Suriah Merapat ke Rusia, 2 Menteri Temui Putin di Moskow
Rabu, 24 Desember 2025 - 14:03 WIB
loading...
Menlu Suriah Asaad Hassan al-Shibani. Foto/anadolu
A
A
A
MOSKOW - Pemerintah Suriah kembali menegaskan kedekatannya dengan Rusia. Dalam pertemuan penting di Moskow, Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan Suriah bertemu langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membahas penguatan kerja sama strategis, terutama di bidang militer dan pertahanan.
Pertemuan ini menjadi sinyal kuat bahwa hubungan Damaskus–Moskow tetap solid di tengah perubahan politik besar yang sedang dialami Suriah.
Menurut laporan media pemerintah Suriah yang dikutip Al Jazeera, pembicaraan tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari politik, ekonomi, hingga kerja sama militer-teknis.
Fokus utamanya adalah bagaimana Rusia dapat membantu meningkatkan kemampuan militer Suriah melalui modernisasi persenjataan dan pengembangan industri pertahanan.
“Selama pertemuan itu, kedua pihak meninjau cara untuk memajukan kemitraan militer dan teknis dengan cara yang memperkuat kemampuan defensif Tentara Arab Suriah dan mengikuti perkembangan modern dalam industri militer,” ungkap laporan kantor berita resmi Suriah, SANA.
Kerja sama ini dinilai krusial bagi Suriah, yang masih berupaya menstabilkan negaranya setelah lebih dari satu dekade konflik berkepanjangan.
Rusia, yang selama ini menjadi sekutu militer utama Damaskus, dipandang sebagai mitra strategis yang mampu menopang kekuatan pertahanan Suriah di tengah dinamika geopolitik kawasan.
Selain isu militer, pertemuan tersebut juga menyoroti pentingnya koordinasi politik dan diplomatik antara kedua negara.
Rusia kembali menegaskan dukungannya terhadap kedaulatan dan keutuhan wilayah Suriah, serta mengecam berbagai pelanggaran yang terus terjadi di wilayah negara tersebut.
Sikap ini mempertegas posisi Moskow sebagai pelindung utama kepentingan Suriah di panggung internasional.
Hubungan erat ini tidak muncul secara tiba-tiba. Dalam pertemuan sebelumnya dengan pejabat Rusia, Menteri Luar Negeri Suriah Asaad Hassan al-Shibani secara terbuka menegaskan harapan Damaskus terhadap Moskow.
“Suriah ingin Rusia ‘di sisi kami’ sepanjang jalan ini,” ujarnya, menggambarkan betapa strategisnya peran Rusia bagi masa depan Suriah.
Kunjungan para menteri Suriah ke Moskow juga terjadi di tengah masa transisi politik setelah lengsernya Bashar al-Assad pada akhir 2024.
Meski Assad dan keluarganya kini berada di Rusia, Moskow tetap berupaya membangun hubungan yang konstruktif dengan pemerintahan baru di Damaskus.
Presiden Suriah saat ini, Ahmed al-Sharaa, sebelumnya bahkan menegaskan komitmen menghormati perjanjian-perjanjian lama yang telah disepakati dengan Rusia.
Hal ini memunculkan spekulasi bahwa keberadaan pangkalan militer Rusia di Suriah akan tetap dipertahankan, terlepas dari perubahan kepemimpinan politik.
Bagi Rusia, Suriah tetap menjadi titik strategis penting di Timur Tengah, baik secara militer maupun geopolitik.
Secara keseluruhan, pertemuan di Moskow ini menunjukkan hubungan Suriah dan Rusia bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan aliansi yang terus diperbarui dan disesuaikan dengan realitas baru.
Di tengah ketidakpastian regional dan tekanan internasional, Damaskus dan Moskow tampak berupaya memastikan kemitraan mereka tetap menjadi pilar utama stabilitas dan kepentingan bersama.
Pertemuan ini sekaligus mengirim pesan jelas ke dunia: Suriah belum berpaling dari Rusia, dan Rusia belum meninggalkan Suriah.
Baca juga: Trump Jelaskan Mengapa AS Butuh Greenland
Pertemuan ini menjadi sinyal kuat bahwa hubungan Damaskus–Moskow tetap solid di tengah perubahan politik besar yang sedang dialami Suriah.
Menurut laporan media pemerintah Suriah yang dikutip Al Jazeera, pembicaraan tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari politik, ekonomi, hingga kerja sama militer-teknis.
Fokus utamanya adalah bagaimana Rusia dapat membantu meningkatkan kemampuan militer Suriah melalui modernisasi persenjataan dan pengembangan industri pertahanan.
“Selama pertemuan itu, kedua pihak meninjau cara untuk memajukan kemitraan militer dan teknis dengan cara yang memperkuat kemampuan defensif Tentara Arab Suriah dan mengikuti perkembangan modern dalam industri militer,” ungkap laporan kantor berita resmi Suriah, SANA.
Kerja sama ini dinilai krusial bagi Suriah, yang masih berupaya menstabilkan negaranya setelah lebih dari satu dekade konflik berkepanjangan.
Rusia, yang selama ini menjadi sekutu militer utama Damaskus, dipandang sebagai mitra strategis yang mampu menopang kekuatan pertahanan Suriah di tengah dinamika geopolitik kawasan.
Selain isu militer, pertemuan tersebut juga menyoroti pentingnya koordinasi politik dan diplomatik antara kedua negara.
Rusia kembali menegaskan dukungannya terhadap kedaulatan dan keutuhan wilayah Suriah, serta mengecam berbagai pelanggaran yang terus terjadi di wilayah negara tersebut.
Sikap ini mempertegas posisi Moskow sebagai pelindung utama kepentingan Suriah di panggung internasional.
Hubungan erat ini tidak muncul secara tiba-tiba. Dalam pertemuan sebelumnya dengan pejabat Rusia, Menteri Luar Negeri Suriah Asaad Hassan al-Shibani secara terbuka menegaskan harapan Damaskus terhadap Moskow.
“Suriah ingin Rusia ‘di sisi kami’ sepanjang jalan ini,” ujarnya, menggambarkan betapa strategisnya peran Rusia bagi masa depan Suriah.
Kunjungan para menteri Suriah ke Moskow juga terjadi di tengah masa transisi politik setelah lengsernya Bashar al-Assad pada akhir 2024.
Meski Assad dan keluarganya kini berada di Rusia, Moskow tetap berupaya membangun hubungan yang konstruktif dengan pemerintahan baru di Damaskus.
Presiden Suriah saat ini, Ahmed al-Sharaa, sebelumnya bahkan menegaskan komitmen menghormati perjanjian-perjanjian lama yang telah disepakati dengan Rusia.
Hal ini memunculkan spekulasi bahwa keberadaan pangkalan militer Rusia di Suriah akan tetap dipertahankan, terlepas dari perubahan kepemimpinan politik.
Bagi Rusia, Suriah tetap menjadi titik strategis penting di Timur Tengah, baik secara militer maupun geopolitik.
Secara keseluruhan, pertemuan di Moskow ini menunjukkan hubungan Suriah dan Rusia bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan aliansi yang terus diperbarui dan disesuaikan dengan realitas baru.
Di tengah ketidakpastian regional dan tekanan internasional, Damaskus dan Moskow tampak berupaya memastikan kemitraan mereka tetap menjadi pilar utama stabilitas dan kepentingan bersama.
Pertemuan ini sekaligus mengirim pesan jelas ke dunia: Suriah belum berpaling dari Rusia, dan Rusia belum meninggalkan Suriah.
Baca juga: Trump Jelaskan Mengapa AS Butuh Greenland
(sya)
Lihat Juga :