Putin: Serangan Rudal Hipersonik Oreshnik Rusia terhadap Ukraina Hanya Tes, Belum Skala Penuh

Sabtu, 06 Juni 2026 - 13:26 WIB
loading...
Putin: Serangan Rudal...
Presiden Vladimir Putin sebut serangan rudal hipersonik Oreshnik Rusia terhadap Ukraina hanya uji coba, belum penggunaan skala tempur penuh. Foto/France24 Observers
A A A
MOSKOW - Presiden Rusia Vladimir Putin menggambarkan serangan mematikan rudal hipersonik Oreshnik terhadap Ukraina hanya sekadar eksperimental atau uji coba. Menurutnya, penggunaan misil yang diklaim mustahil dicegat oleh sistem pertahanan canggih Barat itu belum pada skala tempur penuh.

Berbicara pada pertemuan dengan kepala kantor berita internasional yang diselenggarakan oleh kantor berita TASS baru-baru ini, Putin mengamati bahwa rudal Oreshnik ditembakkan ke Ukraina hanya untuk menilai kinerjanya.

Baca Juga: Rusia Akui Bombardir Ukraina dengan Rudal Hipersonik Oreshnik Berkemampuan Nuklir

Rusia pertama kali menembakkan rudal balistik jarak menengah (IRBM) Oreshnik ke sebuah pabrik industri di Dnipro pada November 2024. Serangan kedua terjadi pada Januari 2026, ketika Oreshnik menghantam wilayah Lviv, sementara serangan ketiga terjadi baru-baru ini, menghantam Bila Tserkva di Oblast Kyiv.

“Sejauh ini, belum ada satu pun penggunaan tempur skala penuh dari sistem rudal Oreshnik di wilayah Ukraina,” kata Putin, menunjukkan bahwa serangan Oreshnik sebelumnya di Ukraina pada dasarnya adalah uji tembak atau eksperimen, bukan penggunaan tempur “skala penuh” atau “format penuh”.

“Kami menguji sistem serupa di lapangan tembak, tetapi kami tidak menguji Oreshnik. Dan ini bukan penggunaan tempur. Secara umum, kami secara efektif tidak menggunakan Oreshnik di wilayah Ukraina dalam arti kata yang sebenarnya,” papar Putin, yang dilansir EurAsian Times, Sabtu (6/6/2026).

Pemimpin Kremlin ini mengindikasikan bahwa tujuan serangan Oreshnik adalah untuk mengumpulkan informasi tentang kinerja rudal, selain menghancurkan target.

“Dan serangan terakhir, jujur saja, saya akan mengungkapkan rahasia militer negara yang besar kepada Anda—kami hanya menyerang di tempat yang mudah untuk mengamati dampaknya. Tujuannya adalah untuk melihat bagaimana blok-blok yang tersebar itu tergeletak. Setelah serangan, drone kami terbang masuk dan melihat bagaimana blok-blok yang terpisah itu ditempatkan. Kami menghitung semuanya hingga milimeter. Ini penting bagi kami agar di masa depan kami dapat membuat keputusan tentang penggunaan Oreshnik secara penuh terhadap target yang ditentukan, termasuk di daerah perkotaan yang padat penduduk,” imbuh dia.

Dia menekankan bahwa Rusia sengaja memilih target yang mudah, seperti gudang atau kawasan industri, sehingga drone tindak lanjut dapat secara tepat mengukur bagaimana hulu ledak mendarat dan tersebar. Namun, Ukraina menolak pernyataan ini sebagai kebohongan.

Menurut laporan media-media Ukraina, Moskow telah menghujani Ukraina dengan lebih banyak drone dan rudal berkecepatan tinggi daripada sebelumnya dalam upaya untuk melumpuhkan pertahanan udara Ukraina. Mereka telah menggunakan rudal balistik Oreshnik, Zircon, dan Iskander terhadap Ukraina dalam beberapa hari terakhir, selain puluhan drone Geran yang bergerak lambat.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky telah menyebutkan ancaman yang ditimbulkan oleh rudal-rudal tersebut ketika melobi penambahan sistem pertahanan udara, seperti Patriot Amerika Serikat.

Merujuk pada serangan Oreshnik dalam surat kepada AS bulan lalu, Zelensky mengatakan, “Ini lebih besar dari sekadar Ukraina. Ini adalah pelajaran penting bagi keamanan seluruh komunitas Euro-Atlantik dan bagi sekutu Amerika di seluruh dunia, yang suatu hari nanti dapat menghadapi ancaman dari mitra dan proksi Rusia.”

Dia menambahkan bahwa Ukraina hampir sepenuhnya bergantung pada pasokan dari Amerika Serikat untuk perlindungan terhadap rudal balistik Rusia, seraya menekankan kekurangan rudal pertahanan udara yang ampuh.

Oreshnik adalah rudal balistik jarak menengah yang mampu mencapai target antara 3.000 dan 5.500 kilometer jauhnya. Salah satu fitur paling unik dari senjata yang menghancurkan ini adalah kemampuannya untuk melepaskan beberapa hulu ledak dari satu rudal.

Saat rudal bergerak dengan kecepatan hipersonik, hingga enam multiple independently targetable reentry vehicles (MIRVs), masing-masing membawa empat hingga enam amunisi, terpisah darinya. Setiap MIRV dapat diarahkan ke target yang berbeda, memungkinkan satu rudal balistik untuk memberikan serangan yang lebih besar.

Rudal Oreshnik lebih cepat daripada kebanyakan rudal modern, dengan perkiraan kecepatan hipersonik 13.000 kilometer per jam, atau lebih dari Mach 10.

Dengan hulu ledaknya yang diarahkan ke target tertentu, lintasannya membawanya kembali ke bawah dengan cepat setelah pendakian curam keluar dari atmosfer, sehingga hampir mustahil bagi sistem pertahanan udara Ukraina untuk menembak jatuh rudal tersebut.

Jenis rudal ini biasanya dirancang untuk membawa muatan nuklir dan sering dikaitkan dengan permainan politik Putin yang berisiko memicu perang nuklir.

Ukraina, NATO, bahkan, Sergei Karakayev—kepala Pasukan Roket Strategis Rusia, yang mengawasi program senjata nuklir dan rudal balistik antarbenua negara itu—, sebelumnya menyatakan bahwa Oreshnik dapat menyerang target di seluruh Eropa.

Putin sebelumnya mengeklaim bahwa elemen penghancur rudal tersebut dapat mencapai suhu yang mendekati permukaan Matahari. "Oleh karena itu, segala sesuatu di pusat ledakan akan hancur menjadi pecahan, menjadi partikel elementer, pada dasarnya menjadi debu," katanya ketika rudal Oreshnik diperkenalkan pada tahun 2024, menambahkan bahwa rudal tersebut dapat menyerang bahkan target yang sangat terlindungi dan terletak di kedalaman yang sangat dalam.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tiru Strategi Iran,...
Tiru Strategi Iran, Ukraina Tembakkan 323 Drone ke Wilayah Rusia pada Malam Hari
10 Mata-mata Perang...
10 Mata-mata Perang Dingin yang Tak Pernah Takut Mati
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
Hongaria Bersihkan Jaringan...
Hongaria Bersihkan Jaringan Viktor Orban, Ini 3 Alasan Rusia Akan Kehilangan Aliansi Utama
Rusia Tuding NATO Akan...
Rusia Tuding NATO Akan Gelar Operasi Barbarossa Hitler pada 2030, Apakah Akan Berhasil?
Teken Kerja Sama Hukum,...
Teken Kerja Sama Hukum, Indonesia dan Rusia Perkuat Mutual Legal Assistance
Sebulan Ditahan di Libya,...
Sebulan Ditahan di Libya, Tiga Aktivis Pro Palestina Akhirnya Bebas
Tragis! 3 Anak Meninggal...
Tragis! 3 Anak Meninggal Dunia akibat Suhu Panas Ekstrem di Paris
Rekomendasi
Dorong Kualitas Keterwakilan...
Dorong Kualitas Keterwakilan Perempuan 30%, Partai Perindo Siap Bersinergi Lahirkan Kebijakan yang Inklusif
Sjafrie-AHY Sinkronkan...
Sjafrie-AHY Sinkronkan Pengamanan Ruang Udara hingga Pengembangan Rute Penerbangan
Pacu Kinerja, Pelindo...
Pacu Kinerja, Pelindo Sinergi Lokaseva Rombak Jajaran Direksi
Berita Terkini
Pengadilan AS Hukum...
Pengadilan AS Hukum Warga Israel karena Curi Rahasia Dagang
Singapura Marah Kapalnya...
Singapura Marah Kapalnya Diserang di Selat Hormuz
Iran Sebut Pernyataan...
Iran Sebut Pernyataan Bersama AS-GCC Provokatif, Serukan Zona Bebas Senjata Nuklir Timur Tengah
Tolak Klaim AS, Iran...
Tolak Klaim AS, Iran Tegaskan Aset yang Dicairkan Tidak untuk Beli Produk Pertanian Amerika
Pemimpin Hizbullah Tegaskan...
Pemimpin Hizbullah Tegaskan Israel Harus Tinggalkan Lebanon Tanpa Syarat
Kim Jong-un Janji Kapal...
Kim Jong-un Janji Kapal Perang Korut Dilengkapi Senjata Nuklir, Momok bagi AS
Infografis
Respons Rusia soal Trump...
Respons Rusia soal Trump Telepon Putin untuk Akhiri Perang Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved