Tak Hanya Greenland, Trump Juga Usik Kanada
Senin, 19 Januari 2026 - 12:38 WIB
loading...
Presiden AS Donald Trump mengusik ketidakmampuan Kanada dalam melindungi wilayah utaranya. Foto/White House
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah berupaya merebut Greenland, pulau otonom di Kerajaan Denmark, dengan dalih keamanan nasional. Dia sekarang juga mengusik apa yang dia gambarkan sebagai "ketidakmampuan" Kanada untuk melindungi wilayah utaranya dari musuh potensial.
Beberapa pejabat AS, yang dikutip NBC News, mengatakan Trump semakin sering mempertanyakan kemampuan Kanada dalam melindungi wilayah yang berbatasan dengan Amerika.
Baca Juga: Invasi AS ke Greenland Berarti Amerika Perang Melawan NATO!
Menurut para pejabat tersebut, dalam diskusi pribadi dengan para ajudannya, Trump menganggap Kanada rentan terhadap dugaan pelanggaran dari Rusia atau China. Karena alasan itulah, pemimpin AS itu menilai Ottawa perlu menghabiskan lebih banyak anggaran untuk pertahanan.
Pada Januari 2025 atau awal-awal masa jabatan keduanya, Trump pernah menyerukan agar Kanada menjadi negara bagian ke-51 AS. Namun, Perdana Menteri (PM) Kanada saat itu, Justin Trudeau, menolak mentah-mentah seruan tersebut.
Rusia dan China telah menolak narasi Trump. China sebelumnya mengecam presiden AS karena menggunakan Greenland sebagai dalih untuk ambisi Arktik-nya, sementara Rusia secara konsisten menentang militerisasi kawasan tersebut, dengan menggambarkannya sebagai zona untuk kerja sama damai.
“Trump sangat khawatir tentang AS yang terus terombang-ambing di Belahan Bumi Barat dan fokus pada hal ini,” kata seorang pejabat AS kepada NBC News, Senin (19/1/2026).
Pejabat senior pemerintahan Trump lainnya menyatakan tujuannya adalah "memperkuat" kawasan tersebut di bawah kepemimpinan AS, dengan mengamankan perbatasan utara Kanada sebagai bagian kunci dari visi itu.
Namun, para pejabat itu menegaskan bahwa tidak seperti ambisi Trump untuk memiliki Greenland, tidak ada diskusi tentang pembelian Kanada atau penempatan pasukan AS di sepanjang perbatasan utaranya. Fokusnya justru pada menekan Kanada untuk meningkatkan kemampuannya sendiri dan memperdalam kerja sama militer bilateral, termasuk peningkatan pelatihan bersama, peningkatan patroli, dan pembaruan sistem peringatan dini di Kanada.
“Mereka jelas perlu meningkatkan kemampuan mereka dalam hal kemampuan Arktik,” kata seorang pejabat AS. “Status quo tidak cukup," ujarnya.
Peringatan dari pejabat AS telah memicu kekhawatiran yang ada di Kanada bahwa negara itu dapat menjadi target Washington berikutnya setelah penculikan mengejutkan terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan pembicaraan Presiden Trump tentang merebut Greenland, menurut laporan Bloomberg.
Dalam kunjungan baru-baru ini ke Beijing, Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyatakan bahwa berurusan dengan China telah menjadi “lebih mudah diprediksi” daripada hubungan yang kompleks dengan Washington.
Carney juga secara terbuka menggemakan sekutu Eropa, menyatakan bahwa masa depan Greenland adalah urusan Greenland dan Denmark saja dan menyatakan “keprihatinan” atas ancaman tarif Trump terhadap negara-negara NATO Eropa yang menentang upaya AS menguasai Greenland.
Beberapa pejabat AS, yang dikutip NBC News, mengatakan Trump semakin sering mempertanyakan kemampuan Kanada dalam melindungi wilayah yang berbatasan dengan Amerika.
Baca Juga: Invasi AS ke Greenland Berarti Amerika Perang Melawan NATO!
Menurut para pejabat tersebut, dalam diskusi pribadi dengan para ajudannya, Trump menganggap Kanada rentan terhadap dugaan pelanggaran dari Rusia atau China. Karena alasan itulah, pemimpin AS itu menilai Ottawa perlu menghabiskan lebih banyak anggaran untuk pertahanan.
Pada Januari 2025 atau awal-awal masa jabatan keduanya, Trump pernah menyerukan agar Kanada menjadi negara bagian ke-51 AS. Namun, Perdana Menteri (PM) Kanada saat itu, Justin Trudeau, menolak mentah-mentah seruan tersebut.
Rusia dan China telah menolak narasi Trump. China sebelumnya mengecam presiden AS karena menggunakan Greenland sebagai dalih untuk ambisi Arktik-nya, sementara Rusia secara konsisten menentang militerisasi kawasan tersebut, dengan menggambarkannya sebagai zona untuk kerja sama damai.
“Trump sangat khawatir tentang AS yang terus terombang-ambing di Belahan Bumi Barat dan fokus pada hal ini,” kata seorang pejabat AS kepada NBC News, Senin (19/1/2026).
Pejabat senior pemerintahan Trump lainnya menyatakan tujuannya adalah "memperkuat" kawasan tersebut di bawah kepemimpinan AS, dengan mengamankan perbatasan utara Kanada sebagai bagian kunci dari visi itu.
Namun, para pejabat itu menegaskan bahwa tidak seperti ambisi Trump untuk memiliki Greenland, tidak ada diskusi tentang pembelian Kanada atau penempatan pasukan AS di sepanjang perbatasan utaranya. Fokusnya justru pada menekan Kanada untuk meningkatkan kemampuannya sendiri dan memperdalam kerja sama militer bilateral, termasuk peningkatan pelatihan bersama, peningkatan patroli, dan pembaruan sistem peringatan dini di Kanada.
“Mereka jelas perlu meningkatkan kemampuan mereka dalam hal kemampuan Arktik,” kata seorang pejabat AS. “Status quo tidak cukup," ujarnya.
Peringatan dari pejabat AS telah memicu kekhawatiran yang ada di Kanada bahwa negara itu dapat menjadi target Washington berikutnya setelah penculikan mengejutkan terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan pembicaraan Presiden Trump tentang merebut Greenland, menurut laporan Bloomberg.
Dalam kunjungan baru-baru ini ke Beijing, Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyatakan bahwa berurusan dengan China telah menjadi “lebih mudah diprediksi” daripada hubungan yang kompleks dengan Washington.
Carney juga secara terbuka menggemakan sekutu Eropa, menyatakan bahwa masa depan Greenland adalah urusan Greenland dan Denmark saja dan menyatakan “keprihatinan” atas ancaman tarif Trump terhadap negara-negara NATO Eropa yang menentang upaya AS menguasai Greenland.
(mas)
Lihat Juga :