Trump Ultimatum Iran Lagi: Buka Selat Hormuz Hari Rabu atau Listriknya Akan Dibom AS!

Senin, 06 April 2026 - 07:07 WIB
loading...
Trump Ultimatum Iran...
Presiden AS Donald Trump ultimatum Iran lagi untuk buka Selat Hormuz paling lambat pada Rabu WIB. Jika tidak, pembangkit listrik Iran akan dibom. Foto/CNN
A A A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada hari Minggu memperpanjang tenggat waktu 24 jam bagi Iran untuk membuat kesepakatan guna membuka kembali Selat Hormuz. Jika tidak, Amerika Serikat akan mengebom infrastruktur negara Islam tersebut, termasuk pembangkit listrik.

“Selasa, pukul 20.00 Waktu Bagian Timur!” tulis Trump di platform Truth Social miliknya.

Baca Juga: Iran Izinkan Kapal-kapal Irak Bebas Lewati Selat Hormuz

Batas waktu baru, pukul 00.00 GMT hari Rabu (pukul 07.00 WIB), berarti Teheran memiliki satu hari lagi untuk mencoba menenangkan pemimpin AS yang mudah berubah-ubah itu. Atau, Iran mengambil risiko Amerika menindaklanjuti ancamannya untuk menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan negara tersebut.

Iran secara efektif telah memblokir sebagian jalur pelayaran Selat Hormuz, rute vital untuk minyak dan gas dunia, sejak dimulainya kampanye pengeboman AS-Israel pada 28 Februari.

Trump, yang belum mengadakan acara publik sejak pidato nasional pada Rabu pekan lalu, tampaknya mengonfirmasi waktu baru tersebut dalam sebuah wawancara dengan The Wall Street Journal.

“Kita berada dalam posisi yang sangat kuat, dan negara itu akan membutuhkan waktu 20 tahun untuk membangun kembali, jika mereka beruntung, jika mereka masih memiliki negara,” katanya pada hari Minggu.

“Dan jika mereka tidak melakukan sesuatu pada Selasa malam, mereka tidak akan memiliki pembangkit listrik dan mereka tidak akan memiliki jembatan yang berdiri," lanjut ancaman Trump.

Presiden AS itu memberikan serangkaian wawancara singkat dengan media setelah mengumumkan penyelamatan dramatis seorang pilot jet tempur F-15E Strike Eagle AS–dan mengeluarkan ultimatum yang penuh umpatan kepada Iran untuk membebaskan jalur air strategis tersebut atau menghadapi serangan AS yang sengit.

Dia mengatakan kepada Fox News bahwa dia yakin ada "peluang bagus" untuk mencapai kesepakatan dengan Iran pada hari Senin (6/4/2026).

"Saya pikir ada peluang bagus besok, mereka sedang bernegosiasi sekarang," kata Trump.

"Jika mereka tidak mencapai kesepakatan dengan cepat, saya mempertimbangkan untuk meledakkan semuanya dan mengambil alih minyak," imbuh dia.

Dalam wawancara yang sama, Trump mengatakan dia telah memberikan "kekebalan dari kematian" kepada para negosiator Iran – dan mengatakan mereka telah mengakui bahwa Teheran tidak akan melanjutkan pengembangan senjata nuklir.

"Yang terpenting adalah mereka tidak akan memiliki senjata nuklir. Mereka bahkan tidak menegosiasikan poin itu, itu sangat mudah," katanya.

"Itu sudah diakui. Sebagian besar poin sudah diakui," paparnya.

Dalam sebuah wawancara dengan ABC News, Trump mengatakan konflik tersebut seharusnya berakhir dalam "beberapa hari, bukan beberapa minggu", tetapi memperingatkan bahwa tanpa semacam kesepakatan dengan Teheran, "sangat sedikit" hal yang akan dianggap terlarang dalam hal tindakan AS.

Trump mengatakan kepada Fox News bahwa Amerika Serikat telah mencoba mengirimkan senjata kepada para demonstran Iran yang menentang pemerintah yang dipimpin ulama melalui perantara Kurdi.

Demonstrasi pecah pada bulan Desember di Iran karena tingginya biaya hidup. Aksi unjuk rasa tersebut akhirnya meningkat menjadi protes anti-pemerintah yang ditumpas dengan kekerasan mematikan.

"Kami mengirimkan senjata kepada para demonstran, banyak dari mereka," kata Trump. "Dan saya pikir orang Kurdi mengambil senjata itu."

Akhir bulan lalu, seorang pejabat tinggi di Kurdistan Irak mengatakan dalam sebuah wawancara dengan AFP bahwa Washington belum mempersenjatai kelompok oposisi Kurdi Iran yang diasingkan di wilayah otonom tersebut.

“Kami belum melihat upaya apa pun dari Amerika Serikat, atau cabang mana pun dari Amerika Serikat, untuk mempersenjatai kelompok oposisi Iran di Kurdistan,” kata wakil perdana menteri Kurdistan Irak yang otonom, Qubad Talabani.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Balas Serangan AS, Iran...
Balas Serangan AS, Iran Gempur Bahrain
Lebih dari 50.000 Orang...
Lebih dari 50.000 Orang Dilaporkan Hilang akibat Gempa Venezuela
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan...
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan di Teluk yang Rusak Akibat Serangan Iran ke Israel
6 Petani Diculik Tentara...
6 Petani Diculik Tentara Israel di Lebanon Selatan
Lebanon dan Israel Tandatangani...
Lebanon dan Israel Tandatangani Kesepakatan Kerangka Kerja untuk Akhiri Perang
India Tuntut Pertanggungjawaban...
India Tuntut Pertanggungjawaban atas Para Pelaku Pemboman Sekolah
Mengapa Gol Iran ke...
Mengapa Gol Iran ke Gawang Mesir Dianulir? Ini Penjelasan Aturan Offside di Piala Dunia 2026
Kapal Penangkap Ikan...
Kapal Penangkap Ikan Tenggelam di Lepas Pantai Busan, 2 Awak Asal Indonesia Hilang
Mengenal Gempa Doublet...
Mengenal Gempa Doublet di Venezuela Tewaskan Ratusan Orang, Jarang Terjadi
Rekomendasi
Dewan Etik Partai Golkar...
Dewan Etik Partai Golkar Jatuhkan Sanksi kepada 3 Kader dari Sumsel
DPR: Kasus Chromebook...
DPR: Kasus Chromebook Adalah The New White Collar Crime Terbaik Tanpa Kriminalisasi
Lima Korban SPPI dan...
Lima Korban SPPI dan Momentum Membenahi Program Bela Negara bagi Sipil
Berita Terkini
Balas Serangan AS, Iran...
Balas Serangan AS, Iran Gempur Bahrain
Korut Masih Andalkan...
Korut Masih Andalkan Senjata Besar, Korsel Beralih ke 500.000 Prajurit Drone, Siapa Lebih Unggul?
Ukraina Berusaha Rebut...
Ukraina Berusaha Rebut Kesempatan Pertama untuk Menang, tapi Kenapa Selalu Gagal?
Pengadilan Inggris Butuh...
Pengadilan Inggris Butuh 300 Tahun untuk Selesaikan Tumpukan Kasus
Lebih dari 50.000 Orang...
Lebih dari 50.000 Orang Dilaporkan Hilang akibat Gempa Venezuela
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan...
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan di Teluk yang Rusak Akibat Serangan Iran ke Israel
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved