Rudal-rudal Rusia Serang Pelabuhan Ukraina, 8 Orang Tewas, 27 Lainnya Terluka

Minggu, 21 Desember 2025 - 06:13 WIB
loading...
Rudal-rudal Rusia Serang...
Serangan sejumlah rudal balistik Rusia menghantam pelabuhan di Odesa, Ukraina. Sebanyak 8 orang tewas dan 27 lainnya terluka. Foto/Layanan Darurat Negara Ukraina via TRT World
A A A
KYIV - Serangan rudal-rudal balistik Rusia telah menghancurkan infrastruktur pelabuhan di Odesa, Ukraina selatan, pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari. Layanan darurat Ukraina mengatakan serangan tersebut menewaskan delapan orang dan melukai 27 orang lainnya.

Beberapa dari mereka yang terluka di Odesa berada di dalam bus. Truk-truk terbakar di tempat parkir dan mobil-mobil juga rusak.

Kepala wilayah Odesa, Oleh Kiper, mengatakan pelabuhan tersebut dihantam rudal balistik.

Baca Juga: Ukraina Klaim Serang Pangkalan Rusia, Jet Tempur MiG-31 hingga Sistem Rudal Pantsir-2 Hancur

Moskow tidak segera mengakui laporan serangan tersebut. Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan pada hari Sabtu bahwa pada hari sebelumnya, mereka telah menyerang infrastruktur transportasi dan penyimpanan yang digunakan oleh angkatan bersenjata Ukraina, bersama dengan fasilitas energi dan fasilitas yang memasok upaya perang Kyiv.

Sementara itu, Staf Umum Ukraina mengatakan pada hari Sabtu bahwa drone-drone Ukraina menghantam anjungan minyak Rusia, kapal patroli militer Okhotnik, dan fasilitas lainnya. Disebutkan bahwa kapal tersebut sedang berpatroli di Laut Kaspia dekat platform produksi minyak dan gas. Menurut staf tersebut, luasnya kerusakan masih sedang diklarifikasi.

Platform pengeboran di ladang minyak dan gas Filanovsky juga terkena serangan. Fasilitas tersebut dioperasikan oleh raksasa minyak Rusia; Lukoil. Lebih lanjut, drone-drone Ukraina turut menyerang sistem radar di wilayah Krasnosilske di Crimea, yang secara ilegal dianeksasi Rusia dari Ukraina pada tahun 2014.

Tidak ada komentar langsung dari pemerintah Rusia maupun Lukoil. Perusahaan tersebut adalah salah satu dari dua perusahaan minyak besar Rusia—bersama dengan Gazprom milik negara—yang baru-baru ini dikenai sanksi AS dengan bertujuan untuk merampas pendapatan ekspor minyak Moskow yang membantunya mempertahankan perang.

Kyiv telah menggunakan argumen serupa untuk membenarkan serangan jarak jauh selama berbulan-bulan terhadap infrastruktur minyak Rusia, yang menurut mereka mendanai dan secara langsung memicu invasi besar-besaran Kremlin, yang hampir berlangsung empat tahun.

Ketika aksi saling serang itu terjadi, seorang utusan Rusia dijadwalkan untuk melakukan perjalanan ke Florida untuk pembicaraan tentang rencana yang diusulkan Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina.

Diskusi tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintahan Presiden AS Donald Trump selama berbulan-bulan untuk mencapai perdamaian yang juga mencakup pertemuan dengan pejabat Ukraina dan Eropa di Berlin awal pekan ini. Kepala negosiator Ukraina mengatakan pada Jumat malam bahwa delegasinya telah menyelesaikan pertemuan terpisah di AS dengan mitra Amerika dan Eropa.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan banyak hal akan bergantung pada sikap AS setelah diskusi dengan Rusia.

Berbicara pada konferensi pers di Kyiv bersama Perdana Menteri Portugal Luís Montenegro, Zelensky mengatakan, "pertanyaan kuncinya tetap bagaimana Amerika Serikat menanggapi setelah konsultasi dengan Rusia. Pada titik ini, jujur saja saya tidak tahu, tetapi saya akan mengetahuinya nanti hari ini."

Zelensky mengatakan Ukraina dan Portugal menandatangani perjanjian untuk membangun produksi bersama drone maritim. "Ini adalah salah satu bidang kerja sama pertahanan yang paling menjanjikan. Yang penting sekarang adalah memberikan hasil, dan semua bagian Eropa harus memiliki kemampuan yang cukup untuk melawan ancaman apa pun," katanya, seperti dikutip dari CBS, Minggu (21/12/2025).
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
10 Mata-mata Perang...
10 Mata-mata Perang Dingin yang Tak Pernah Takut Mati
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
Hongaria Bersihkan Jaringan...
Hongaria Bersihkan Jaringan Viktor Orban, Ini 3 Alasan Rusia Akan Kehilangan Aliansi Utama
Rusia Tuding NATO Akan...
Rusia Tuding NATO Akan Gelar Operasi Barbarossa Hitler pada 2030, Apakah Akan Berhasil?
Rusia Tembak Jatuh 80...
Rusia Tembak Jatuh 80 Drone Ukraina, Kremlin Luncurkan Rudal Balistik Iskander
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
PM Inggris Keir Starmer...
PM Inggris Keir Starmer Dilaporkan Akan Mengundurkan Diri pada Senin
Hampir Setengah Warga...
Hampir Setengah Warga Israel Dukung Serangan ke Lebanon meski Harus Melawan Trump
Rekomendasi
Digugat Roy Suryo soal...
Digugat Roy Suryo soal Penggeledahan, Polda Metro Jaya Siap Hadir
DPC Rampung di 9 Kecamatan,...
DPC Rampung di 9 Kecamatan, Partai Perindo Tubaba Tancap Gas Bentuk DPRt
Presiden Prabowo: Saya...
Presiden Prabowo: Saya Tahu Siapa yang Bayar Demo
Berita Terkini
Menlu AS Jual Kesepakatan...
Menlu AS Jual Kesepakatan Damai dengan Iran ke Negara-negara Arab
Israel Anggap Turki...
Israel Anggap Turki Lebih Berbahaya Dibandingkan Iran
Trump Kecam Pemungutan...
Trump Kecam Pemungutan Suara Senat untuk Batasi Kewenangannya dalam Perang Iran
10 Mata-mata Perang...
10 Mata-mata Perang Dingin yang Tak Pernah Takut Mati
Senat AS Sahkan Resolusi...
Senat AS Sahkan Resolusi Penghentian Perang Iran, Pukulan Telak bagi Trump
Trump Ungkap Dana Iran...
Trump Ungkap Dana Iran yang Dilepaskan akan Digunakan untuk Beli Barang-barang AS
Infografis
8 Helikopter Serang...
8 Helikopter Serang Tercanggih pada 2025, Salah Satunya Apache
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved