Sekutu Trump: Pangeran MBS Bisa Akui Israel Hari Ini, Masalahnya Ada di Raja Salman
Selasa, 26 Mei 2026 - 11:05 WIB
loading...
A
A
A
“Putra Mahkota mengatakan, berbicara kepada Palestina, mereka telah membuang-buang uang kita,” kata Evans. “Dia mengatakan mereka seharusnya tidak menyerang Israel. Mereka seharusnya meniru Israel.”
Lebih lanjut, Evans mengeklaim bahwa Pangeran MBS menolak gagasan membagi Yerusalem menjadi dua ibu kota untuk Israel dan Palestina.
“Ketika dia berbicara tentang Yerusalem, dia mengatakan jika ada dua ibu kota di Yerusalem, itu akan menjadi ibu kota teror,” kata Evans. “Dia tampak lebih pro-Israel daripada sebagian besar penduduk Yahudi.”
Perjanjian Abraham ditandatangani selama masa jabatan pertama Trump, menormalisasi hubungan antara Israel dan Uni Emirat Arab serta Bahrain pada tahun 2020, diikuti oleh Maroko dan Sudan. Arab Saudi telah lama dipandang sebagai hadiah utama dari setiap upaya normalisasi yang lebih luas, meskipun Riyadh secara terbuka mengaitkan pengakuan Israel dengan kemajuan dalam masalah Palestina.
Evans mengatakan dia tidak yakin bahwa kedaulatan negara Palestina adalah hambatan sebenarnya bagi pengakuan Arab Saudi terhadap negara Israel.
“Saya tidak begitu yakin itu yang menghambatnya,” katanya. “Saya pikir jujur saja, keadaan telah berubah. Saya pikir tidak ada masalah dengannya. Saya pikir dia akan melakukannya. Saya pikir Donald Trump sungguh-sungguh," imbuh dia.
Proposal terbaru Trump juga mencakup negara-negara yang dianggap memiliki prospek lebih rumit untuk normalisasi hubungan dengan Israel, termasuk Qatar, Turki, dan Pakistan. Qatar telah menjadi tuan rumah bagi para pemimpin Hamas dan memainkan peran mediasi sentral dalam negosiasi sandera, pemerintah Turki telah mengkritik Israel dengan tajam selama perang Gaza, dan Pakistan tidak pernah mengakui Israel.
Evans berpendapat bahwa hubungan pribadi dan pengaruh diplomatik Trump masih dapat menghasilkan hasil.
“Donald Trump memiliki pengaruh negosiasi yang sangat besar,” katanya. “Dia telah membangun banyak persahabatan, dan dia dapat mewujudkannya," paparnya.
Evans membingkai kemungkinan perluasan Perjanjian Abraham sebagai bagian dari pertempuran regional yang lebih besar melawan gerakan-gerakan Islamis, terutama Ikhwanul Muslimin.
“Sebagian besar amunisi yang telah menciptakan masalah bagi Negara Israel dan bagi orang Yahudi di seluruh dunia adalah Ikhwanul Muslimin,” katanya. “Dengan menciptakan aliansi dengan negara-negara Sunni ini, Perjanjian Abraham, Anda sedang membendung Ikhwanul Muslimin.”
Evans membela penanganan Trump terhadap Iran di tengah kekhawatiran Israel atas laporan kemungkinan tercapainya kesepakatan.
Lebih lanjut, Evans mengeklaim bahwa Pangeran MBS menolak gagasan membagi Yerusalem menjadi dua ibu kota untuk Israel dan Palestina.
“Ketika dia berbicara tentang Yerusalem, dia mengatakan jika ada dua ibu kota di Yerusalem, itu akan menjadi ibu kota teror,” kata Evans. “Dia tampak lebih pro-Israel daripada sebagian besar penduduk Yahudi.”
Perjanjian Abraham ditandatangani selama masa jabatan pertama Trump, menormalisasi hubungan antara Israel dan Uni Emirat Arab serta Bahrain pada tahun 2020, diikuti oleh Maroko dan Sudan. Arab Saudi telah lama dipandang sebagai hadiah utama dari setiap upaya normalisasi yang lebih luas, meskipun Riyadh secara terbuka mengaitkan pengakuan Israel dengan kemajuan dalam masalah Palestina.
Evans mengatakan dia tidak yakin bahwa kedaulatan negara Palestina adalah hambatan sebenarnya bagi pengakuan Arab Saudi terhadap negara Israel.
“Saya tidak begitu yakin itu yang menghambatnya,” katanya. “Saya pikir jujur saja, keadaan telah berubah. Saya pikir tidak ada masalah dengannya. Saya pikir dia akan melakukannya. Saya pikir Donald Trump sungguh-sungguh," imbuh dia.
Proposal terbaru Trump juga mencakup negara-negara yang dianggap memiliki prospek lebih rumit untuk normalisasi hubungan dengan Israel, termasuk Qatar, Turki, dan Pakistan. Qatar telah menjadi tuan rumah bagi para pemimpin Hamas dan memainkan peran mediasi sentral dalam negosiasi sandera, pemerintah Turki telah mengkritik Israel dengan tajam selama perang Gaza, dan Pakistan tidak pernah mengakui Israel.
Evans berpendapat bahwa hubungan pribadi dan pengaruh diplomatik Trump masih dapat menghasilkan hasil.
“Donald Trump memiliki pengaruh negosiasi yang sangat besar,” katanya. “Dia telah membangun banyak persahabatan, dan dia dapat mewujudkannya," paparnya.
Evans membingkai kemungkinan perluasan Perjanjian Abraham sebagai bagian dari pertempuran regional yang lebih besar melawan gerakan-gerakan Islamis, terutama Ikhwanul Muslimin.
“Sebagian besar amunisi yang telah menciptakan masalah bagi Negara Israel dan bagi orang Yahudi di seluruh dunia adalah Ikhwanul Muslimin,” katanya. “Dengan menciptakan aliansi dengan negara-negara Sunni ini, Perjanjian Abraham, Anda sedang membendung Ikhwanul Muslimin.”
Evans membela penanganan Trump terhadap Iran di tengah kekhawatiran Israel atas laporan kemungkinan tercapainya kesepakatan.
Lihat Juga :