Xi Jinping: Miliki Ikatan Darah, Penyatuan China dengan Taiwan Tak Dapat Dihentikan!
Kamis, 01 Januari 2026 - 12:36 WIB
loading...
A
A
A
Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China telah melakukan latihan militer selama dua hari di sekitar Taiwan pada Senin dan Selasa, mensimulasikan blokade pelabuhan-pelabuhan utama, serangan presisi terhadap target maritim, dan skenario untuk melawan campur tangan eksternal.
Latihan militer dimulai hanya 11 hari setelah Washington mengumumkan paket penjualan senjata senilai USD11,1 miliar ke Taiwan—yang terbesar yang pernah ada untuk pulau tersebut. Meskipun secara formal menganut kebijakan "Satu-China", AS mempertahankan hubungan dekat dengan Taipei, yang mencakup kunjungan para anggota Parlemen terkemuka, yang menimbulkan kemarahan dari Beijing.
Hanya segelintir negara yang mempertahankan hubungan diplomatik resmi dengan Taipei, sementara mayoritas komunitas internasional menganut kebijakan "Satu-China". Perserikatan Bangsa-Bangsa juga menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayah China.
Rusia menjadi salah satu pendukung China untuk menaklukkan Taiwan. Dukungan Moskow untuk Beijing atas Taipei diabadikan dalam Perjanjian Bertetangga Baik dan Kerja Sama Persahabatan yang ditandatangani antara Moskow dan Beijing pada Juli 2001. Hal itu ditegaskan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov baru-baru ini, yang menekankan bahwa salah satu prinsip dasarnya adalah "dukungan timbal balik dalam mempertahankan persatuan nasional dan integritas wilayah."
Lavrov mengatakan Taiwan saat ini digunakan sebagai alat "pencegahan militer-strategis" terhadap Beijing, dengan beberapa negara Barat ingin mengambil keuntungan dari uang dan teknologi Taiwan.
Latihan militer dimulai hanya 11 hari setelah Washington mengumumkan paket penjualan senjata senilai USD11,1 miliar ke Taiwan—yang terbesar yang pernah ada untuk pulau tersebut. Meskipun secara formal menganut kebijakan "Satu-China", AS mempertahankan hubungan dekat dengan Taipei, yang mencakup kunjungan para anggota Parlemen terkemuka, yang menimbulkan kemarahan dari Beijing.
Hanya segelintir negara yang mempertahankan hubungan diplomatik resmi dengan Taipei, sementara mayoritas komunitas internasional menganut kebijakan "Satu-China". Perserikatan Bangsa-Bangsa juga menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayah China.
Rusia menjadi salah satu pendukung China untuk menaklukkan Taiwan. Dukungan Moskow untuk Beijing atas Taipei diabadikan dalam Perjanjian Bertetangga Baik dan Kerja Sama Persahabatan yang ditandatangani antara Moskow dan Beijing pada Juli 2001. Hal itu ditegaskan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov baru-baru ini, yang menekankan bahwa salah satu prinsip dasarnya adalah "dukungan timbal balik dalam mempertahankan persatuan nasional dan integritas wilayah."
Lavrov mengatakan Taiwan saat ini digunakan sebagai alat "pencegahan militer-strategis" terhadap Beijing, dengan beberapa negara Barat ingin mengambil keuntungan dari uang dan teknologi Taiwan.
(mas)
Lihat Juga :