebut dapat berubah.
Di Iran, Tasnim News Agency melaporkan bahwa belum ada yang dikonfirmasi tentang perjalanan delegasi Iran ke Swiss.
Beberapa orang di Teheran menyatakan suasana hati yang pesimistis terhadap prospek perdamaian.
"Saya tidak berharap ini adalah kesepakatan yang langgeng. Mungkin setelah 60 hari mereka akan mulai berperang lagi," kata Mina (54), seorang psikolog dari Teheran.
Berdasarkan teks MoU, Washington berkomitmen untuk segera mencabut sanksi minyak yang melumpuhkan ekonomi Iran.
Setelah kesepakatan akhir tercapai mengenai program nuklir Iran, Amerika Serikat akan memfasilitasi pencairan dana rekonstruksi sebesar USD300 miliar yang didukung oleh negara-negara regional, imbuh teks tersebut.
Para pejabat AS juga mengatakan Iran akan mengurangi stok uranium yang diperkaya, mungkin dengan "pencampuran di tempat" di bawah pengawasan badan pengawas nuklir PBB atau IAEA.
Program rudal balistik Iran tidak disebutkan dalam perjanjian tersebut, meskipun Israel telah lama mendorong pembongkarannya.
Keputusan Trump untuk mengakhiri perang, di mana 13 anggota militer AS tewas dan sebagian besar persediaan amunisi AS telah digunakan, telah membuat beberapa sekutunya di dalam negeri gelisah.
Senator AS Bill Cassidy dari Partai Republik menggambarkannya sebagai "keputusan asing terburuk"."Kesalahan kebijakan terbesar dalam beberapa dekade," katanya.
"Ambisi nuklir Iran tidak dibatasi, dan mereka telah belajar bahwa mengancam Selat Hormuz berhasil," katanya.
Tampaknya mengantisipasi kritik tersebut, Trump mengatakan pada KTT G7 bahwa dia siap untuk mengebom habis-habisan Iran jika Teheran melanggar perjanjian tersebut.
"Orang-orang bodoh ini, yang berpikir saya belum cukup keras terhadap Iran, padahal pasar saham baru saja mencapai rekor tertinggi, dan harga minyak 'jatuh', entah mereka iri, orang jahat, atau bodoh," tulis Trump di media sosial pada hari Kamis.
Ada juga beberapa kritik dari kelompok garis keras di Iran, di mana konflik tersebut digambarkan sebagai "perang yang dipaksakan" dan dibandingkan dengan konflik tahun 1980-1988 dengan Irak pimpinan Saddam Hussein.
Namun, ketua parlemen dan kepala negosiator Iran; Mohammad Bagher Ghalibaf, bersikeras bahwa kesepakatan itu merupakan "kegagalan" AS, sementara Pezeshkian menyebutnya "bersejarah".
(mas)
Lihat Juga :