Imbas Norwegia Larang Jual Rudal Canggih, Kapal Perang Malaysia seperti Harimau Tanpa Taring

Jum'at, 29 Mei 2026 - 09:42 WIB
loading...
A A A
Keputusan tersebut telah mengguncang Malaysia, yang menandatangani kesepakatan rudal pada tahun 2018. Malaysia mengatakan pembatalan tersebut telah mengganggu bagian penting dari kemampuan serangan Angkatan Laut-nya di masa depan.

Malaysia menuntut kompensasi lebih dari 1 miliar ringgit (USD252 juta), termasuk untuk pembayaran yang telah dilakukan dan penghapusan atau adaptasi sistem yang dipasang untuk rudal Norwegia.

Perdana Menteri Anwar Ibrahim awal bulan ini menyebut langkah Norwegia sebagai “sepihak dan tidak dapat diterima”, memperingatkan bahwa kontrak pertahanan yang telah ditandatangani tidak dapat diperlakukan sebagai “konfeti” karena melibatkan perencanaan keamanan suatu negara.

Tantangan Laut China Selatan


Kapal LCS pertama Malaysia, KD Maharaja Lela, masih dapat beroperasi tanpa sistem rudal anti-kapal yang dirancang untuk dibawanya, tetapi itu akan membuat Angkatan Laut kehilangan kemampuan ofensif utama, menurut para analis.

Program LCS diluncurkan pada tahun 2011 sebagai proyek modernisasi unggulan Angkatan Laut Kerajaan Malaysia, tetapi telah dihantam oleh penundaan, pembengkakan biaya, dan skandal politik. Awalnya direncanakan sebagai enam kapal, program tersebut kemudian dikurangi menjadi lima, dengan kapal pertama diperkirakan baru akan selesai pada akhir tahun 2026.

Sebuah laporan pengawas parlemen tahun 2022 menemukan bahwa pemerintah telah membayar 6,08 miliar ringgit untuk proyek tersebut, tetapi tidak satu pun kapal yang telah selesai, meskipun lima kapal pertama seharusnya sudah dikirimkan pada saat itu.

Collin Koh, seorang peneliti senior di S. Rajaratnam School of International Studies di Singapura, mengatakan hilangnya sistem rudal akan menghilangkan "kemampuan ofensif utama" kapal tersebut, melemahkan nilai pencegahannya.

Namun, dia mengatakan LCS masih dapat digunakan untuk operasi kehadiran di masa damai di zona maritim Malaysia, termasuk perairan di lepas pantai Sarawak, di mana patroli Malaysia secara teratur bertemu dengan kapal Penjaga Pantai dan Angkatan Laut China.

“Bahkan tanpa rudal, kapal tersebut berada di posisi yang baik untuk melakukan operasi kehadiran semacam itu,” kata Koh, menambahkan bahwa kapal tersebut masih dapat berhadapan dengan kapal Penjaga Pantai China dan Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLA-N) yang beroperasi di dalam zona ekonomi eksklusif Malaysia di dekat Beting Patinggi Ali, yang juga dikenal sebagai Luconia Shoals.

Gundukan karang tersebut, sekitar 80 mil laut dari Sarawak, berada di dalam zona ekonomi eksklusif yang dideklarasikan sendiri oleh Malaysia dan klaim teritorial Beijing di Laut China Selatan.

Malaysia biasanya menghindari konfrontasi publik dengan China, mitra dagang terbesarnya, meskipun Angkatan Laut dan badan penegak hukum maritimnya telah berada di bawah tekanan dari aktivitas maritim China di dekat proyek minyak dan gas Malaysia.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Wakil PM Italia Sebut...
Wakil PM Italia Sebut Rusia Bukan Ancaman Utama bagi Eropa, tapi Siapa?
10 Negara Eropa Ini...
10 Negara Eropa Ini Bersatu Bangun Perisai Rudal Balistik, Apakah Efekif Hadapi Misil Rusia?
Norwegia Diam-diam Gunakan...
Norwegia Diam-diam Gunakan Pengaruhnya untuk Dorong Penangguhan Israel dari FIFA
Persaingan Memanas,...
Persaingan Memanas, China Membangun Replika Kapal Perang AS untuk Latihan Tembak Rudal
Peta Politik Malaysia...
Peta Politik Malaysia Terus Berubah Warna, PM Anwar Ibrahim Kian Tersudut
Barisan Nasional Menang...
Barisan Nasional Menang Besar di Pemilu Johor, Koalisi PM Anwar Ibrahim Terancam?
KJRI Johor Bahru Bantu...
KJRI Johor Bahru Bantu Biayai Deportasi 90 PMI dari Malaysia ke Batam
Iran Retas Jaringan...
Iran Retas Jaringan Seluler Timur Tengah Lacak Militer AS
Trump Enggan Beri Target...
Trump Enggan Beri Target Waktu untuk Iran: Mereka Sudah Paham!
Rekomendasi
Timnas Spanyol Harus...
Timnas Spanyol Harus Lihat! Botol Minum Pickford Bikin Messi dan Pemain Argentina Geleng-geleng Kepala
Ledakan di Gudang Amunisi...
Ledakan di Gudang Amunisi TNI Madiun, Korban Dilarikan ke RSUD Caruban
Hak Asuh Anak setelah...
Hak Asuh Anak setelah Perceraian dalam Islam, Kapan Anak Boleh Memilih Ayah atau Ibunya?
Berita Terkini
Maroko Tandatangani...
Maroko Tandatangani Perjanjian dengan Dewan Perdamaian untuk Gabung Pasukan Internasional Gaza
Pria Ini Ditusuk 15...
Pria Ini Ditusuk 15 Kali di Mal AS Hanya karena Beragama Islam
Anggota Politbiro Partai...
Anggota Politbiro Partai Komunis China Dipecat karena Korupsi Skala Besar dan Skandal Seks
Perang Iran Meluas,...
Perang Iran Meluas, AS Jual Senjata ke Arab Saudi dan Kuwait Total Rp36,2 Triliun
Profil Sheikh Hamad...
Profil Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani, Sosok di Balik Lompatan Qatar dari Negara Gurun Menjadi Raksasa Kaya Dunia
Kronologi Venezuela...
Kronologi Venezuela Simpan 31 Ton Emas di Bank of England tapi Tak Bisa Diambil
Infografis
Drone Ababil Iran Mampu...
Drone Ababil Iran Mampu Bidik Kapal Perang AS Tanpa Terdeteksi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved