Rezim Maduro di Venezuela Tamat, Jatuh Sudah Minyak Terbesar di Dunia ke Tangan AS
Minggu, 04 Januari 2026 - 08:23 WIB
loading...
Rezim Presiden Venezuela Nicolas Maduro sudah tamat setelah sang presiden ditangkap pasukan khusus AS. Perusahaan Washington kini akan mengelola cadangan minyak terbesar di dunia yang dimiliki Venezuela. Foto/White House/Truth Social @realDonaldTrump
A
A
A
WASHINGTON - Dunia internasional telah dikejutkan oleh agresi militer singkat Amerika Serikat (AS) terhadap Venezula pada Sabtu dini hari waktu setempat. Agresi ini berujung pada penculikan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, oleh pasukan khusus Amerika; Delta Force.
Jauh hari sebelum ditangkap pasukan khusus AS, lebih tepatnya awal Desember 2025, Presiden Maduro mengungkap bahwa AS ingin menginvasi Venezuela dengan tujuan untuk merebut cadangan minyak terbesar di dunia milik negara soasilis tersebut.
Saat itu, Maduro meminta bantuan dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC). "Untuk membantu menghentikan agresi (Amerika Serikat) ini, yang sedang dipersiapkan dengan kekuatan yang semakin besar," kata Maduro dalam surat untuk organisasi tersebut.
Baca Juga: Ini Respons Dunia usai AS Mengebom Venezuela dan Culik Maduro, Ada Juga Sikap Indonesia
Venezuela merupakan anggota OPEC. Surat Maduro saat itu dibacakan Wakil Presiden Delcy Rodriguez, yang juga merupakan menteri perminyakan Venezuela, dalam pertemuan virtual para menteri OPEC.
"Washington berusaha merebut cadangan minyak Venezuela yang sangat besar, yang terbesar di dunia, dengan menggunakan kekuatan militer," lanjut surat Maduro.
Apa yang disampaikan Maduro itu tidak salah. Presiden AS Donald Trump, dalam konferensi pers beberapa jam setelah penangkapan Maduro, mengatakan Washington akan menjalankan negara Venezuela, dan dengan demikian, AS sekarang berkuasa atas negara pemilik cadangan minyak terbesar di dunia tersebut.
“Kita akan menjalankan negara ini sampai saatnya kita dapat melakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana,” kata Trump, yang berbicara dari resor Mar-a-Lago miliknya.
“Kita sudah sampai di sana sekarang...kita akan tetap di sini sampai saatnya transisi yang tepat dapat dilakukan," katanya lagi.
Soal minyak, Trump mengakui akan mengelola kekayaan Venezuela yang melimpah itu melalui perusahaan AS.
“Kita akan meminta perusahaan minyak AS kita yang sangat besar, yang terbesar di dunia, untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak, dan mulai menghasilkan uang untuk negara ini dan kita siap untuk melancarkan serangan kedua dan jauh lebih besar jika perlu. Jadi kita siap untuk melakukan gelombang kedua,” imbuh dia.
Menurut data negara-negara penghasil minyak, Venezuela memang tercatat sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia—303 miliar barel. Disusul oleh Arab Saudi 267 miliar barel, Iran 208 miliar barel, Irak 145 miliar barel, Uni Emirat Arab (UEA) 113 miliar barel, Kuwait 101 miliar barel, Rusia 80 miliar barel, Amerika Serikat 55 miliar barel, Libya 48 miliar barel, dan Nigeria 37 miliar barel.
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Venezuela Diosdado Cabello Rondon mengatakan kepada pasukan negara itu untuk “mempercayai kepemimpinan". Sedangkan Menteri Luar Negeri Yvan Gil menuduh Washington berusaha untuk mendapatkan kendali atas sumber daya alam negara Amerika Latin tersebut.
Banyak video telah muncul yang menunjukkan serangkaian ledakan hebat di seluruh Caracas. Rekaman yang menunjukkan serangan di dua bagian lain negara itu juga telah dilokalisasi secara geografis. Satu klip menampilkan garis besar beberapa helikopter militer Chinook AS yang terbang rendah di atas kota.
Dalam sebuah pernyataan, Rusia mengecam agresi AS, menyerukan klarifikasi segera tentang keberadaan Maduro dan menyesalkan bahwa permusuhan ideologis telah mengalahkan pragmatisme bisnis.
Senator Amerika Mike Lee mengumumkan di akun X-nya bahwa Menteri Luar Negeri Marco Rubio telah mengatakan kepadanya bahwa Washington tidak memperkirakan adanya operasi militer lebih lanjut saat ini dan bahwa presiden Venezuela Nicolas Maduro akan diadili di AS.
Beberapa negara Barat telah menyatakan keprihatinan dan mengeklaim bahwa mereka memantau perkembangan dengan tim diplomatik mereka di ibu kota Venezuela.
Sebelumnya, Trump mengatakan banyak warga Kuba tewas selama operasi AS untuk menangkap Maduro tanpa memberikan detail lebih lanjut.
“Kuba selalu sangat bergantung pada Venezuela. Di sanalah mereka mendapatkan uang mereka, dan mereka melindungi Venezuela, tetapi itu tidak berjalan dengan baik dalam kasus ini,” kata Trump kepada New York Post pada hari Sabtu tanpa menjelaskan siapa orang-orang yang dimaksud.
Menurutnya, tidak ada anggota militer AS yang tewas selama penangkapan Maduro.
Dia juga mengatakan bahwa pihaknya tidak mempertimbangkan tindakan militer terhadap Kuba. "Kuba akan jatuh dengan sendirinya," ujarnya.
Jauh hari sebelum ditangkap pasukan khusus AS, lebih tepatnya awal Desember 2025, Presiden Maduro mengungkap bahwa AS ingin menginvasi Venezuela dengan tujuan untuk merebut cadangan minyak terbesar di dunia milik negara soasilis tersebut.
Saat itu, Maduro meminta bantuan dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC). "Untuk membantu menghentikan agresi (Amerika Serikat) ini, yang sedang dipersiapkan dengan kekuatan yang semakin besar," kata Maduro dalam surat untuk organisasi tersebut.
Baca Juga: Ini Respons Dunia usai AS Mengebom Venezuela dan Culik Maduro, Ada Juga Sikap Indonesia
Venezuela merupakan anggota OPEC. Surat Maduro saat itu dibacakan Wakil Presiden Delcy Rodriguez, yang juga merupakan menteri perminyakan Venezuela, dalam pertemuan virtual para menteri OPEC.
"Washington berusaha merebut cadangan minyak Venezuela yang sangat besar, yang terbesar di dunia, dengan menggunakan kekuatan militer," lanjut surat Maduro.
Apa yang disampaikan Maduro itu tidak salah. Presiden AS Donald Trump, dalam konferensi pers beberapa jam setelah penangkapan Maduro, mengatakan Washington akan menjalankan negara Venezuela, dan dengan demikian, AS sekarang berkuasa atas negara pemilik cadangan minyak terbesar di dunia tersebut.
“Kita akan menjalankan negara ini sampai saatnya kita dapat melakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana,” kata Trump, yang berbicara dari resor Mar-a-Lago miliknya.
“Kita sudah sampai di sana sekarang...kita akan tetap di sini sampai saatnya transisi yang tepat dapat dilakukan," katanya lagi.
Soal minyak, Trump mengakui akan mengelola kekayaan Venezuela yang melimpah itu melalui perusahaan AS.
“Kita akan meminta perusahaan minyak AS kita yang sangat besar, yang terbesar di dunia, untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak, dan mulai menghasilkan uang untuk negara ini dan kita siap untuk melancarkan serangan kedua dan jauh lebih besar jika perlu. Jadi kita siap untuk melakukan gelombang kedua,” imbuh dia.
Menurut data negara-negara penghasil minyak, Venezuela memang tercatat sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia—303 miliar barel. Disusul oleh Arab Saudi 267 miliar barel, Iran 208 miliar barel, Irak 145 miliar barel, Uni Emirat Arab (UEA) 113 miliar barel, Kuwait 101 miliar barel, Rusia 80 miliar barel, Amerika Serikat 55 miliar barel, Libya 48 miliar barel, dan Nigeria 37 miliar barel.
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Venezuela Diosdado Cabello Rondon mengatakan kepada pasukan negara itu untuk “mempercayai kepemimpinan". Sedangkan Menteri Luar Negeri Yvan Gil menuduh Washington berusaha untuk mendapatkan kendali atas sumber daya alam negara Amerika Latin tersebut.
Banyak video telah muncul yang menunjukkan serangkaian ledakan hebat di seluruh Caracas. Rekaman yang menunjukkan serangan di dua bagian lain negara itu juga telah dilokalisasi secara geografis. Satu klip menampilkan garis besar beberapa helikopter militer Chinook AS yang terbang rendah di atas kota.
Dalam sebuah pernyataan, Rusia mengecam agresi AS, menyerukan klarifikasi segera tentang keberadaan Maduro dan menyesalkan bahwa permusuhan ideologis telah mengalahkan pragmatisme bisnis.
Senator Amerika Mike Lee mengumumkan di akun X-nya bahwa Menteri Luar Negeri Marco Rubio telah mengatakan kepadanya bahwa Washington tidak memperkirakan adanya operasi militer lebih lanjut saat ini dan bahwa presiden Venezuela Nicolas Maduro akan diadili di AS.
Beberapa negara Barat telah menyatakan keprihatinan dan mengeklaim bahwa mereka memantau perkembangan dengan tim diplomatik mereka di ibu kota Venezuela.
Sebelumnya, Trump mengatakan banyak warga Kuba tewas selama operasi AS untuk menangkap Maduro tanpa memberikan detail lebih lanjut.
“Kuba selalu sangat bergantung pada Venezuela. Di sanalah mereka mendapatkan uang mereka, dan mereka melindungi Venezuela, tetapi itu tidak berjalan dengan baik dalam kasus ini,” kata Trump kepada New York Post pada hari Sabtu tanpa menjelaskan siapa orang-orang yang dimaksud.
Menurutnya, tidak ada anggota militer AS yang tewas selama penangkapan Maduro.
Dia juga mengatakan bahwa pihaknya tidak mempertimbangkan tindakan militer terhadap Kuba. "Kuba akan jatuh dengan sendirinya," ujarnya.
(mas)
Lihat Juga :