6 Tradisi Teraneh di Dunia, Salah Satunya Makan Abu Orang Mati
Minggu, 07 Juni 2026 - 18:40 WIB
loading...
A
A
A
Pada pertemuan peringatan, abu tersebut dicampur ke dalam sup yang terbuat dari pisang fermentasi dan dibagikan di antara kelompok kerabat. Suku Yanomami tidak menganggap kematian sebagai peristiwa alami tetapi sebagai hasil sihir musuh, dan mereka percaya jiwa tidak dapat mencapai kedamaian sampai ritual selesai. Memakan abu, praktik yang dikenal sebagai endokanibalisme, dipahami sebagai cara untuk menjaga agar orang yang dicintai tetap hadir di antara orang hidup.
Para pejalan kaki percaya bahwa iman melindungi mereka dan bahwa hanya mereka yang ragu yang akan terbakar. Versi upacara ini muncul di mana pun komunitas ini menetap, termasuk Taiwan dan sebagian Asia Tenggara, dan penyeberangan hamparan bara api seringkali menjadi pusat dramatis dari festival yang jauh lebih panjang.
Dua unta jantan dibawa bersama di arena, mengenakan pelana dan lonceng bersulam, dan mereka saling mendorong dan bersandar sementara penonton menyaksikan. Tidak ada pertumpahan darah yang disengaja, dan seekor unta Kaum Muslim Syiah kalah ketika mereka melarikan diri, jatuh, atau berteriak. Pertemuan terbesar, seperti festival di Selçuk dekat reruntuhan Efesus, menarik ribuan penonton dan telah berlangsung selama beberapa generasi.
Beberapa peserta mengungkapkan kesedihan mereka melalui matam, yaitu pemukulan dada secara ritmis, dan sebagian kecil lainnya melakukan bentuk yang lebih keras yang menyebabkan pendarahan. Banyak otoritas agama Syiah tidak menganjurkan praktik mengeluarkan darah dan malah mendorong para pelayat untuk menyumbangkan darah, dan perayaan secara keseluruhan berpusat pada peringatan dan pengorbanan daripada pertunjukan.
4. Ritual Berjalan di Atas Api dalam Agama Rakyat China
Pada festival kuil tertentu di China dan di seluruh komunitas agama rakyat China, para pemuja dan perantara roh berjalan tanpa alas kaki di atas hamparan bara api yang menyala. Terkait dengan praktik Taoisme, ritual ini dimaksudkan untuk memurnikan para peserta dan dewa kuil serta untuk mengusir kejahatan dan kemalangan.Para pejalan kaki percaya bahwa iman melindungi mereka dan bahwa hanya mereka yang ragu yang akan terbakar. Versi upacara ini muncul di mana pun komunitas ini menetap, termasuk Taiwan dan sebagian Asia Tenggara, dan penyeberangan hamparan bara api seringkali menjadi pusat dramatis dari festival yang jauh lebih panjang.
5. Gulat Unta di Pesisir Aegean Turki
Di seluruh wilayah Aegean Turki, musim dingin adalah musim gulat unta. Waktu penyelenggaraannya disengaja: bertepatan dengan masa kawin unta jantan, ketika hewan-hewan tersebut secara alami cenderung untuk berkelahi.Dua unta jantan dibawa bersama di arena, mengenakan pelana dan lonceng bersulam, dan mereka saling mendorong dan bersandar sementara penonton menyaksikan. Tidak ada pertumpahan darah yang disengaja, dan seekor unta Kaum Muslim Syiah kalah ketika mereka melarikan diri, jatuh, atau berteriak. Pertemuan terbesar, seperti festival di Selçuk dekat reruntuhan Efesus, menarik ribuan penonton dan telah berlangsung selama beberapa generasi.
6. Peringatan Muharram
Selama bulan Muharram dalam kalender Islam, Muslim Syiah memperingati kematian Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad, yang terbunuh bersama para sahabatnya dalam Pertempuran Karbala pada tahun 680 M. Peringatan mencapai puncaknya pada Asyura, hari kesepuluh, dengan prosesi, pembacaan doa, dan pemeragaan kembali peristiwa di Karbala.Beberapa peserta mengungkapkan kesedihan mereka melalui matam, yaitu pemukulan dada secara ritmis, dan sebagian kecil lainnya melakukan bentuk yang lebih keras yang menyebabkan pendarahan. Banyak otoritas agama Syiah tidak menganjurkan praktik mengeluarkan darah dan malah mendorong para pelayat untuk menyumbangkan darah, dan perayaan secara keseluruhan berpusat pada peringatan dan pengorbanan daripada pertunjukan.
(ahm)
Lihat Juga :