Protes Pedesaan China Melonjak Tajam di Tengah Tekanan Ekonomi

Sabtu, 17 Januari 2026 - 11:01 WIB
loading...
A A A
Berbeda dengan kawasan perkotaan yang memiliki basis industri dan lapangan kerja lebih beragam, wilayah pedesaan umumnya bergantung pada sektor pertanian atau pekerjaan informal. Ketergantungan ini membuat masyarakat desa jauh lebih rentan ketika kondisi makroekonomi memburuk.

Tanpa penciptaan lapangan kerja yang memadai, para pekerja yang kembali ke desa sering kali mendapati diri mereka tanpa lahan, tanpa hasil panen, dan tanpa pendapatan yang stabil—faktor-faktor yang berulang kali muncul sebagai pemicu aksi protes.

Selain tekanan ekonomi, sengketa lahan dan benturan antara kebijakan pemerintah daerah dengan tradisi lokal menjadi pemicu utama protes pedesaan sepanjang 2025. Di Lingao County dan Fuchuan County, pembongkaran kuil yang dibangun secara swasta serta balai leluhur klan memicu bentrokan keras antara warga dan aparat.

Bagi warga setempat, bangunan-bangunan tersebut dipandang sebagai pusat identitas budaya dan warisan komunitas. Pembongkaran tersebut kemudian berkembang menjadi titik nyala ketidakpuasan yang lebih luas terhadap tata kelola pemerintahan daerah dan pengelolaan lahan.

Benturan dengan Norma Lokal


Situasi serupa terjadi di Xifeng County, ketika kebijakan lokal yang mewajibkan kremasi jenazah memicu penolakan keras karena bertentangan dengan tradisi pemakaman yang telah berlangsung lama. Upaya pemerintah menegakkan kebijakan tersebut dipersepsikan sebagai serangan terhadap nilai budaya lokal, sehingga memicu perlawanan yang meluas dan berujung pada aksi protes kolektif.

Berbagai insiden ini mencerminkan pola berulang dalam protes pedesaan di China, di mana kebijakan negara, yang sering dibingkai sebagai langkah modernisasi atau penataan administratif, berbenturan langsung dengan norma lokal, ekspektasi kepemilikan, dan hak-hak historis masyarakat desa. Ketika identitas komunitas dirasakan terancam, perlawanan cenderung muncul dan berlanjut.

Para ekonom dan sosiolog menilai bahwa gejolak di pedesaan China juga berkaitan erat dengan persoalan struktural yang telah lama ada, seperti pengambilalihan lahan dan ketimpangan ekonomi antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Protes-protes pada 2025, meski mendapat sorotan luas, pada dasarnya mengulang pola ketidakpuasan sebelumnya yang berkaitan dengan akuisisi lahan, relokasi paksa, dan persepsi korupsi di tingkat lokal.

Data CDM pada tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa sengketa lahan dan relokasi paksa telah lama menjadi pemicu utama protes pedesaan, bahkan sebelum perlambatan ekonomi semakin dalam. Kembalinya pekerja migran ke desa, yang dihadapkan pada prospek pendapatan yang menurun dan dalam sejumlah kasus kehilangan hak atas tanah, semakin memperumit ketegangan sosial tersebut.

Di banyak wilayah pedesaan, lahan pertanian dan tanah komunitas yang sebelumnya dipandang sebagai jaring pengaman bagi tenaga kerja yang kembali, kini telah dialihfungsikan untuk pengembangan industri atau komersial. Akibatnya, para penduduk yang kembali ke desa mendapati diri mereka terjebak dalam ketidakpastian ekonomi dan kekecewaan sosial.

Di luar sengketa lahan dan budaya, protes pedesaan pada 2025 juga mencerminkan ketidakpuasan yang lebih luas terhadap praktik tata kelola pemerintahan daerah. Keragaman pemicu aksi, mulai dari isu ketenagakerjaan, perumahan, hingga pendidikan, menunjukkan meluasnya jangkauan ketidakpuasan ke berbagai sektor masyarakat China.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
Ini Alasan Trump Puji...
Ini Alasan Trump Puji Putin dan Xi Jinping atas Kesepakatan Damai AS-Iran
China Tangkap 2 Pemimpin...
China Tangkap 2 Pemimpin Gereja Bawah Tanah yang Berpengaruh, Apa Pemicunya?
Kunjungi Pyongyang,...
Kunjungi Pyongyang, Xi Jinping Diduga Berusaha Redam Pengaruh Rusia atas Korut
Tiru Israel, Taiwan...
Tiru Israel, Taiwan Gunakan AI untuk Rekrut Informan dan Whistleblower China
Beijing: Asing Mata-matai...
Beijing: Asing Mata-matai China, Gunakan Kura-kura dan Ikan yang Dipasang Sensor
Petani dan Pelaku UMKM...
Petani dan Pelaku UMKM Sumut, Riau, hingga Aceh Kirim Hasil Kerajinan Lidi ke China
AS: Selat Hormuz Terbuka...
AS: Selat Hormuz Terbuka untuk Dilalui Semua Kapal Tanpa Biaya Tol
Trump: Kemampuan Militer...
Trump: Kemampuan Militer Iran Jauh Melemah
Rekomendasi
Kedipan Mata Komandan...
Kedipan Mata Komandan Brimob Bikin Tawanan Tewas Ditembak dari Jarak 5 Meter
Jelang Kontra Inggris,...
Jelang Kontra Inggris, Harry Kane Masuk Daftar Sihir Dukun Ghana
Venue Pernikahan Seribu...
Venue Pernikahan Seribu Tamu Hadir Dekat Bandara Soekarno-Hatta
Berita Terkini
Zelensky Ancam Serang...
Zelensky Ancam Serang Belarusia, Perang Rusia-Ukraina Bisa Meluas
Menkeu AS Sebut Zelensky...
Menkeu AS Sebut Zelensky Bajingan Kecil Bertingkah seperti Mr Bean yang Sakau
Krisis Politik Inggris...
Krisis Politik Inggris Makin Parah, PM Keir Starmer Bersiap Mengundurkan Diri
Iran Tutup Lagi Selat...
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, Militer AS Waspada
Iran Tutup Lagi Selat...
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz karena Israel Serang Lebanon
Putin Terus Tebar Ancaman,...
Putin Terus Tebar Ancaman, 4 Negara ini Memiliki Bunker Nuklir Teraman di Eropa
Infografis
Ahmad Vahidi, Panglima...
Ahmad Vahidi, Panglima Baru IRGC di Tengah Perang Lawan AS-Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved