Terungkap, Jenderal Top China Diselidiki karena Bocorkan Rahasia Senjata Nuklir ke AS

Senin, 26 Januari 2026 - 07:46 WIB
loading...
Terungkap, Jenderal...
Jenderal top China, Zhang Youxia, diselidiki atas tuduhan membocorkan rahasia senjata nuklir negaranya kepada AS. Foto/X @globaltimes
A A A
BEIJING - Jenderal senior dan berpengaruh di China, Zhang Youxia, sedang diselidiki atas tuduhan membocorkan rahasia senjata nuklir negaranya kepada Amerika Serikat (AS). Selain itu, Zhang juga diduga menerima suap untuk tindakan resmi.

The Wall Street Journal (WSJ) mengungkap tuduhan pembocoran rahasia senjata nuklir tersebut dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada hari Minggu (25/1/2026).

"Youxia dituduh membocorkan informasi tentang program senjata nuklir negara tersebut kepada AS," bunyi laporan WSJ.

Baca Juga: China Selidiki 2 Jenderal Top di Tengah Pemberasan Korupsi Besar-besaran

"Jenderal militer itu juga sedang diselidiki karena menerima suap untuk tindakan resmi, termasuk promosi seorang perwira menjadi menteri pertahanan," lanjut laporan media Amerika tersebut.

Mengutip orang-orang yang mengetahui pengarahan tingkat tinggi tentang tuduhan tersebut, WSJ melaporkan bahwa Zhang Youxia sedang diselidiki karena menerima suap untuk memfasilitasi promosi, termasuk menjadikan Li Shangfu, yang dipecat karena korupsi pada tahun 2023, sebagai menteri pertahanan.

Menurut laporan itu, pengarahan tersebut—yang dihadiri pada hari Sabtu oleh beberapa perwira berpangkat tertinggi di militer—terjadi tepat sebelum Kementerian Pertahanan Nasional China mengeluarkan pengumuman mengejutkan tentang penyelidikan terhadap Zhang Youxia, yang pernah dianggap sebagai sekutu militer tepercaya Presiden China Xi Jinping.

Dalam pengumumannya, kementerian itu mengatakan ada dua jenderal yang sedang diselidiki atas dugaan "pelanggaran disiplin serius". Keduanya adalah Zhang Youxia (75), wakil ketua senior Komisi Militer Pusat (CMC), dan Liu Zhenli (61) Kepala Staf Gabungan CMC.

"Setelah peninjauan...telah diputuskan untuk memulai penyelidikan terhadap Zhang Youxia dan Liu Zhenli," kata kementerian tersebut.

"Keduanya diduga melakukan pelanggaran disiplin dan hukum yang serius," lanjut pengumuman itu, tanpe merinci pelanggaran yang dimaksud.

Selain menjadi senior di CMC, Zhang Youxia juga merupakan anggota Politbiro, badan eksekutif Partai Komunis China yang beranggotakan 24 orang. Dia berbagi gelar wakil ketua dengan Zhang Shengmin, seorang jenderal di Pasukan Roket China yang tertutup dan tidak memiliki hubungan keluarga.

Zhang Shengmin dipromosikan ke posisi tersebut pada bulan Oktober setelah Beijing memecat pendahulunya dalam pembersihan korupsi besar-besaran lainnya. Kekuasaan kedua jenderal tersebut berada langsung di bawah Xi Jinping, yang telah memegang jabatan Ketua CMC sejak 2012.

Sedangkan Liu Zhenli merupakan jenderal yang mengawasi perencanaan pertempuran militer China.

Kabar tentang penyelidikan Zhang dan Liu sudah beredar sejak awal pekan lalu setelah keduanya absen dari pertemuan resmi yang dipimpin oleh Xi Jinping dan dihadiri oleh wakil ketua CMC peringkat kedua, Zhang Shengmin.

Xi Jinping menyebut korupsi sebagai "ancaman terbesar" bagi Partai Komunis China dan mengatakan "perjuangan melawan korupsi tetap serius dan kompleks".

Para pendukungnya mengatakan kebijakan tersebut mendorong pemerintahan yang bersih, tetapi yang lain mengatakan itu juga berfungsi sebagai alat bagi Xi Jinping untuk membersihkan saingan politiknya.

Pada Oktober lalu, China mengumumkan telah meluncurkan penyelidikan korupsi terhadap sembilan pejabat militer. Sebagai bagian dari penyelidikan tersebut, Kementerian Pertahanan mengatakan telah memecat dua jenderal tinggi dari militer. Mereka adalah He Weidong, mantan wakil ketua CMC peringkat kedua, dan Miao Hua, mantan kepala departemen kerja politik militer.

Pada tahun 2024, mantan menteri pertahanan China, Li Shangfu, didepak dari Partai Komunis China setelah dipecat karena berbagai pelanggaran, termasuk dugaan penyuapan. Pendahulu Li, Wei Fenghe, juga didepak dari partai dan diserahkan kepada jaksa penuntut umum atas dugaan korupsi.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Media Pemerintah China:...
Media Pemerintah China: Jepang Benar-benar Simulasikan Serangan terhadap Kapal Induk Liaoning
Begini Cara Bos FIFA...
Begini Cara Bos FIFA Gunakan Geopolitik di Panggung Piala Dunia
47 Pejabat Ditangkap...
47 Pejabat Ditangkap karena Korupsi, Termasuk Anggota DPR
Media Pro-IRGC: Iran...
Media Pro-IRGC: Iran Mutlak Harus Memiliki Bom Nuklir
Inggris Sekarang Tanpa...
Inggris Sekarang Tanpa Kapal Selam Serang Nuklir Aktif, Jadi Tak Berdaya Melawan Rusia
Iran: Sifat Dasar AS...
Iran: Sifat Dasar AS Adalah Mengingkari Janji!
Hina Bosnia, Reporter...
Hina Bosnia, Reporter TV AS Akhirnya Minta Maaf
Teken Perjanjian Damai...
Teken Perjanjian Damai dengan AS, Dubes Iran: InsyaAllah Kita Dapat Perdamaian Permanen di Kawasan
Iran Bersumpah Bikin...
Iran Bersumpah Bikin Pangkalan Militer AS di Timur Tengah seperti Neraka
Rekomendasi
Dugaan Aroma Konspirasi...
Dugaan Aroma Konspirasi 'Aib Gijon' di Piala Dunia 2026, Sengaja Singkirkan Iran?
AS-Iran Kembali Saling...
AS-Iran Kembali Saling Balas Serangan, Harga Minyak Langsung Mendidih
Tantri Kotak Siap Tempuh...
Tantri Kotak Siap Tempuh Jalur Hukum Usai Ditipu Miliaran Rupiah
Berita Terkini
Media Pemerintah China:...
Media Pemerintah China: Jepang Benar-benar Simulasikan Serangan terhadap Kapal Induk Liaoning
Langka, Putin Akui Rusia...
Langka, Putin Akui Rusia Krisis Bahan Bakar akibat Serangan Ukraina
Begini Cara Bos FIFA...
Begini Cara Bos FIFA Gunakan Geopolitik di Panggung Piala Dunia
47 Pejabat Ditangkap...
47 Pejabat Ditangkap karena Korupsi, Termasuk Anggota DPR
Putin: Barat Coba Kacaukan...
Putin: Barat Coba Kacaukan Rusia karena Tak Mampu Mengalahkannya di Medan Perang
Media Pro-IRGC: Iran...
Media Pro-IRGC: Iran Mutlak Harus Memiliki Bom Nuklir
Infografis
Balas Dendam ke AS,...
Balas Dendam ke AS, China Naikkan Tarif Impor Jadi 125%
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved