China Ancam Sanksi atas Kepatuhan Perusahaan Eropa pada Aturan UE
Sabtu, 23 Mei 2026 - 12:01 WIB
loading...
A
A
A
Akibatnya, pertumbuhan ekonomi China dinilai semakin bergantung pada ekspor dan perluasan pangsa pasar global.
Eropa disebut menjadi salah satu kawasan yang paling rentan terhadap tekanan tersebut.
Namun usulan langkah-langkah seperti tarif impor, pembatasan pengadaan publik, syarat investasi asing, hingga diversifikasi rantai pasok dinilai terus tertahan oleh sejumlah negara anggota seperti Jerman.
Sebaliknya, perdebatan di Eropa lebih banyak berfokus pada deregulasi dan pemangkasan birokrasi.
Kanselir Jerman Friedrich Merz dan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni disebut menjadikan deregulasi sebagai respons utama terhadap tantangan ekonomi.
Sementara itu, banyak perusahaan multinasional Eropa memperingatkan risiko konflik dagang jika Uni Eropa menerapkan langkah pertahanan perdagangan yang lebih agresif terhadap China.
Menurut Gehrke, efek tekanan China justru paling efektif ketika para pembuat kebijakan Eropa mulai menghindari pembahasan mengenai respons sistemik terhadap Beijing.
“Ketika pembuat kebijakan dan pelaku bisnis hanya berdebat mengenai solusi marginal tetapi diam terhadap respons sistemik, di situlah leverage Beijing bekerja,” ucapnya.
Gehrke menilai Eropa kini menghadapi dua persoalan sekaligus: ketidakseimbangan ekonomi akibat model industri China dan ancaman koersi ekonomi Beijing.
Karena itu, Uni Eropa dinilai perlu menggabungkan perlindungan industri dan strategi pencegahan ekonomi dalam satu agenda besar.
“Jika Eropa gagal menangani keduanya secara bersamaan, maka Eropa tidak akan berhasil menangani keduanya sama sekali,” pungkas Gehrke.
Eropa disebut menjadi salah satu kawasan yang paling rentan terhadap tekanan tersebut.
Namun usulan langkah-langkah seperti tarif impor, pembatasan pengadaan publik, syarat investasi asing, hingga diversifikasi rantai pasok dinilai terus tertahan oleh sejumlah negara anggota seperti Jerman.
Sebaliknya, perdebatan di Eropa lebih banyak berfokus pada deregulasi dan pemangkasan birokrasi.
Ketidakseimbangan Ekonomi
Kanselir Jerman Friedrich Merz dan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni disebut menjadikan deregulasi sebagai respons utama terhadap tantangan ekonomi.
Sementara itu, banyak perusahaan multinasional Eropa memperingatkan risiko konflik dagang jika Uni Eropa menerapkan langkah pertahanan perdagangan yang lebih agresif terhadap China.
Menurut Gehrke, efek tekanan China justru paling efektif ketika para pembuat kebijakan Eropa mulai menghindari pembahasan mengenai respons sistemik terhadap Beijing.
“Ketika pembuat kebijakan dan pelaku bisnis hanya berdebat mengenai solusi marginal tetapi diam terhadap respons sistemik, di situlah leverage Beijing bekerja,” ucapnya.
Gehrke menilai Eropa kini menghadapi dua persoalan sekaligus: ketidakseimbangan ekonomi akibat model industri China dan ancaman koersi ekonomi Beijing.
Karena itu, Uni Eropa dinilai perlu menggabungkan perlindungan industri dan strategi pencegahan ekonomi dalam satu agenda besar.
“Jika Eropa gagal menangani keduanya secara bersamaan, maka Eropa tidak akan berhasil menangani keduanya sama sekali,” pungkas Gehrke.
(mas)
Lihat Juga :