Rudal Hipersonik Dark Eagle AS Diklaim Mampu Tembus S-500 Rusia dan Hantam Beijing dalam 20 Menit

Jum'at, 19 Desember 2025 - 11:05 WIB
loading...
A A A
Seperti halnya sistem ATACMS, pada akhirnya dimungkinkan untuk mengangkut peluncur Dark Eagle dan kendaraan pendukung ke titik mana pun di dunia, memprogram sistem dengan koordinat target saat terbang, dan segera meluncurkan rudal saat mendarat.

Karena rudal tersebut tidak mudah dicegat oleh sistem pertahanan udara yang ada, ia sangat cocok untuk serangan pendahuluan (pre-emptive) terhadap aset pertahanan udara musuh dan infrastruktur komando dan kendali.

Baik Rusia maupun China telah mengembangkan senjata hipersonik yang diluncurkan dari permukaan, tetapi tidak satu pun dari negara tersebut yang telah mengerahkan senjata hipersonik yang secara konseptual identik dengan Dark Eagle.

Oreshnik Rusia, misalnya, juga merupakan rudal balistik jarak menengah yang mampu mencapai kecepatan hipersonik, tetapi dioptimalkan untuk membanjiri sistem pertahanan udara musuh menggunakan beberapa kendaraan masuk kembali yang dapat ditargetkan secara independen (MIRV). Sebaliknya, Dark Eagle memprioritaskan presisi dan dampak kinetik, mengandalkan kemampuannya untuk menembus pertahanan udara daripada mengalahkannya.

Rudal hipersonik DF-17 China dikembangkan terutama untuk misi serangan darat presisi, seperti melemahkan pertahanan udara dan rudal musuh atau menyerang target tetap seperti pangkalan militer AS di Pasifik Barat.

Seperti Dark Eagle, rudal DF-17 China dirancang untuk menghindari pertahanan udara melalui kecepatan dan kemampuan manuver hipersonik. Namun, jangkauannya yang lebih terbatas membuatnya kurang serbaguna.

Menyoroti jangkauan Dark Eagle, seorang perwira yang mempresentasikan sistem rudal tersebut kepada Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyatakan bahwa jangkauannya akan memungkinkan rudal tersebut untuk menyerang "daratan China dari Guam, Moskow dari London, dan Teheran dari Qatar."

Secara konseptual, Dark Eagle yang dipersenjatai secara konvensional dapat digambarkan sebagai sistem senjata yang dirancang untuk melemahkan kemampuan pencegahan musuh—baik konvensional maupun nuklir. Pada dasarnya, ini adalah senjata yang dirancang untuk memungkinkan AS berperang dan memenangkan peperangan di bawah payung perlindungan pencegahan nuklir.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran Tegaskan Belum...
Iran Tegaskan Belum Ada Kesepakatan Akhir dengan AS
Terungkap, Pokemon Go...
Terungkap, Pokemon Go Bantu Militer AS Petakan Dunia
Ayatollah Khamenei Sudah...
Ayatollah Khamenei Sudah Lebih dari 100 Hari Meninggal, Iran Tunda Lagi Penguburannya
Beda dengan Pejabat...
Beda dengan Pejabat Eropa, Jenderal Senior NATO Ini Sebut Rusia Tak Mencari Konflik
Elon Musk Triliuner...
Elon Musk Triliuner Pertama di Dunia, Kekayaannya Rp19.706,5 Triliun Setara 73 Kali Anggaran MBG
Berseteru dengan PM...
Berseteru dengan PM Starmer, Menhan Inggris John Healey Mundur
Pesona China yang Berbeda:...
Pesona China yang Berbeda: Eksplor Keunikan Infrastruktur Chongqing dan Alam Zhangjiajie
3 Pelaut India Tewas...
3 Pelaut India Tewas Akibat Serangan Kapal Tanker oleh AS di Lepas Pantai Oman
AS Ancam Serang Infrastruktur...
AS Ancam Serang Infrastruktur Iran, Presiden Pezeshkian: Mereka Putus Asa!
Rekomendasi
Kasus Erin Berbalik...
Kasus Erin Berbalik Arah? Bukti Psikologis Nur Disebut Untungkan Herawati
Traveloka Gelar Schooliday...
Traveloka Gelar Schooliday Sale, 46% Wisatawan RI Prioritaskan Biaya
Distributor di Kaltim...
Distributor di Kaltim Ikuti Factory Visit SIG untuk Perkuat Kemitraan
Berita Terkini
Netanyahu dan Trump...
Netanyahu dan Trump Bahas Nota Kesepahaman Mendatang dengan Iran
Iran Tegaskan Belum...
Iran Tegaskan Belum Ada Kesepakatan Akhir dengan AS
Terungkap, Pokemon Go...
Terungkap, Pokemon Go Bantu Militer AS Petakan Dunia
Inggris, Australia,...
Inggris, Australia, dan Kanada Luncurkan Dana untuk Dukung Upaya Solusi 2 Negara
Israel Jadi Negara yang...
Israel Jadi Negara yang Paling Banyak Diboikot di Dunia
Ayatollah Khamenei Sudah...
Ayatollah Khamenei Sudah Lebih dari 100 Hari Meninggal, Iran Tunda Lagi Penguburannya
Infografis
Pentagon: China Bisa...
Pentagon: China Bisa Hancurkan Semua Kapal Induk AS dalam 20 Menit
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved