Horor! Penyerang Berpisau Mencoba Memenggal Seorang Pria di Tempat Umum
Selasa, 09 Juni 2026 - 15:26 WIB
loading...
A
A
A
Empat belas orang sejak itu telah didakwa dengan kekerasan.
Kasus yang mendapat perhatian publik ini telah memicu perselisihan diplomatik antara pemerintah Partai Buruh sayap kiri Inggris dan pemerintahan Donald Trump di Amerika Serikat.
“Henry Nowak meninggal dengan cara yang sama seperti sebuah peradaban mati: ditinggalkan, diborgol oleh pihak berwenang yang tidak mempercayainya maupun peduli padanya, dan dituduh melakukan kejahatan kebencian yang tidak dilakukannya,” tulis Wakil Presiden AS JD Vance di X pada akhir pekan lalu.
“Pembunuhannya sama tragisnya dengan kemarahan yang ditimbulkannya. Dia seharusnya masih hidup hari ini, dan dia akan tetap hidup jika beberapa generasi elite Eropa terakhir telah mempertahankan pendirian mereka melawan politik kebencian diri dan invasi massal migran, yang banyak di antaranya membenci Barat dan orang-orang yang mencintainya," paparnya.
“Henry bukanlah orang pertama yang kehilangan nyawanya secara sia-sia, dan saya khawatir dia bukan yang terakhir. Setiap kali nyawa seperti miliknya hilang, respons yang tepat—satu-satunya tanggapan—adalah kemarahan yang benar," imbuh Vance.
“Salah satu hal terpenting yang telah dibuktikan pemerintahan Trump kepada dunia adalah bahwa menghentikan arus migrasi massal dan mempertahankan kedaulatan nasional adalah masalah kemauan politik dan kepemimpinan. Segala hal lain hanyalah alasan.”
Seorang juru bicara Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan; "Orang-orang mencoba mengganggu demokrasi kita dan berusaha untuk menimbulkan perpecahan."
Pihak Downing Street dalam sebuah pernyataan menambahkan bahwa keluarga Nowak telah mengatakan mereka tidak ingin kematiannya digunakan untuk menciptakan perpecahan lebih lanjut.
“Politik kita seharusnya menyatukan orang-orang bahkan dalam keadaan yang paling mengerikan sekalipun,” bunyi pernyataan tersebut. “Itulah jati diri kita sebagai sebuah negara.”
Kasus yang mendapat perhatian publik ini telah memicu perselisihan diplomatik antara pemerintah Partai Buruh sayap kiri Inggris dan pemerintahan Donald Trump di Amerika Serikat.
“Henry Nowak meninggal dengan cara yang sama seperti sebuah peradaban mati: ditinggalkan, diborgol oleh pihak berwenang yang tidak mempercayainya maupun peduli padanya, dan dituduh melakukan kejahatan kebencian yang tidak dilakukannya,” tulis Wakil Presiden AS JD Vance di X pada akhir pekan lalu.
“Pembunuhannya sama tragisnya dengan kemarahan yang ditimbulkannya. Dia seharusnya masih hidup hari ini, dan dia akan tetap hidup jika beberapa generasi elite Eropa terakhir telah mempertahankan pendirian mereka melawan politik kebencian diri dan invasi massal migran, yang banyak di antaranya membenci Barat dan orang-orang yang mencintainya," paparnya.
“Henry bukanlah orang pertama yang kehilangan nyawanya secara sia-sia, dan saya khawatir dia bukan yang terakhir. Setiap kali nyawa seperti miliknya hilang, respons yang tepat—satu-satunya tanggapan—adalah kemarahan yang benar," imbuh Vance.
“Salah satu hal terpenting yang telah dibuktikan pemerintahan Trump kepada dunia adalah bahwa menghentikan arus migrasi massal dan mempertahankan kedaulatan nasional adalah masalah kemauan politik dan kepemimpinan. Segala hal lain hanyalah alasan.”
Seorang juru bicara Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan; "Orang-orang mencoba mengganggu demokrasi kita dan berusaha untuk menimbulkan perpecahan."
Pihak Downing Street dalam sebuah pernyataan menambahkan bahwa keluarga Nowak telah mengatakan mereka tidak ingin kematiannya digunakan untuk menciptakan perpecahan lebih lanjut.
“Politik kita seharusnya menyatukan orang-orang bahkan dalam keadaan yang paling mengerikan sekalipun,” bunyi pernyataan tersebut. “Itulah jati diri kita sebagai sebuah negara.”
(mas)
Lihat Juga :