Trump Blakblakan Kuba Target Berikutnya setelah Perang Iran
Senin, 16 Maret 2026 - 12:49 WIB
loading...
Presiden AS Donald Trump blakblakan Kuba jadi target berikutnya setelah dia menyelesaikan perang AS-Israel dengan Iran. Foto/The Militant/Ricardo López Hevia
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump blakblakan akan menargetkan Kuba setelah dia menyelesaikan perang Amerika-Israel dengan Iran. Namun, dia memprediksi Havana akan membuat kesepakatan dengan Washington.
"Saya pikir kita akan segera membuat kesepakatan atau melakukan apa pun yang harus kita lakukan," katanya kepada wartawan Minggu di Air Force One, sebagaimana dikutip dari Bloomberg, Senin (16/3/2026). "Kita sedang berbicara dengan Kuba, tetapi kita akan menangani Iran sebelum Kuba," katanya lagi.
Baca Juga: Israel Ingin Lanjutkan Perang 3 Minggu Lagi, Iran Justru Menolak Akhiri Konflik
Di bawah Trump, AS telah memperketat tekanan terhadap Kuba, memberlakukan blokade bahan bakar hampir total yang telah memperburuk pemadaman listrik yang sudah berlangsung berjam-jam di negara komunis tersebut.
Spekulasi tentang kemungkinan penggulingan militer rezim Komunis Kuba telah beredar di Washington seiring dengan berlanjutnya serangan AS di Iran, sebagian dipicu oleh pembicaraan dari Trump dan sekutunya, termasuk Senator Lindsey Graham, yang telah mengemukakan prospek jatuhnya pemerintahan Kuba.
Unjuk rasa di Kuba berkobar selama akhir pekan, dengan para pengunjuk rasa di kota Moron melempari batu dan membakar kantor Partai Komunis setempat. Lima orang ditangkap dan satu dirawat di rumah sakit, menurut laporan surat kabar milik negara; Granma.
"Orang-orang telah menunggu 50 tahun untuk mendengar cerita ini dengan Kuba," kata Trump.
Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan khusus AS dalam operasi Januari lalu hanya memperkuat teori tentang kemungkinan rencana perubahan rezim di pulau yang berjarak 90 mil (145 kilometer) dari pantai Florida, yang para pemimpin Komunis-nya telah bertahan melawan tekanan AS selama beberapa dekade.
Orang-orang yang mengetahui pemikiran Trump tentang Kuba mengatakan bahwa dia ingin menggunakan tekanan ekonomi Amerika untuk membuat negara itu bergantung secara finansial pada Washington. AS pada dasarnya akan menggantikan peran saingannya di masa lalu, Uni Soviet, yang menjaga Kuba tetap bertahan sebelum runtuh pada tahun 1991.
Pemerintah Kuba pada hari Jumat mengkonfirmasi bahwa mereka telah berbicara dengan para pejabat AS, dengan Presiden Miguel Diaz-Canel mengatakan kedua pihak sedang menjajaki "solusi potensial untuk perbedaan bilateral kita."
Diaz-Canel mengatakan bahwa dia bersedia bernegosiasi dengan AS, tetapi hanya sebagai pihak yang setara. Dia juga memperingatkan bahwa negaranya sedang memperkuat pertahanan militernya.
"Saya pikir kita akan segera membuat kesepakatan atau melakukan apa pun yang harus kita lakukan," katanya kepada wartawan Minggu di Air Force One, sebagaimana dikutip dari Bloomberg, Senin (16/3/2026). "Kita sedang berbicara dengan Kuba, tetapi kita akan menangani Iran sebelum Kuba," katanya lagi.
Baca Juga: Israel Ingin Lanjutkan Perang 3 Minggu Lagi, Iran Justru Menolak Akhiri Konflik
Di bawah Trump, AS telah memperketat tekanan terhadap Kuba, memberlakukan blokade bahan bakar hampir total yang telah memperburuk pemadaman listrik yang sudah berlangsung berjam-jam di negara komunis tersebut.
Spekulasi tentang kemungkinan penggulingan militer rezim Komunis Kuba telah beredar di Washington seiring dengan berlanjutnya serangan AS di Iran, sebagian dipicu oleh pembicaraan dari Trump dan sekutunya, termasuk Senator Lindsey Graham, yang telah mengemukakan prospek jatuhnya pemerintahan Kuba.
Unjuk rasa di Kuba berkobar selama akhir pekan, dengan para pengunjuk rasa di kota Moron melempari batu dan membakar kantor Partai Komunis setempat. Lima orang ditangkap dan satu dirawat di rumah sakit, menurut laporan surat kabar milik negara; Granma.
"Orang-orang telah menunggu 50 tahun untuk mendengar cerita ini dengan Kuba," kata Trump.
Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan khusus AS dalam operasi Januari lalu hanya memperkuat teori tentang kemungkinan rencana perubahan rezim di pulau yang berjarak 90 mil (145 kilometer) dari pantai Florida, yang para pemimpin Komunis-nya telah bertahan melawan tekanan AS selama beberapa dekade.
Orang-orang yang mengetahui pemikiran Trump tentang Kuba mengatakan bahwa dia ingin menggunakan tekanan ekonomi Amerika untuk membuat negara itu bergantung secara finansial pada Washington. AS pada dasarnya akan menggantikan peran saingannya di masa lalu, Uni Soviet, yang menjaga Kuba tetap bertahan sebelum runtuh pada tahun 1991.
Pemerintah Kuba pada hari Jumat mengkonfirmasi bahwa mereka telah berbicara dengan para pejabat AS, dengan Presiden Miguel Diaz-Canel mengatakan kedua pihak sedang menjajaki "solusi potensial untuk perbedaan bilateral kita."
Diaz-Canel mengatakan bahwa dia bersedia bernegosiasi dengan AS, tetapi hanya sebagai pihak yang setara. Dia juga memperingatkan bahwa negaranya sedang memperkuat pertahanan militernya.
(mas)
Lihat Juga :