Sejarah Ketertarikan Amerika Serikat terhadap Greenland, dari Abad ke-19 hingga Era Trump
Jum'at, 09 Januari 2026 - 15:43 WIB
loading...
A
A
A
Hal ini berarti hubungan AS dengan Greenland tidak hanya bersifat militer, tetapi juga diplomatik dan ekonomi.
Setelah Perang Dingin berakhir, perhatian Amerika terhadap Greenland sempat meredup. Ancaman nuklir global menurun, dan fokus geopolitik AS bergeser ke Timur Tengah dan Asia.
Namun memasuki abad ke-21, beberapa faktor kembali mengangkat posisi Greenland: Perubahan iklim yang mencairkan es Arktik, membuka jalur pelayaran baru. Potensi sumber daya alam, termasuk mineral langka, uranium, dan minyak. Meningkatnya aktivitas China dan Rusia di kawasan Arktik.
Amerika Serikat mulai melihat Greenland sebagai medan persaingan strategis baru dalam perebutan pengaruh global. China, misalnya, menunjukkan minat besar terhadap proyek infrastruktur dan pertambangan di Greenland, yang memicu kekhawatiran Washington.
Ketertarikan Amerika Serikat terhadap Greenland mencapai puncak perhatian publik pada 2019, ketika Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan minatnya untuk membeli Greenland. Pernyataan ini mengejutkan dunia dan memicu reaksi keras dari Denmark dan pemerintah Greenland.
Perdana Menteri Denmark saat itu menyebut gagasan tersebut sebagai “absurd,” sementara pejabat Greenland menegaskan pulau mereka tidak untuk dijual. Akibat kontroversi ini, Trump bahkan sempat membatalkan kunjungan resmi ke Denmark.
Meski terlihat kontroversial dan tidak lazim, pernyataan Trump sejatinya mencerminkan kesinambungan sejarah panjang kebijakan Amerika terhadap Greenland. Ide membeli Greenland bukanlah hal baru, melainkan pengulangan gagasan lama dalam konteks geopolitik modern.
Dari abad ke-19 hingga era Donald Trump, ketertarikan Amerika Serikat terhadap Greenland menunjukkan satu benang merah: pulau ini selalu dipandang sebagai aset strategis jangka panjang.
Baik melalui ekspansi wilayah, kerja sama militer, maupun diplomasi modern, Amerika terus berusaha memastikan Greenland tidak jatuh ke tangan kekuatan rival.
Di tengah perubahan iklim dan persaingan global yang semakin tajam, peran Greenland dalam geopolitik dunia kemungkinan akan semakin besar.
Sejarah membuktikan meski Greenland tidak pernah secara resmi menjadi bagian dari Amerika Serikat, bayang-bayang kepentingan Washington akan selalu hadir di atas lapisan es Arktik.
Baca juga: Fatah Murka UNRWA Pecat 575 Karyawan di Gaza
6. Pasca Perang Dingin dan Kembalinya Minat AS
Setelah Perang Dingin berakhir, perhatian Amerika terhadap Greenland sempat meredup. Ancaman nuklir global menurun, dan fokus geopolitik AS bergeser ke Timur Tengah dan Asia.
Namun memasuki abad ke-21, beberapa faktor kembali mengangkat posisi Greenland: Perubahan iklim yang mencairkan es Arktik, membuka jalur pelayaran baru. Potensi sumber daya alam, termasuk mineral langka, uranium, dan minyak. Meningkatnya aktivitas China dan Rusia di kawasan Arktik.
Amerika Serikat mulai melihat Greenland sebagai medan persaingan strategis baru dalam perebutan pengaruh global. China, misalnya, menunjukkan minat besar terhadap proyek infrastruktur dan pertambangan di Greenland, yang memicu kekhawatiran Washington.
7. Kontroversi di Era Donald Trump
Ketertarikan Amerika Serikat terhadap Greenland mencapai puncak perhatian publik pada 2019, ketika Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan minatnya untuk membeli Greenland. Pernyataan ini mengejutkan dunia dan memicu reaksi keras dari Denmark dan pemerintah Greenland.
Perdana Menteri Denmark saat itu menyebut gagasan tersebut sebagai “absurd,” sementara pejabat Greenland menegaskan pulau mereka tidak untuk dijual. Akibat kontroversi ini, Trump bahkan sempat membatalkan kunjungan resmi ke Denmark.
Meski terlihat kontroversial dan tidak lazim, pernyataan Trump sejatinya mencerminkan kesinambungan sejarah panjang kebijakan Amerika terhadap Greenland. Ide membeli Greenland bukanlah hal baru, melainkan pengulangan gagasan lama dalam konteks geopolitik modern.
8. Greenland dalam Strategi Global Amerika
Dari abad ke-19 hingga era Donald Trump, ketertarikan Amerika Serikat terhadap Greenland menunjukkan satu benang merah: pulau ini selalu dipandang sebagai aset strategis jangka panjang.
Baik melalui ekspansi wilayah, kerja sama militer, maupun diplomasi modern, Amerika terus berusaha memastikan Greenland tidak jatuh ke tangan kekuatan rival.
Di tengah perubahan iklim dan persaingan global yang semakin tajam, peran Greenland dalam geopolitik dunia kemungkinan akan semakin besar.
Sejarah membuktikan meski Greenland tidak pernah secara resmi menjadi bagian dari Amerika Serikat, bayang-bayang kepentingan Washington akan selalu hadir di atas lapisan es Arktik.
Baca juga: Fatah Murka UNRWA Pecat 575 Karyawan di Gaza
(sya)
Lihat Juga :