GIF Nilai AS Makin Agresif, Teropong Potensi Target Geopolitik Selanjutnya
Sabtu, 31 Januari 2026 - 22:33 WIB
loading...
A
A
A
Sementara itu, Peneliti Senior GIF, Faisal Nurdin Idris, menyoroti kembalinya pola pikir Doktrin Monroe dalam kebijakan luar negeri AS. “Di bawah Trump, Doktrin Monroe dimodifikasi dan dihidupkan kembali. AS memandang kawasan tertentu sebagai halaman belakang strategisnya, terutama ketika merasa terancam oleh dominasi Tiongkok,” ujarnya.
Menurut Faisal, Iran dipersepsikan sebagai penghalang utama pengaruh AS di Timur Tengah, sementara kawasan Indo-Pasifik menjadi arena utama kompetisi dengan Tiongkok. “Ini menjelaskan mengapa kebijakan AS semakin keras dan bersifat koersif, bukan hanya terhadap lawan, tetapi juga berpotensi menekan mitra,” katanya.
Para narasumber juga menyoroti posisi Indonesia dalam lanskap geopolitik global. Meski tidak menjadi target langsung, Indonesia dinilai tetap memiliki kerentanan struktural. “Indonesia bisa rentan jika kepemimpinan nasional terbelah, ketergantungan ekonomi terlalu berat pada satu blok kekuatan, atau konsensus strategis nasional melemah,” ujar Farid. Baca juga: SBY: Perang Dunia III Sangat Mungkin Terjadi, Desak PBB Gelar Sidang Darurat
Para pakar menilai ancaman terhadap Indonesia lebih bersifat pengikisan kedaulatan secara bertahap melalui narasi, preseden hukum, dan ketergantungan struktural, bukan invasi militer terbuka. Karena itu, GIF merekomendasikan penguatan ketahanan nasional, kejelasan strategi keamanan nasional, serta peningkatan solidaritas regional melalui ASEAN, G20, dan Global South.
menilai kebijakan luar negeri Amerika Serikat (AS) menunjukkan kecenderungan semakin agresif dan koersif dalam merespons dinamika geopolitik global. Tekanan tersebut dinilai mengikuti pola strategis yang berkaitan dengan penguasaan sumber daya dan kompetisi kekuatan besar dunia.
Menurut Faisal, Iran dipersepsikan sebagai penghalang utama pengaruh AS di Timur Tengah, sementara kawasan Indo-Pasifik menjadi arena utama kompetisi dengan Tiongkok. “Ini menjelaskan mengapa kebijakan AS semakin keras dan bersifat koersif, bukan hanya terhadap lawan, tetapi juga berpotensi menekan mitra,” katanya.
Para narasumber juga menyoroti posisi Indonesia dalam lanskap geopolitik global. Meski tidak menjadi target langsung, Indonesia dinilai tetap memiliki kerentanan struktural. “Indonesia bisa rentan jika kepemimpinan nasional terbelah, ketergantungan ekonomi terlalu berat pada satu blok kekuatan, atau konsensus strategis nasional melemah,” ujar Farid. Baca juga: SBY: Perang Dunia III Sangat Mungkin Terjadi, Desak PBB Gelar Sidang Darurat
Para pakar menilai ancaman terhadap Indonesia lebih bersifat pengikisan kedaulatan secara bertahap melalui narasi, preseden hukum, dan ketergantungan struktural, bukan invasi militer terbuka. Karena itu, GIF merekomendasikan penguatan ketahanan nasional, kejelasan strategi keamanan nasional, serta peningkatan solidaritas regional melalui ASEAN, G20, dan Global South.
menilai kebijakan luar negeri Amerika Serikat (AS) menunjukkan kecenderungan semakin agresif dan koersif dalam merespons dinamika geopolitik global. Tekanan tersebut dinilai mengikuti pola strategis yang berkaitan dengan penguasaan sumber daya dan kompetisi kekuatan besar dunia.
(poe)
Lihat Juga :