Trump: Sejujurnya, Hal Favorit Saya Adalah Mengambil Alih Minyak Iran!

Senin, 30 Maret 2026 - 08:00 WIB
loading...
Trump: Sejujurnya, Hal...
Presiden AS Donald Trump berniat untuk mengambil alih minyak Iran dan merebut Pulau Kharg. Foto/White House
A A A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Amerika dapat mengambil alih minyak di Iran. Dia juga mengemukakan kemungkinan merebut pusat ekspor minyak utama negara Islam itu, yakni Pulau Kharg.

Itu disampaikan Trump dalam wawancaranya dengan Financial Times, yang dikutip Iran International Senin (30/3/2026), saat AS mengirim ribuan tentara ke Timur Tengah untuk potensi invasi darat ke Iran.

“Sejujurnya, hal favorit saya adalah mengambil alih minyak di Iran, tetapi beberapa orang bodoh di AS mengatakan: ‘mengapa Anda melakukan itu?’ Tetapi mereka orang bodoh,” kata Trump.

Baca Juga: Iran Merudal Pesawat Mata-mata AS hingga Hancur Total, Ini Penampakannya

Langkah tersebut, kata Trump, akan melibatkan perebutan Pulau Kharg, pusat penempatan minyak mentah utama Iran untuk ekspor.

“Mungkin kita merebut Pulau Kharg, mungkin tidak. Kita memiliki banyak pilihan,” kata Trump, menambahkan bahwa operasi apa pun kemungkinan akan membutuhkan pasukan AS untuk tetap berada di sana untuk beberapa waktu.

Trump telah meningkatkan pasukan AS di wilayah tersebut, dengan Pentagon memerintahkan pengerahan 10.000 tentara yang terlatih untuk merebut dan mempertahankan wilayah.

Sekitar 3.500 tentara tiba di wilayah tersebut pada hari Jumat, termasuk sekitar 2.200 personel Korps Marinir. 2.200 personel Korps Marinir lainnya sedang dalam perjalanan, sementara ribuan pasukan dari Divisi Lintas Udara ke-82 juga telah diperintahkan ke wilayah tersebut.

Namun, serangan terhadap pusat ekspor minyak Iran tersebut akan berisiko, meningkatkan kemungkinan lebih banyak korban jiwa di pihak AS dan memperpanjang biaya serta durasi perang.

Ketika ditanya tentang keadaan pertahanan Iran di Pulau Kharg, Trump berkata: “Saya rasa mereka tidak memiliki pertahanan apa pun. Kita bisa merebutnya dengan sangat mudah.”

Konflik telah meluas dalam beberapa hari terakhir, dengan serangan Iran terhadap pangkalan udara di Arab Saudi pada hari Jumat yang melukai 15 tentara Amerika dan merusak pesawat pengintai E-3 Sentry AS senilai USD270 juta.

Sementara itu, kelompok Houthi di Yaman juga menembakkan rudal balistik ke Israel, mengancam fase eskalasi baru yang menurut para analis dapat memperburuk krisis energi global.

Namun, terlepas dari ancaman Trump untuk merebut produksi minyak Iran, presiden AS itu menekankan bahwa pembicaraan tidak langsung antara AS dan Iran melalui "utusan" Pakistan berjalan dengan baik.

Trump telah menetapkan tenggat waktu 6 April bagi Iran untuk menerima kesepakatan yang mengakhiri perang atau menghadapi serangan AS terhadap sektor energinya.

Ketika ditanya apakah kesepakatan gencatan senjata dapat dicapai dalam beberapa hari mendatang yang akan membuka kembali Selat Hormuz, jalur air tempat seperlima minyak dunia biasanya mengalir, Trump menolak untuk memberikan rincian spesifik.

"Kita masih memiliki sekitar 3.000 target yang tersisa—kita telah mengebom 13.000 target—dan beberapa ribu target lagi yang harus dibom," katanya. “Kesepakatan bisa dibuat dengan cukup cepat.”

Pekan lalu, dia mengatakan bahwa Iran telah mengizinkan 10 kapal tanker minyak berbendera Pakistan melewati Selat Hormuz sebagai “hadiah” untuk Gedung Putih. Jumlah kapal tanker tersebut kini telah digandakan menjadi 20, katanya kepada Financial Times, yang tidak dapat segera diverifikasi.

“Mereka memberi kami 10,” katanya. “Sekarang mereka memberi 20 dan 20 kapal itu sudah mulai berlayar dan mereka langsung menuju tengah Selat [Hormuz].”
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Oman Tawarkan Rencana...
Oman Tawarkan Rencana Pasca-Konflik pada AS tentang Biaya Melewati Selat Hormuz
Bagaimana Iran Menggunakan...
Bagaimana Iran Menggunakan Strategi Ubur-ubur untuk Menjatuhkan Jet Tempur AS?
Keuskupan Agung Katolik...
Keuskupan Agung Katolik AS akan Bayar Rp7 Triliun pada Para Korban Pelecehan Seksual Anak
Pejabat AS Bertemu Hamas...
Pejabat AS Bertemu Hamas Saat Washington Sampaikan Tuntutan Gaza pada Israel
Pertama Kali dalam 20...
Pertama Kali dalam 20 Tahun, Buffett Tunda Donasi ke Gates Foundation karena Kasus Epstein
Pria Ini Bunuh Pacar,...
Pria Ini Bunuh Pacar, tapi Tewas Serangan Jantung saat Buang Mayat Korban
Aroma Match Fixing Rugikan...
Aroma Match Fixing Rugikan Timnas Iran di Piala Dunia 2026, Kenapa FIFA Tolak Investigasi?
Laporan Media: Iran...
Laporan Media: Iran - AS Sepakat Hentikan Serangan, Gelar Pertemuan Darurat di Qatar
Hilang Misterius 12...
Hilang Misterius 12 Tahun Silam, Pencarian Pesawat Malaysia Airlines MH370 Diperpanjang Setahun
Rekomendasi
Dampak Pembiayaan PNM...
Dampak Pembiayaan PNM Diakui, Kini Melayani 23 Juta Nasabah Perempuan Prasejahtera
Sunscreen Ringan Jadi...
Sunscreen Ringan Jadi Pilihan Perlindungan Kulit Harian di Iklim Tropis
Kontroversi Piala Dunia...
Kontroversi Piala Dunia 2026: Iran Kecam Pejabat AS yang Ejek Kegagalan Team Melli
Berita Terkini
Jumlah Korban Tewas...
Jumlah Korban Tewas Akibat Gempa Bumi Venezuela Meningkat Jadi 1.943 Jiwa
Oman Tawarkan Rencana...
Oman Tawarkan Rencana Pasca-Konflik pada AS tentang Biaya Melewati Selat Hormuz
2 Negara Muslim Ini...
2 Negara Muslim Ini Saling Serang, Ini 7 Alasan Konflik Itu Tak Mudah Diselesaikan
Rusia Sedang Dibakar...
Rusia Sedang Dibakar Ukraina, Putin Tidak Akan Gentar
Bagaimana Iran Menggunakan...
Bagaimana Iran Menggunakan Strategi Ubur-ubur untuk Menjatuhkan Jet Tempur AS?
Para Pemimpin Yahudi...
Para Pemimpin Yahudi Ultra-Ortodoks Sebut Tentara Guru Dosa-dosa Terberat dan Israel Najis
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved