17 Pria Dites DNA atas Pemerkosaan Wanita hingga Hamil, tapi DNA Ayahnya yang Cocok
Jum'at, 06 Februari 2026 - 10:47 WIB
loading...
Sebanyak 17 pria menjalani tes DNA atas pemerkosaan wanita di Mumbai, India, hingga hamil. Namun, DNA ayahnya yang cocok dengan DNA janin. Foto/Ilustrasi via Money Control
A
A
A
NEW DELHI - Seorang wanita 20 tahun dengan kondisi bisu dan tuli di Mumbai, India, hamil setelah menjadi korban pemerkosaan. Polisi turun tangan dengan melakukan tes DNA terhadap 17 pria yang dicurigai terlibat dalam kejahatan tersebut.
Yang mengejutkan, dari 17 pria yang menjalai tes, DNA ayah kandung wanita itu yang cocok.
Mengutip laporan dari NDTV, Jumat (6/2/2026), sang ayah lantas ditangkap polisi setelah tes DNA mengonfirmasi hubungannya dengan janin tersebut. Kasus ini sangat mengganggu komunitas lingkungan Cuffe Parade di Mumbai.
Baca Juga: Memilukan, Gadis India Pendarahan akibat Diperkosa dan Minta Tolong di Jalanan
Kasus ini dimulai pada September tahun lalu. Polisi sebelumnya menangkap seorang pria kedua dan menahan seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun setelah keduanya diidentifikasi oleh korban sebagai pelaku pemerkosaan. Selain itu, polisi juga menyelidiki peran beberapa orang lain—yang menggambarkan betapa mengerikannya kejahatan tersebut.
Awalnya, pada September 2025, wanita itu mengeluh kepada neneknya tentang ketidaknyamanan di perutnya. Dengan menggunakan isyarat tangan, dia mengatakan merasa seperti "serangga merayap" di perutnya.
Dia kemudian dirawat di Cama and Albless Hospital di kota itu. Pemeriksaan medis mengungkapkan kehamilan pada bulan kelima. Pihak rumah sakit pun bergegas memberitahu polisi.
Pihak kepolisi mengatakan mereka awalnya menghadapi masalah komunikasi karena wanita itu tidak mampu, dan tidak mau, memberikan pernyataan.
Polisi kemudian berbicara dengan sang ayah, yang menolak pertanyaan tentang pelecehan seksual dan tidak dapat menjelaskan bagaimana putrinya bisa hamil. Sang ayah juga menolak untuk mengajukan pengaduan.
Terobosan akhirnya datang dengan bantuan konselor dari LSM Vidhayak Bharti, Lila Patade dan Madhura Kodlekar.
Selama lima hari, mereka melakukan sesi terapi menggunakan gambar dan teknik komunikasi boneka jari untuk membantu korban mengungkapkan pengalamannya. Proses yang melelahkan ini memungkinkannya untuk mengajukan pengaduan dan mengidentifikasi para pelaku.
Selama sesi-sesi ini, wanita itu berulang kali menyebutkan nama-nama individu tertentu.
Berdasarkan informasi yang diberikannya, polisi menangkap dua orang, yaitu pria kedua dan remaja laki-laki 17 tahun. Mereka juga mengambil sampel DNA dan darah dari 17 terduga pelaku, termasuk sang ayah, dan mencocokkannya dengan data genetik dari janin untuk menetapkan identitas pelaku pemerkosaan.
Pada 27 Januari, laporan tersebut mengungkapkan hanya satu kecocokan positif—yakni ayah wanita tersebut.
Menurut polisi, pemerkosaan terjadi antara bulan Maret dan 21 September tahun lalu. Kasus didaftarkan di kantor polisi pada hari berikutnya, yaitu 22 September.
Yang mengejutkan, dari 17 pria yang menjalai tes, DNA ayah kandung wanita itu yang cocok.
Mengutip laporan dari NDTV, Jumat (6/2/2026), sang ayah lantas ditangkap polisi setelah tes DNA mengonfirmasi hubungannya dengan janin tersebut. Kasus ini sangat mengganggu komunitas lingkungan Cuffe Parade di Mumbai.
Baca Juga: Memilukan, Gadis India Pendarahan akibat Diperkosa dan Minta Tolong di Jalanan
Kasus ini dimulai pada September tahun lalu. Polisi sebelumnya menangkap seorang pria kedua dan menahan seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun setelah keduanya diidentifikasi oleh korban sebagai pelaku pemerkosaan. Selain itu, polisi juga menyelidiki peran beberapa orang lain—yang menggambarkan betapa mengerikannya kejahatan tersebut.
Awalnya, pada September 2025, wanita itu mengeluh kepada neneknya tentang ketidaknyamanan di perutnya. Dengan menggunakan isyarat tangan, dia mengatakan merasa seperti "serangga merayap" di perutnya.
Dia kemudian dirawat di Cama and Albless Hospital di kota itu. Pemeriksaan medis mengungkapkan kehamilan pada bulan kelima. Pihak rumah sakit pun bergegas memberitahu polisi.
Pihak kepolisi mengatakan mereka awalnya menghadapi masalah komunikasi karena wanita itu tidak mampu, dan tidak mau, memberikan pernyataan.
Polisi kemudian berbicara dengan sang ayah, yang menolak pertanyaan tentang pelecehan seksual dan tidak dapat menjelaskan bagaimana putrinya bisa hamil. Sang ayah juga menolak untuk mengajukan pengaduan.
Terobosan akhirnya datang dengan bantuan konselor dari LSM Vidhayak Bharti, Lila Patade dan Madhura Kodlekar.
Selama lima hari, mereka melakukan sesi terapi menggunakan gambar dan teknik komunikasi boneka jari untuk membantu korban mengungkapkan pengalamannya. Proses yang melelahkan ini memungkinkannya untuk mengajukan pengaduan dan mengidentifikasi para pelaku.
Selama sesi-sesi ini, wanita itu berulang kali menyebutkan nama-nama individu tertentu.
Berdasarkan informasi yang diberikannya, polisi menangkap dua orang, yaitu pria kedua dan remaja laki-laki 17 tahun. Mereka juga mengambil sampel DNA dan darah dari 17 terduga pelaku, termasuk sang ayah, dan mencocokkannya dengan data genetik dari janin untuk menetapkan identitas pelaku pemerkosaan.
Pada 27 Januari, laporan tersebut mengungkapkan hanya satu kecocokan positif—yakni ayah wanita tersebut.
Menurut polisi, pemerkosaan terjadi antara bulan Maret dan 21 September tahun lalu. Kasus didaftarkan di kantor polisi pada hari berikutnya, yaitu 22 September.
(mas)
Lihat Juga :