AS Ingin Caplok Greenland, Apa yang Terjadi Jika Sesama Anggota NATO Saling Berperang?
Minggu, 11 Januari 2026 - 10:03 WIB
loading...
A
A
A
2. Permusuhan Yunani dan Turki pada 1974 atas Siprus
Invasi Turki ke Siprus pada tahun 1974 adalah momen terdekat NATO dengan keterlibatan perang skala penuh. Setelah kudeta yang disponsori Yunani di Siprus, Turki melancarkan intervensi militer yang hampir memicu konflik langsung antara kedua anggota NATO tersebut.Sebagai bentuk protes atas kegagalan NATO dalam menahan Turki, Yunani menarik diri dari struktur militer aliansi tersebut dari tahun 1974 hingga 1980.
Selama Perang Dingin, kedua anggota sangat penting bagi front kolektif NATO melawan Uni Soviet. Meskipun terjadi beberapa aksi militer antara Yunani dan Turki, aliansi tersebut mampu mencegah perang langsung.
3. Permusuhan Kanada dan Spanyol pada 1995 soal Sengketa Perikanan
Pada tahun 1995, Kanada dan Spanyol hampir terlibat konflik Angkatan Laut selama "Perang Turbot". Kanada telah memberlakukan pembatasan untuk melindungi stok ikan, termasuk spesies ikan bernama turbot, yang menyebabkan tuduhan bahwa kapal-kapal Uni Eropa melakukan penangkapan ikan berlebihan tepat di luar zona ekonomi eksklusif Kanada.Ketegangan meningkat ketika kapal-kapal Penjaga Pantai Kanada melepaskan tembakan peringatan ke arah kapal pukat Spanyol dan menangkap awaknya. Eropa mengancam sanksi, tetapi Inggris memvetonya, berpihak pada Kanada bersama Irlandia. Sebagai tanggapan, Spanyol mengerahkan patroli Angkatan Laut, dan Kanada mengizinkan Angkatan Laut-nya untuk menembak kapal-kapal yang melanggar batas, membawa anggota NATO semakin dekat dengan konflik.
Krisis berakhir setelah mediasi Uni Eropa, yang menghasilkan penarikan tindakan penegakan hukum oleh Kanada dan pembentukan kerangka peraturan bersama.
4. Konflik AS dengan Inggris dan Prancis 1956 Terkait Krisis Suez
Selama Krisis Suez 1956, Prancis dan Inggris membentuk aliansi rahasia dengan Israel untuk menyerang Mesir setelah Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser menasionalisasi Terusan Suez.Operasi ini menyebabkan krisis serius di dalam NATO, karena Amerika Serikat, yang khawatir akan intervensi Soviet dan keterasingan dunia Arab, sangat menentang aksi militer tersebut. Meskipun tidak ada kesepakatan, Prancis dan Inggris tetap melanjutkan operasi.
Konflik tersebut akhirnya diselesaikan oleh misi perdamaian bersenjata pertama PBB, Pasukan Darurat Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEF), yang menetapkan cetak biru untuk operasi perdamaian PBB di masa mendatang.
5. Perseteruan AS dan Sekutu Eropa 1960-an hingga 1970-an atas Perang Vietnam
Perang Vietnam menyaksikan perbedaan pendapat yang signifikan antara anggota NATO mengenai intervensi militer AS, di mana Washington memandang Vietnam sebagai front kunci dalam Perang Dingin, tetapi sekutu utama Eropa, seperti Prancis dan Inggris, menentang keterlibatan militer langsung.Prancis secara terbuka mengutuk perang tersebut dan akhirnya meninggalkan komando militer NATO pada tahun 1966 untuk menghindari terseret ke dalam konflik AS di masa depan. Prancis akhirnya bergabung kembali dengan struktur militer 43 tahun kemudian pada tahun 2009.
Inggris menentang pengiriman pasukan Inggris meskipun ada tekanan dari AS, karena perang tersebut sangat tidak populer di kalangan masyarakat Inggris. Namun, Inggris memberikan dukungan logistik dan intelijen untuk AS. Menariknya, mengingat aliansi eratnya dengan Inggris, dan meskipun bukan anggota NATO, Australia mengirimkan pasukan ke perang tersebut.
Perbedaan-perbedaan ini menyebabkan ketegangan di antara para pemain terbesar di NATO dan mengakibatkan Perang Vietnam tidak berada di bawah komando NATO. Hal ini juga mengakibatkan markas NATO dipindahkan dari Prancis ke Belgia, tempat markas tersebut berada hingga saat ini.
Lihat Juga :