Mampukah Iran Tenggelamkan Kapal Induk AS dengan Rudal Hipersonik Fattah-2? Ini Analisisnya
Senin, 26 Januari 2026 - 12:11 WIB
loading...
A
A
A
Mengutip laporan WION News, Senin (26/1/2026), jawaban utama Angkatan Laut AS terhadap ancaman rudal hipersonik Iran tersebut adalah RIM-174 Standard Missile (SM-6) Dual II.
Saat ini, SM-6 adalah satu-satunya rudal dalam persenjataan Amerika yang mampu mencegat kendaraan luncur hipersonik pada fase terminalnya. SM-6 menggunakan perangkat lunak canggih untuk menghitung "kehilangan energi" dari kendaraan luncur yang datang, memprediksi jalurnya tepat sebelum benturan.
Namun, fisika dari intersepsi ini mirip dengan "menembak peluru dengan peluru", yang membutuhkan tingkat presisi yang memiliki margin kesalahan tinggi dalam pertempuran dunia nyata.
Agar rudal hipersonik Iran dapat menghantam kapal Abraham Lincoln, senjata itu harus terlebih dahulu menemukannya. Inilah masalah "Kill Chain" atau "Rantai Pembunuhan".
Rudal hipersonik sangat cepat, tetapi satelit dan drone yang digunakan untuk menargetkannya seringkali lambat atau rentan terhadap gangguan.
Jika kapal Abraham Lincoln bergerak dengan kecepatan 30 knot dalam "Ghost Mode", data penargetan yang dikirim ke rudal saat peluncuran akan usang pada saat senjata tiba 10 menit kemudian. Tidak seperti rudal jelajah pintar, kendaraan luncur hipersonik yang bergerak dengan kecepatan Mach 13 memiliki bidang pandang terbatas untuk mencari kapal yang bergerak jika koordinat awal salah.
Faktanya, hampir mustahil bagi satu rudal hipersonik non-nuklir untuk menenggelamkan kapal induk kelas Nimitz Amerika. Kapal tersebut merupakan "sarang lebah" yang terdiri dari ribuan kompartemen kedap air yang terbuat dari baja berkekuatan tinggi.
Saat ini, SM-6 adalah satu-satunya rudal dalam persenjataan Amerika yang mampu mencegat kendaraan luncur hipersonik pada fase terminalnya. SM-6 menggunakan perangkat lunak canggih untuk menghitung "kehilangan energi" dari kendaraan luncur yang datang, memprediksi jalurnya tepat sebelum benturan.
Namun, fisika dari intersepsi ini mirip dengan "menembak peluru dengan peluru", yang membutuhkan tingkat presisi yang memiliki margin kesalahan tinggi dalam pertempuran dunia nyata.
Agar rudal hipersonik Iran dapat menghantam kapal Abraham Lincoln, senjata itu harus terlebih dahulu menemukannya. Inilah masalah "Kill Chain" atau "Rantai Pembunuhan".
Rudal hipersonik sangat cepat, tetapi satelit dan drone yang digunakan untuk menargetkannya seringkali lambat atau rentan terhadap gangguan.
Jika kapal Abraham Lincoln bergerak dengan kecepatan 30 knot dalam "Ghost Mode", data penargetan yang dikirim ke rudal saat peluncuran akan usang pada saat senjata tiba 10 menit kemudian. Tidak seperti rudal jelajah pintar, kendaraan luncur hipersonik yang bergerak dengan kecepatan Mach 13 memiliki bidang pandang terbatas untuk mencari kapal yang bergerak jika koordinat awal salah.
Misi Menghancurkan Lebih Efektif daripada Menenggelamkan
Faktanya, hampir mustahil bagi satu rudal hipersonik non-nuklir untuk menenggelamkan kapal induk kelas Nimitz Amerika. Kapal tersebut merupakan "sarang lebah" yang terdiri dari ribuan kompartemen kedap air yang terbuat dari baja berkekuatan tinggi.
Lihat Juga :