Jenderal Zhang Disingkirkan, Tak Ada Lagi Jenderal China yang Berani pada Xi Jinping

Jum'at, 30 Januari 2026 - 15:52 WIB
loading...
Jenderal Zhang Disingkirkan,...
Jenderal Zhang Youxia, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat China, sedang diselidiki atas tuduhan korupsi. Foto/Yonhap
A A A
BEIJING - China pernah membersihkan jenderal-jenderal top sebelumnya, tetapi pengumuman bahwa Jenderal Zhang Youxia, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (CMC) yang berpengaruh, sedang diselidiki atas tuduhan korupsi mengejutkan para pengamat pertahanan.

Jatuhnya seorang veteran terkemuka yang dianggap dekat dengan Presiden Xi Jinping menunjukkan sejauh mana kampanye anti-korupsi militer pemimpin China dan semakin memperkuat kekuasaannya.

Baca Juga: Xi Jinping dan Krisis Komando PLA: Kasus Zhang Youxia Ungkap Konflik Internal China

Zhang (75) adalah Wakil Ketua CMC, badan yang mengawasi militer China yang diketuai oleh Xi Jinping.

"Zhang dan jenderal CMC lainnya, Liu Zhenli, diduga melakukan pelanggaran disiplin dan hukum yang serius," kata Kementerian Pertahanan pada hari Sabtu, menggunakan eufemisme umum untuk korupsi.

Sebuah editorial di People’s Liberation Army (PLA) Daily mengatakan, "Kedua pria itu telah secara serius menginjak-injak dan merusak sistem tanggung jawab tertinggi yang berada di pundak ketua CMC"—yaitu Xi Jinping.

Keberadaan kedua jenderal itu tidak diketahui, dan tidak ada detail yang diberikan mengenai tuduhan terhadap mereka.

Wall Street Journal, mengutip orang-orang yang mengetahui pengarahan tingkat tinggi tentang tuduhan tersebut, melaporkan bahwa Zhang telah dituduh membocorkan informasi tentang program senjata nuklir China kepada Amerika Serikat.

Namun laporan tersebut belum bisa diverifikasi secara independen.

Seberapa Signifikan Kejatuhan Jenderal Zhang?


Xi Jinping telah memimpin kampanye yang gencar melawan korupsi di semua bidang kehidupan resmi sejak berkuasa.

"Namun, pengumuman hari Sabtu itu adalah sebuah kejutan besar, dengan dampak yang luas dan mendalam," kata Hua Po, seorang analis independen yang berbasis di Beijing.

Steve Tsang, direktur SOAS China Institute, mengatakan: "Penyingkirannya berarti tidak ada jenderal lain di PLA yang dapat merasa aman sekarang."

Zhang dan Liu belum secara resmi dikeluarkan dari CMC.

Namun, dua mantan menteri pertahanan—Wei Fenghe dan kemudian Li Shangfu—dikeluarkan setelah tuduhan serupa diajukan, dan jenderal He Weidong dan Miao Hua dipecat tahun lalu.

Kemungkinan pemecatan Zhang dan Liu di masa depan akan membuat CMC, yang seharusnya memiliki tujuh anggota, hanya memiliki dua perwakilan yang diketahui: Xi Jinping dan kepala anti-korupsi Zhang Shengmin.

"Ini mewakili kendali pribadi maksimal atas angkatan bersenjata China—secara teoritis," kata Niklas Swanstrom, direktur Institute for Security and Development Policy (ISDP) yang berbasis di Stockholm.

Tsang memperkirakan bahwa jenderal-jenderal pengganti di CMC di masa depan akan menjadi orang-orang yang hanya mengiyakan. "Dan tidak akan berani menantang Xi," ujarnya.

Apa Artinya bagi Militer China?


"Terlepas dari kekacauan tersebut, kesiapan militer China tampaknya tidak terhambat secara signifikan dan PLA dapat melanjutkan aktivitas seperti biasa,” kata James Char, pakar dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura.

"Meskipun akan ada kerugian langsung terhadap kohesi komando, hal itu berpotensi diimbangi oleh manfaat struktural jangka panjang jika tujuannya memang untuk mememberantas korupsi," imbuh Swanstrom.

Hua, analis independen, mengatakannya lebih terus terang: “Mulai saat ini, militer hanya akan menuruti Xi—ke mana pun dia menunjuk, mereka akan menyerang.”

Itu tidak selalu berarti perubahan strategi saat ini.

“Perencana pertahanan China akan terus mendorong dua tujuan yang telah ditetapkan (Xi Jinping) untuk PLA—yaitu, pada dasarnya menyelesaikan modernisasinya pada tahun 2035; dan untuk menjadi angkatan bersenjata kelas dunia pada pertengahan abad ini,” kata Char.

Jenderal Zhang Disingkirkan Akan Pengaruhi Strategi atas Taiwan?


PLA telah meningkatkan jumlah dan cakupan latihan militer di sekitar Taiwan dalam beberapa tahun terakhir.

China mengeklaim pulau demokratis yang memerintah sendiri itu sebagai wilayahnya dan telah berjanji untuk menguasainya—dengan mengatakan bahwa mereka berharap untuk penyatuan yang damai, tetapi mengancam akan menggunakan kekuatan jika perlu.

Namun, sebagian besar pakar yang diwawancarai oleh AFP mengatakan bahwa invasi besar-besaran tampaknya tidak mungkin terjadi dalam jangka pendek.

“Hal itu justru membuatnya lebih berisiko daripada yang sudah ada, jika Anda tidak memiliki serangkaian komandan berpengalaman yang telah bekerja sama dalam operasi gabungan yang kompleks, yang sekarang sama sekali tidak dimiliki China,” kata Neil Thomas, anggota Asia Society.

Swanstrom menambahkan bahwa, yang lebih memperumit masalah, para jenderal yang disingkirkan dipandang sebagai orang-orang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman paling banyak dalam mempersiapkan operasi Taiwan.

"Secara praktis, dalam hal invasi, PLA masih terhambat oleh jumlah [kapal] amfibi yang terbatas," kata Char.

Serangan yang gagal akan menjadi “bencana politik” bagi Xi Jinping, imbuh Su Tzu-yun yang merupakan pakar dari Institute for National Defense and Security Research yang berbasis di Taipei.

“Memperkuat kendali di dalam negeri...tampaknya merupakan tindakan yang lebih rasional bagi Xi Jinping daripada melancarkan perang yang hasilnya tidak dapat dipastikan.”
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Studi: Surplus Ekspor...
Studi: Surplus Ekspor China Kian Tekan Peluang Industri Negara Berkembang
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
Jenderal Jerman Ancam...
Jenderal Jerman Ancam Serang Dahsyat Rusia: Kami Siap Bertempur Malam Ini
Ini Alasan Trump Puji...
Ini Alasan Trump Puji Putin dan Xi Jinping atas Kesepakatan Damai AS-Iran
China Tangkap 2 Pemimpin...
China Tangkap 2 Pemimpin Gereja Bawah Tanah yang Berpengaruh, Apa Pemicunya?
Kunjungi Pyongyang,...
Kunjungi Pyongyang, Xi Jinping Diduga Berusaha Redam Pengaruh Rusia atas Korut
China Kenalkan Senjata...
China Kenalkan Senjata Laser Genggam Lijian untuk Jatuhkan Drone
Negosiator Iran dan...
Negosiator Iran dan AS Bertemu di Jenewa untuk Babak Baru Pembicaraan Demi Akhiri Perang
Arkeolog Arab Saudi...
Arkeolog Arab Saudi Temukan Prasasti Bertulis Khalifah Umar bin Khattab
Rekomendasi
Randy Martin Buka Bisnis...
Randy Martin Buka Bisnis Photobooth, Kemesraannya dengan Lyodra Curi Perhatian
Buronan Kasus Penipuan...
Buronan Kasus Penipuan Bisnis Batu Bara Rp7 Miliar Ditangkap di Bandara Soetta
Imbas BI Rate Naik,...
Imbas BI Rate Naik, Pasar Rumah Kelas Menengah Mulai Ngerem
Berita Terkini
5 Fakta Iran Mampu Memecah...
5 Fakta Iran Mampu Memecah Aliansi Abadi AS dan Israel, Lebanon Jadi Alat Utamanya
3 Alasan PM Inggris...
3 Alasan PM Inggris Starmer Akan Mundur, Popularitasnya Terus Menurun
Iran dan AS Berdamai,...
Iran dan AS Berdamai, Negara-negara Arab Bisa Bernapas Lega
Gelar Serangan Balasan,...
Gelar Serangan Balasan, Rusia Hancurkan Fasilitas Energi di Seluruh Ukraina
JD Vance: Iran dan AS...
JD Vance: Iran dan AS Bekerja Sama Mewujudkan Perdamaian dan Kemakmuran di Timur Tengah
Iran Gunakan Senjata...
Iran Gunakan Senjata Ampuh dalam Negosiasi di Swiss, Apa Itu?
Infografis
Gejala HMPV pada Anak,...
Gejala HMPV pada Anak, Penyakit yang Mewabah di China
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved