Sejarah Ketertarikan Amerika Serikat terhadap Greenland, dari Abad ke-19 hingga Era Trump

Jum'at, 09 Januari 2026 - 15:43 WIB
loading...
A A A
Sejak saat itu, kehadiran militer AS di Greenland menjadi fakta geopolitik yang sulit dipisahkan dari sejarah pulau tersebut. Perang Dunia II mengubah Greenland dari wilayah pinggiran menjadi aset strategis utama.

3. Tawaran Pembelian Greenland Tahun 1946


Setelah Perang Dunia II berakhir, Amerika Serikat muncul sebagai kekuatan global utama. Dalam konteks awal Perang Dingin, Washington semakin serius memikirkan kontrol jangka panjang atas wilayah-wilayah strategis, termasuk Greenland.

Pada tahun 1946, Presiden AS Harry S. Truman secara resmi mengajukan tawaran untuk membeli Greenland dari Denmark dengan nilai sekitar 100 juta dolar AS dalam bentuk emas.

Tawaran ini mencerminkan keyakinan Amerika bahwa Greenland memiliki nilai strategis permanen, terutama dalam menghadapi ancaman Uni Soviet.

Denmark menolak tawaran tersebut, dengan menegaskan Greenland adalah bagian tak terpisahkan dari wilayah Kerajaan Denmark. Namun penolakan ini tidak berarti berakhirnya pengaruh Amerika. Sebaliknya, Denmark membuka ruang kerja sama pertahanan yang luas dengan AS.

Penolakan ini menjadi titik balik penting: meskipun gagal memiliki Greenland secara formal, Amerika Serikat berhasil mengamankan kepentingan militernya tanpa harus memegang kedaulatan politik.

4. Era Perang Dingin dan Pangkalan Udara Thule


Selama Perang Dingin, posisi Greenland semakin krusial dalam strategi pertahanan Amerika Serikat. Letaknya yang berada di jalur terpendek antara Amerika Utara dan Uni Soviet menjadikan pulau ini ideal untuk sistem peringatan dini serangan nuklir.

Amerika membangun Pangkalan Udara Thule pada awal 1950-an, yang kini dikenal sebagai Pituffik Space Base.

Pangkalan ini berfungsi sebagai: Sistem radar peringatan dini rudal balistik; Pusat pengawasan aktivitas udara dan ruang angkasa; Bagian dari jaringan pertahanan nuklir Amerika.

Keberadaan pangkalan ini memperkuat posisi Greenland sebagai elemen vital dalam arsitektur keamanan global AS. Bahkan, dalam beberapa skenario perang nuklir, Greenland dianggap sebagai garis pertahanan pertama Amerika.

Namun, kehadiran militer AS juga memunculkan dampak sosial dan politik bagi penduduk lokal Inuit, termasuk relokasi paksa dan perubahan sosial budaya. Isu-isu ini kemudian menjadi bagian dari perdebatan mengenai kedaulatan dan hak masyarakat adat di Greenland.

5. Otonomi Greenland dan Dinamika Baru


Pada paruh kedua abad ke-20, Greenland mulai memperoleh otonomi yang lebih luas dari Denmark. Pada 1979, Greenland mendapatkan pemerintahan sendiri (home rule), yang kemudian diperluas menjadi self-rule pada 2009.

Otonomi ini memberi Greenland kendali lebih besar atas sumber daya alamnya, meski kebijakan luar negeri dan pertahanan tetap berada di tangan Denmark. Bagi Amerika Serikat, perubahan ini menghadirkan dinamika baru: Greenland tidak lagi sekadar koloni Denmark, tetapi entitas politik dengan suara sendiri.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Jika AS Lanjutkan Perang,...
Jika AS Lanjutkan Perang, Trump: Iran Tidak Akan Ada Lagi
Iran Tuduh AS Khianati...
Iran Tuduh AS Khianati Perjanjian Damai saat Kedua Pihak Saling Serang
AS Serang 10 Target...
AS Serang 10 Target di Iran, IRGC Balas Bombardir Pangkalan Amerika di Kuwait dan Bahrain
Update Gempa Kembar...
Update Gempa Kembar Guncang Venezuela: 1.430 Orang Tewas, 3.200 Luka, 50.000 Hilang
Benarkah Mossad Hendak...
Benarkah Mossad Hendak Habisi Bos Militer Pakistan Selama Perundingan AS-Iran di Swiss?
AS Serang Iran 2 Hari...
AS Serang Iran 2 Hari Beruntun, Trump Umbar Ancaman Mengerikan
Timnas Iran Pulang Tanpa...
Timnas Iran Pulang Tanpa Kekalahan
Gempa Dahsyat Venezuela:...
Gempa Dahsyat Venezuela: 920 Orang Tewas, Hampir 50 Ribu Masih Hilang
AS-Iran Saling Serang,...
AS-Iran Saling Serang, Trump Ancam Lenyapkan Iran
Rekomendasi
Mahasiswa Gelar Solidarity...
Mahasiswa Gelar Solidarity Campaign di Area CFD Sudirman-MH Thamrin, Buka Percakapan dengan Rakyat
Sensasi Merayakan Cinta...
Sensasi Merayakan Cinta di Kapel Tebing Bali 70 Meter di Atas Samudera Hindia
INDEF: Pemerintah Perlu...
INDEF: Pemerintah Perlu Evaluasi Kebijakan Ekonomi dan Perkuat Kolaborasi
Berita Terkini
Helikopter Saudi Aramco...
Helikopter Saudi Aramco Jatuh, 14 Orang Tewas
Ingin Kendalikan Selat...
Ingin Kendalikan Selat Hormuz, Iran Serukan Kerangka Keamanan dengan Negara Arab
Gelombang Panas Terjang...
Gelombang Panas Terjang Prancis, Rumah Duka Kewalahan
Jika AS Lanjutkan Perang,...
Jika AS Lanjutkan Perang, Trump: Iran Tidak Akan Ada Lagi
7 Pekerjaan Pertama...
7 Pekerjaan Pertama Para Pemimpin Dunia yang Tak Banyak Diketahui, Ada yang Jual Teh hingga Jadi Tukang Kayu
8 Pangkalan Militer...
8 Pangkalan Militer AS Diserang Iran, IRGC: Selat Hormuz Milik Kita
Infografis
Robert Prevost, Paus...
Robert Prevost, Paus Pertama dari Amerika Serikat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved