Bukan Sekali Dua Kali, Ini Deretan Demonstrasi Anti-Khamenei yang Pernah Mengguncang Iran
Selasa, 13 Januari 2026 - 09:44 WIB
loading...
Demo besar pecah di Azna, Iran barat pada 1 Januari 2026. Rezim Iran di bawah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei telah berkali-kali diguncang demo dalam dua dekade terakhir. Foto/via Iran International
A
A
A
TEHERAN - Gelombang demonstrasi rakyat Iran yang menentang Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei telah berulang kali terjadi dalam lebih dari dua dekade terakhir.
Aksi protes tersebut dipicu beragam faktor, mulai dari represi politik, krisis ekonomi, hingga tuntutan kebebasan sipil. Meski rezim Iran masih bertahan, sejarah mencatat bahwa legitimasi Khamenei terus mendapat tantangan serius dari rakyatnya sendiri.
Baca Juga: Iran Nyatakan Siap Perang, Tak Gentar dengan Ancaman AS
Berikut rangkuman demonstrasi anti-Khamenei paling menonjol yang pernah mengguncang Iran.
Meski belum secara terbuka menyerang Khamenei, protes ini dianggap sebagai awal perlawanan terhadap sistem kekuasaan teokratis yang berada di bawah kendali sang Pemimpin Tertinggi.
Aparat keamanan dan milisi Basij menindak keras aksi tersebut, dengan ratusan mahasiswa ditangkap dan puluhan luka-luka. Uni Eropa kala itu mengecam keras tindakan represif pemerintah Iran.
Ayatollah Khamenei secara terbuka mendukung hasil pemilu tersebut, membuat kemarahan massa beralih langsung ke Pemimpin Tertinggi.
Protes ini berakhir dengan penindakan keras, puluhan orang tewas, ribuan ditahan, dan tokoh oposisi dikenai tahanan rumah. Amerika Serikat dan Uni Eropa kemudian menjatuhkan sanksi tambahan terhadap Iran.
Fakta bahwa protes muncul dari wilayah yang sebelumnya dianggap loyal terhadap rezim mengejutkan pemerintah. Aparat keamanan kembali dikerahkan, menewaskan puluhan demonstran dan menahan ribuan lainnya.
Slogan anti-Khamenei terdengar luas, sementara pemerintah merespons dengan pemadaman internet nasional dan pengerahan kekuatan bersenjata.
Organisasi hak asasi manusia (HAM) internasional memperkirakan antara 300 hingga lebih dari 1.000 orang tewas. PBB dan Amnesty International menyebut penindakan ini sebagai pelanggaran HAM berat.
Poster serta patung Pemimpin Tertinggi dibakar di berbagai kota. Ratusan orang tewas dan puluhan ribu ditangkap. Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Kanada menjatuhkan sanksi baru terhadap pejabat Iran.
Protes yang awalnya bersifat ekonomi berkembang menjadi politik, dengan slogan anti-Khamenei kembali menggema.
Pemerintah kembali memutus internet dan mengerahkan Korps Garda Revolusi Islam Iran. Puluhan hingga ratusan korban jiwa dilaporkan para aktivis, sementara PBB menyerukan penyelidikan independen.
Aksi protes tersebut dipicu beragam faktor, mulai dari represi politik, krisis ekonomi, hingga tuntutan kebebasan sipil. Meski rezim Iran masih bertahan, sejarah mencatat bahwa legitimasi Khamenei terus mendapat tantangan serius dari rakyatnya sendiri.
Baca Juga: Iran Nyatakan Siap Perang, Tak Gentar dengan Ancaman AS
Demo Anti-Khamenei dari Masa ke Masa
Berikut rangkuman demonstrasi anti-Khamenei paling menonjol yang pernah mengguncang Iran.
1. Protes Mahasiswa 1999
Demonstrasi besar pertama terjadi pada Juli 1999, dipicu penutupan surat kabar reformis Salam. Ribuan mahasiswa turun ke jalan di Teheran dan sejumlah kota besar.Meski belum secara terbuka menyerang Khamenei, protes ini dianggap sebagai awal perlawanan terhadap sistem kekuasaan teokratis yang berada di bawah kendali sang Pemimpin Tertinggi.
Aparat keamanan dan milisi Basij menindak keras aksi tersebut, dengan ratusan mahasiswa ditangkap dan puluhan luka-luka. Uni Eropa kala itu mengecam keras tindakan represif pemerintah Iran.
2. Green Movement 2009
Gerakan Hijau atau Green Movement menjadi tantangan terbesar bagi Khamenei sejak dia berkuasa pada 1989. Jutaan warga Iran turun ke jalan menolak hasil pemilu presiden yang dimenangkan Mahmoud Ahmadinejad.Ayatollah Khamenei secara terbuka mendukung hasil pemilu tersebut, membuat kemarahan massa beralih langsung ke Pemimpin Tertinggi.
Protes ini berakhir dengan penindakan keras, puluhan orang tewas, ribuan ditahan, dan tokoh oposisi dikenai tahanan rumah. Amerika Serikat dan Uni Eropa kemudian menjatuhkan sanksi tambahan terhadap Iran.
3. Demonstrasi Ekonomi 2017–2018
Krisis ekonomi, pengangguran, dan melonjaknya harga kebutuhan pokok memicu demonstrasi di puluhan kota kecil dan menengah. Berbeda dari aksi sebelumnya, demonstrasi ini secara terang-terangan meneriakkan slogan “Matilah diktator”, yang secara luas dimaknai sebagai serangan langsung terhadap Khamenei.Fakta bahwa protes muncul dari wilayah yang sebelumnya dianggap loyal terhadap rezim mengejutkan pemerintah. Aparat keamanan kembali dikerahkan, menewaskan puluhan demonstran dan menahan ribuan lainnya.
4. Protes Bahan Bakar 2019
Pada November 2019, kenaikan harga bahan bakar secara mendadak memicu salah satu demonstrasi paling berdarah dalam sejarah Iran modern. Aksi berlangsung serentak di lebih dari 100 kota.Slogan anti-Khamenei terdengar luas, sementara pemerintah merespons dengan pemadaman internet nasional dan pengerahan kekuatan bersenjata.
Organisasi hak asasi manusia (HAM) internasional memperkirakan antara 300 hingga lebih dari 1.000 orang tewas. PBB dan Amnesty International menyebut penindakan ini sebagai pelanggaran HAM berat.
5. Protes Mahsa Amini 2022–2023
Kematian Mahsa Amini setelah ditahan polisi moral memicu gelombang protes nasional dengan slogan “Woman, Life, Freedom”. Untuk pertama kalinya, seruan anti-Khamenei disampaikan secara terbuka dan masif.Poster serta patung Pemimpin Tertinggi dibakar di berbagai kota. Ratusan orang tewas dan puluhan ribu ditangkap. Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Kanada menjatuhkan sanksi baru terhadap pejabat Iran.
6. Demonstrasi Akhir 2025–Awal 2026
Gelombang terbaru dipicu krisis ekonomi akut, anjloknya nilai rial, dan kemarahan pedagang bazar.Protes yang awalnya bersifat ekonomi berkembang menjadi politik, dengan slogan anti-Khamenei kembali menggema.
Pemerintah kembali memutus internet dan mengerahkan Korps Garda Revolusi Islam Iran. Puluhan hingga ratusan korban jiwa dilaporkan para aktivis, sementara PBB menyerukan penyelidikan independen.
(mas)
Lihat Juga :