Iran Mulai Senggol Selat Malaka, Sebut Respons Reaksi Berantai dari Selat Hormuz
Selasa, 21 April 2026 - 12:00 WIB
loading...
A
A
A
Dalam sebuah pernyataan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengatakan Selat Hormuz akan ditutup hingga blokade AS terhadap pelabuhan Iran dicabut, memperingatkan bahwa mendekati selat tersebut akan dianggap sebagai “kerja sama dengan musuh” dan kapal yang melakukannya akan menjadi sasaran.
Ketegangan yang kembali meningkat di jalur sempit tersebut telah memperdalam kekhawatiran akan eskalasi baru setelah gencatan senjata selama dua minggu berakhir pada hari Rabu, sementara para mediator Pakistan berupaya mengatur putaran negosiasi langsung lainnya antara Iran dan Amerika Serikat.
Hu Bo, direktur South China Sea Strategic Situation Probing Initiative, sebuah lembaga think tank yang berbasis di Beijing, mengatakan komentar Velayati dapat dilihat sebagai upaya untuk menarik lebih banyak perhatian pada krisis Hormuz.
Namun, dia mengatakan dinamika geopolitik di Asia Tenggara berbeda dari yang ada di Selat Hormuz, dan Selat Malaka kemungkinan besar tidak akan menghadapi gangguan seperti yang terjadi di Timur Tengah.
Selat Malaka yang sempit merupakan jalur pelayaran penting yang menghubungkan Samudra Hindia dan Laut China Selatan. Terletak di antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura, selat ini merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia dan rute utama untuk pengiriman energi ke Asia Timur, dengan ketiga negara Asia Tenggara tersebut bersama-sama mengawasi keamanan dan navigasinya.
“Kemungkinan besar negara-negara pesisir tidak akan mengambil tindakan serupa dengan Iran di sekitar Hormuz,” kata Hu, seperti dikutip dari South China Morning Post, Selasa (21/4/2026).
Ketegangan yang kembali meningkat di jalur sempit tersebut telah memperdalam kekhawatiran akan eskalasi baru setelah gencatan senjata selama dua minggu berakhir pada hari Rabu, sementara para mediator Pakistan berupaya mengatur putaran negosiasi langsung lainnya antara Iran dan Amerika Serikat.
Hu Bo, direktur South China Sea Strategic Situation Probing Initiative, sebuah lembaga think tank yang berbasis di Beijing, mengatakan komentar Velayati dapat dilihat sebagai upaya untuk menarik lebih banyak perhatian pada krisis Hormuz.
Namun, dia mengatakan dinamika geopolitik di Asia Tenggara berbeda dari yang ada di Selat Hormuz, dan Selat Malaka kemungkinan besar tidak akan menghadapi gangguan seperti yang terjadi di Timur Tengah.
Selat Malaka yang sempit merupakan jalur pelayaran penting yang menghubungkan Samudra Hindia dan Laut China Selatan. Terletak di antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura, selat ini merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia dan rute utama untuk pengiriman energi ke Asia Timur, dengan ketiga negara Asia Tenggara tersebut bersama-sama mengawasi keamanan dan navigasinya.
“Kemungkinan besar negara-negara pesisir tidak akan mengambil tindakan serupa dengan Iran di sekitar Hormuz,” kata Hu, seperti dikutip dari South China Morning Post, Selasa (21/4/2026).
Lihat Juga :